Terompet Penca Menjadi Identitas Budaya Lintas Generasi

  • 08 Sep 2026 07:23 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Terompet penca tidak sekadar menjadi pengiring kesenian tradisional Sunda, tetapi terus berkembang sebagai identitas budaya yang mampu menjembatani generasi, genre musik, bahkan menarik minat masyarakat mancanegara. Fenomena tersebut menjadi bagian dari upaya pelestarian seni tradisi Jawa Barat dan Banten melalui karya Ear Ku Kolear, yang digagas seniman Dede Yanto, S.Sn.

Dalam Suara Budaya Nusantara, berjaringan Pro 4 RRI Jakarta dan RRI Bandung, Senin 7 September 2026, Dede Yanto menjelaskan bahwa keberadaan terompet penca memiliki perjalanan panjang yang berkaitan erat dengan perkembangan kesenian pencak dan budaya masyarakat Sunda.

Menurut Dede, berdasarkan cerita yang berkembang dari para maestro terdahulu, terompet penca tumbuh seiring dengan berkembangnya kesenian kendang penca, yang telah dikenal sejak masa penjajahan. Kesenian tersebut pada awalnya juga menjadi bagian dari cara masyarakat Sunda mempelajari bela diri secara tersamar.

“Orang Sunda itu cerdiknya bagaimana belajar silat tapi tidak kelihatan. Sedang berlatih, iringannya adalah musik, dibungkus dengan jenis kesenian,” ujar Dede Yanto.

Dalam perkembangannya, terompet penca memiliki karakter suara yang kuat sehingga mampu terdengar dalam jarak yang jauh. Hal tersebut menjadi salah satu alasan alat musik tradisional ini memiliki peran penting dalam pertunjukan pencak dan berbagai kesenian masyarakat Sunda.

Dede juga menilai terompet penca mempunyai karakter yang fleksibel. Meskipun secara ideal digunakan untuk sajian musik Sunda, alat musik tersebut dapat memainkan berbagai jenis lagu, selama pemain memiliki kemampuan teknik serta penguasaan terhadap lagu yang dimainkan.

“Terompet bisa sangat fleksibel memainkan lagu apa pun, tergantung kemampuan pemainnya, apakah mampu memainkan atau memiliki hafalan lagu tersebut,” jelasnya.

Fleksibilitas tersebut membuat terompet penca tidak hanya terbatas pada lagu-lagu Sunda. Dede mengungkapkan bahwa dirinya juga melakukan eksplorasi terhadap lagu Jawa hingga lagu-lagu Barat menggunakan terompet penca.

Hal serupa terlihat ketika terompet penca digunakan dalam perkembangan musik dangdut di Jawa Barat. Menurut Dede, terompet dapat mengambil peran melodi yang biasanya dimainkan instrumen lain, meskipun dalam praktiknya keberadaan terompet penca masih kerap sekadar menjadi pelengkap pertunjukan.

“Jangan sampai main terompet dalam berbagai genre musik hanya tempelan saja, tetapi mudah-mudahan menjadi nilai edukasi yang betul-betul dipelajari,” tegas Dede.

Di sisi lain, perkembangan terompet penca juga mulai melibatkan generasi muda, termasuk dalam bidang pembuatan alat musiknya. Dede menyebut semakin berkembangnya populasi terompet penca di Jawa Barat turut mendorong munculnya pengrajin-pengrajin muda yang mempelajari proses pembuatan alat musik tersebut.

Upaya memperkenalkan terompet penca bahkan telah menjangkau masyarakat internasional. Dede mengatakan, selama sekitar tiga tahun, terdapat warga negara asing yang secara rutin datang ke Bandung untuk mempelajari musik tradisional tersebut, termasuk rencana kedatangan peserta dari Amsterdam pada Oktober mendatang.

Menurut Dede, kondisi tersebut menunjukkan bahwa seni tradisi memiliki peluang untuk berkembang lebih luas apabila dikelola, dipelajari, dan diperkenalkan secara berkelanjutan. Ia berharap karya Ear Ku Kolear dapat menjadi pintu awal untuk membawa terompet penca semakin dikenal, sekaligus memperkuat posisi budaya Jawa Barat di tengah perkembangan musik dunia.

“Harapan lebih luas itu adalah bagaimana budaya kita di Jawa Barat lebih kuat dan lebih terjaga lagi. Jangan sampai peluang yang bisa dijadikan pertunjukan justru diambil alih oleh bangsa asing,” ujar Dede Yanto.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....