Grab Indonesia Tegaskan Fleksibilitas jadi Fondasi Ekosistem On-Demand

  • 01 Mar 2026 18:29 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Ekosistem layanan berbasis aplikasi (on-demand) dinilai menjadi salah satu penggerak penting ekonomi digital nasional. Dalam paparan bertajuk “Memahami Dinamika Sektor Platform Digital Melalui Ekosistem Grab” di Jakarta, 26 Februari 2026, Grab Indonesia menegaskan bahwa fleksibilitas merupakan fondasi utama model gig economy.

Chief Executive Officer Grab Indonesia, Neneng Goenadi, menyampaikan bahwa mayoritas mitra pengemudi memanfaatkan platform sebagai sumber penghasilan sampingan, sementara sebagian kecil menjadikannya sebagai nafkah utama. “Komposisi Mitra Pengemudi Roda 2 dan Roda 4 menunjukkan bahwa fleksibilitas adalah fondasi utama model on-demand. Mayoritas mitra memilih menjadikan platform sebagai penghasilan sampingan,” ujar Neneng dalam rilisnya, Minggu, 1 Maret 2026.

Grab mencatat, sejak hadir di Indonesia pada 2014, layanannya telah menjangkau lebih dari 300 kota dan kabupaten. Studi Institut Teknologi Bandung (2023) menunjukkan industri ride-hailing dan pengantaran online menyumbang Rp382,62 triliun atau 2 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tahun 2022. Grab sendiri disebut berkontribusi sekitar 50 persen di industri transportasi dan pengantaran online.

Ekosistem ini juga dinilai inklusif. Data internal per Desember 2025 mencatat total mitra pengemudi terdaftar mencapai 3,7 juta orang. Namun, mitra yang aktif menyelesaikan minimal satu pesanan per bulan berkisar 700–800 ribu orang atau sekitar 19–22 persen dari total terdaftar.

Menurut perusahaan, kondisi tersebut menunjukkan bahwa status terdaftar tidak identik dengan tingkat produktivitas, karena partisipasi bersifat fleksibel dan mengikuti kebutuhan masing-masing individu.

Grab menyebut sekitar satu dari dua mitra pengemudi sebelumnya merupakan korban pemutusan hubungan kerja (PHK) atau tidak memiliki sumber pendapatan. Lebih dari 50 persen mitra berusia di atas 36 tahun, dengan mayoritas berpendidikan SMA/SMK. Tercatat sekitar 182.500 mitra perempuan serta lebih dari 700 mitra penyandang disabilitas tergabung dalam platform ini.

Mayoritas mitra memanfaatkan Grab sebagai penghasilan sampingan. Lebih dari 80 persen Mitra Pengemudi Roda 2 dan sekitar 67 persen Mitra Pengemudi Roda 4 menjadikan platform ini sebagai sumber pendapatan tambahan.

Untuk kategori Mitra Pengemudi Roda 4, sekitar 10–11 persen menjadikan Grab sebagai nafkah utama dengan pendapatan di atas Rp10 juta per bulan dan rata-rata 11 order per hari. Sementara 21–22 persen berada pada kategori penghasilan rutin Rp4–10 juta per bulan dengan rata-rata tujuh order per hari.

Adapun pada kategori Mitra Pengemudi Roda 2, sekitar 1–2 persen menjadikan ojek online sebagai nafkah utama dengan pendapatan di atas Rp10 juta per bulan dan rata-rata lebih dari 28 order per hari. Sekitar 14–15 persen lainnya berada pada kategori penghasilan rutin Rp4–10 juta per bulan.

Sejalan dengan komitmen “Grab untuk Indonesia”, perusahaan meluncurkan program apresiasi “Perjalanan Bermakna dengan Umrah Gratis” bagi 105 mitra pengemudi berprestasi pada momen Ramadan.

Program ini diawali dengan pemberian simbolis kepada lima mitra inspiratif, dan selanjutnya akan diberikan kepada 100 mitra lainnya.

“Melalui program ini, Grab menyediakan 105 paket umrah sebagai bentuk penghormatan atas kebaikan dan perjuangan para mitra,” kata Neneng.

Grab menegaskan akan terus menjaga fleksibilitas yang adil dan proporsional dalam kebijakan kemitraan, dengan harapan pertumbuhan ekonomi digital Indonesia tidak hanya meningkat, tetapi juga semakin inklusif dan berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....