Kurs Dolar Bergejolak, Produsen Plastik Perkuat Hedging
- 10 Jun 2026 12:18 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak dunia menjadi tantangan bagi industri plastik nasional. Kondisi tersebut juga berdampak pada nilai tukar rupiah yang mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat.
Bagi industri plastik, kenaikan harga minyak menjadi perhatian utama karena sebagian besar bahan bakunya berasal dari produk turunan minyak bumi. Selain itu, ketergantungan pada bahan baku impor membuat fluktuasi kurs turut memengaruhi biaya produksi.
Situasi tersebut turut dirasakan PT Asia Pramulia Tbk (Aspra). Perseroan menilai kenaikan harga minyak dan gejolak nilai tukar menjadi faktor yang perlu diantisipasi agar tidak mengganggu operasional perusahaan.
Direktur Keuangan PT Asia Pramulia Tbk, Arif, mengatakan perang di Timur Tengah dan gangguan distribusi akibat penutupan Selat Hormuz telah mendorong harga minyak mentah dunia naik signifikan. Harga minyak yang sebelumnya berada di kisaran US$80 per barel kini mencapai sekitar US$120 per barel.
“Plastik ini kan bahan bakunya dari minyak bumi. Otomatis itu mengerek harga bahan baku plastik tersebut dan juga adanya kelangkaan,” kata Arif dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan Tahun Buku 2025 dan Public Expose PT Asia Pramulia Tbk, Selasa, 9 jUNI 2026.
Menurutnya, kenaikan harga bahan baku menjadi tantangan yang harus dihadapi perusahaan. Di sisi lain, pelemahan rupiah terhadap dolar AS juga berpotensi meningkatkan biaya pengadaan bahan baku dari luar negeri.
Untuk menjaga kelancaran produksi, perseroan telah menyiapkan buffer stock bahan baku. Langkah tersebut dilakukan guna memastikan kebutuhan pelanggan tetap dapat terpenuhi meski terjadi gangguan pasokan di pasar global.
“Kita melakukan buffer stock sehingga stok kita untuk bahan baku itu masih aman untuk memenuhi permintaan dari pelanggan,” ujarnya.
Selain menjaga ketersediaan bahan baku, perusahaan juga melakukan mitigasi terhadap risiko nilai tukar. Perseroan memanfaatkan fasilitas lindung nilai atau hedging dari sejumlah perbankan.
“Untuk mengantisipasi naik atau fluktuasi nilai tukar rupiah, kita juga menggunakan fasilitas lindungi nilai dari beberapa bank. Jadi untuk saat ini kondisi ini masih bisa kita kontrol,” kata Arif.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, PT Aspra tetap optimistis terhadap prospek bisnis tahun ini. Perseroan melihat pertumbuhan segmen air minum dalam kemasan (AMDK) sebagai peluang yang terus berkembang.
Direktur Utama PT Aspra, Ricky Winoto, mengatakan semakin banyak merek baru yang masuk ke pasar AMDK. Kondisi itu membuka peluang bagi perusahaan sebagai produsen kemasan plastik.
“Banyak brand-brand baru yang mengeluarkan produk air minumnya sehingga itu merupakan opportunity buat kita selaku manufaktur untuk memproduksi kemasan-kemasan yang digunakan oleh mereka,” ujar Ricky.
Dengan dukungan pertumbuhan pasar tersebut, perseroan optimistis dapat mencapai target kinerja yang telah disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia. Perusahaan memproyeksikan pertumbuhan usaha tetap berada pada kisaran 20 hingga 30 persen tahun ini.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....