ketika Uang Tunai Makin Jarang Dipakai

  • 09 Agt 2026 18:48 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Pernah pergi membeli makanan hanya membawa telepon genggam? Atau membayar parkir, belanja, hingga memesan makanan tanpa mengeluarkan uang kertas dari dompet?

Kebiasaan tersebut semakin mudah ditemui seiring berkembangnya sistem pembayaran digital di Indonesia. Masyarakat kini memiliki lebih banyak pilihan untuk bertransaksi, mulai dari uang elektronik, transfer melalui perbankan digital, hingga pembayaran menggunakan QRIS.

Bank Indonesia mencatat, volume transaksi pembayaran digital pada triwulan pertama 2026 mencapai 14,82 miliar transaksi. Angka tersebut tumbuh 37,69 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan juga terlihat pada transaksi QRIS yang meningkat 116,43 persen secara tahunan. Perkembangan ini menunjukkan semakin luasnya penerimaan masyarakat terhadap pembayaran digital.

Dalam laman resminya, Bank Indonesia menjelaskan bahwa elektronifikasi transaksi keuangan merupakan perubahan cara pembayaran dari tunai menjadi nontunai. Upaya tersebut menjadi bagian dari Gerakan Nasional Non Tunai atau GNNT yang dicanangkan Bank Indonesia.

"Elektronifikasi transaksi keuangan merupakan perubahan cara pembayaran yang semula menggunakan tunai menjadi nontunai," demikian penjelasan Bank Indonesia dalam laman resminya.

Perubahan cara bertransaksi tersebut tidak hanya terjadi di pusat perbelanjaan atau toko modern. Pedagang usaha mikro dan kecil juga semakin akrab dengan pembayaran digital. QRIS, misalnya, memungkinkan satu kode digunakan untuk menerima pembayaran dari berbagai aplikasi pembayaran yang telah terhubung dengan standar tersebut.

Bank Indonesia mencatat, hingga semester pertama 2025, QRIS telah menjangkau 57 juta pengguna dan 39,3 juta merchant. Sebanyak 93,16 persen merchant tersebut merupakan usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM. Pada periode yang sama, transaksi QRIS mencapai 6,05 miliar transaksi dengan nilai Rp579 triliun.

Meski pembayaran digital berkembang pesat, bukan berarti uang tunai sudah hilang dari kehidupan masyarakat. Bank Indonesia mencatat, Uang Kartal yang Diedarkan pada triwulan pertama 2026 masih tumbuh 8,59 persen secara tahunan menjadi Rp1.347 triliun.

Artinya, Indonesia belum sepenuhnya menjadi masyarakat tanpa uang tunai. Yang terjadi adalah perubahan pilihan cara membayar. Untuk sebagian kebutuhan, masyarakat merasa pembayaran digital lebih praktis, sementara uang tunai tetap digunakan dalam berbagai situasi.

Perubahan tersebut juga membuat kemampuan menjaga keamanan transaksi digital menjadi semakin penting. Bank Indonesia mengingatkan masyarakat untuk menjaga kerahasiaan data pribadi dan informasi keamanan transaksi ketika menggunakan layanan pembayaran digital.

Pada akhirnya, masyarakat tidak sedang benar-benar meninggalkan uang tunai. Mereka hanya memiliki semakin banyak pilihan dalam melakukan pembayaran. Dari uang kertas di dompet hingga kode QR di layar telepon genggam, cara masyarakat bertransaksi terus berubah mengikuti perkembangan teknologi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....