Bawakan Lagu Daerah, Peserta Binrad Hadapi Momen Emosional dan Tantangan
- 15 Sep 2026 15:40 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Para peserta audisi Bintang Radio (Binrad) 2026 Satker RRI Surabaya pada putaran kedua berjalan lancar dan para peserta tampil maksimal meski diperhadapkan dengan tenggat waktu persiapan yang cukup singkat, yakni hanya sekitar satu minggu.
Dalam penampilannya, para peserta menemui berbagai tantangan di berbagai aspek seperti mematangkan lagu serta membawakan lagu daerah. Selain itu, pada audisi putaran dua kali ini juga menjadi momen berkesan dan penuh emosi yang dirasakan oleh para peserta.
Salah satu peserta, Maria Jeanice, mengaku sempat tidak menyangka akan lolos ke babak ini. Dengan waktu latihan efektif yang hanya sekitar tiga hari, Jenis membawakan lagu populer Sinaran milik Rossa yang memiliki bagian rap, serta lagu daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) berjudul Bolelebo.
“Jujur tantangannya awalnya Jenis enggak bisa expect bisa masuk tahap dua, tapi tiba-tiba lolos. Jadi malam itu juga Jenis baru belajarin, ada sekitar 3 harian belajarnya. Apalagi lagu yang Jenis pilih Sinaran-nya Rossa itu ada rap-nya,” ujar Jeanice saat diwawancara RRI usai lakoni Audisi Bintang Radio putaran 2, Selasa, 15 September 2026.
Remaja yang lahir dan besar di Surabaya tersebut memiliki garis keturunan dari Bajawa, (NTT), sempat khawatir terkait pelafalan bahasa daerah tersebut. Dirinya mengaku pada penampilannya kali ini banyak di bantu oleh orang tuanya khususnya dari segi pelafalan.
“Tiap malam latihan terus depan Papa Mama. Mereka terus menuntun aku gimana cara nyanyi yang benar. Terus karena lagu daerahnya Bolelebo dari NTT, jadi takut pelafalannya susah. Tapi ternyata karena Papa Mama asal sana juga, jadi puji Tuhan lancar,” ucapnya.
Penampilan Jeanice membawakan lagu Bolelebo terasa kian emosional seiring rasa prihatinnya atas bencana gempa yang tengah melanda wilayah NTT. Bagi Jenis, lagu yang bermakna kecintaan pada tanah air tersebut ia dedikasikan khusus untuk keluarga dan masyarakat di NTT.
“Jenis tadi emang nahan nangis sih, soalnya Bolelebo ini relate juga sama keadaan NTT di sana yang lagi gempa. Jadi takut terbawa suasana, nahan buat enggak nangis. Lagu ini soal kecintaan tanah air, jadi difokuskan dan didedikasikan buat keluarga atau teman-teman di NTT,” ucapnya.
Sementara itu, peserta lainnya, Jovan Cyanta, tampil membawakan lagu Malam Biru (Kasihku) karya Sandhy Sondoro serta lagu daerah khas Batak, Butet. Sebagai peserta asal Medan, Jovan mempersiapkan penampilannya secara matang, lengkap dengan kain ulos serta bimbingan khusus dari sang ibu.
“Lagunya yang pertama Malam Biru Kasihku dari Sandhy Sondoro, terus lagu yang kedua Butet lagu khas Batak. Karena asli Medan, makanya ini sudah siap banget dengan ulosnya yang di-prepare sama Mama. Jadi sebuah privilege sih karena di list lagu pilihan ada lagu Butet. Bisa belajar dari Mama juga soal arti lagu, pelafalan, sampai improve yang khas Batak,” ucap Jovan.
Meski membawakan lagu daerah asal sendiri, Jovan mengaku tantangan terbesarnya berada pada kontrol emosi dan penguasaan panggung agar performanya tidak terbawa suasana adrenalin yang meninggi dan berupaya untuk tetap terukur dalam menyampaikan pesan lagu dengan baik.
“Jujur tantangannya ada, karena di atas panggung pasti adrenalin naik. Takutnya malah terlalu much atau kurang. Jadi kita harus tahan egonya supaya nyanyiannya tetap dapat ke penonton. Harapannya semoga apa yang ditampilkan bisa bikin juri terkesima dan lolos ke babak selanjutnya untuk membawa nama Surabaya semakin tinggi,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....