Maulid Nabi Jadi Ruang Pelestarian Tradisi Budaya Daerah

  • 31 Agt 2026 00:36 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak hanya menjadi momentum keagamaan, tetapi juga berkembang sebagai bagian dari tradisi masyarakat di berbagai daerah. Hal tersebut menjadi pembahasan dalam program Dialog Kita Indonesia yang disiarkan RRI Surabaya pada Jumat, 28 Agustus 2026, bersama Agus Machfud Fauzi, Koordinator Program Studi Sosiologi FISIPOL UNESA.

Agus menjelaskan bahwa secara sosiologis, peringatan Maulid Nabi merupakan bentuk semangat dan rasa syukur umat Muslim di Indonesia atas kelahiran Nabi Muhammad SAW. Rasa syukur tersebut diwujudkan melalui berbagai tradisi lokal yang berkembang sesuai dengan karakter masyarakat di masing-masing daerah.

Menurut Agus, keberagaman tradisi dapat terlihat melalui perayaan Maulid Nabi di sejumlah wilayah. Di Yogyakarta dan Solo terdapat tradisi Sekaten serta simbol budaya seperti kebo bule, sementara masyarakat Cirebon mengenal tradisi Panjang Jimat.

Tradisi serupa juga berkembang di daerah lain, seperti endog-endogan di Banyuwangi yang dilakukan masyarakat, khususnya suku Osing, dengan telur yang dihias dan ditempatkan pada jodang. Di Kalimantan Selatan, masyarakat memiliki tradisi Baayun Maulid sebagai salah satu bentuk peringatan Maulid Nabi.

Dalam pemaparannya, Agus menyampaikan, "Peringatan Maulid Nabi merupakan bentuk semangat dan rasa syukur umat Muslim di Indonesia atas kelahiran Nabi Muhammad SAW yang diwujudkan melalui tradisi lokal daerah masing-masing." Menurutnya, keberagaman tersebut menunjukkan adanya hubungan antara praktik keagamaan dan kebudayaan masyarakat.

Agus juga membahas keterlibatan generasi muda, khususnya Gen Z, dalam memperingati Maulid Nabi di era digital. Menurutnya, generasi muda dapat berpartisipasi dengan memanfaatkan media sosial, termasuk menjadikan berbagai tradisi sebagai konten serta mengikuti kajian melalui platform digital seperti YouTube dan Instagram.

Ia menjelaskan bahwa digitalisasi juga membuka peluang bagi masyarakat, termasuk generasi muda yang sebelumnya kurang memahami atau kurang tertarik terhadap tradisi keagamaan, untuk mengenal dan berpartisipasi. Konten selawat kreatif dan penyajian tradisi melalui media digital turut membuat kegiatan keagamaan lebih mudah diakses oleh masyarakat luas.

Melalui Dialog Kita Indonesia, Agus mengajak masyarakat melihat Maulid Nabi tidak hanya sebagai kegiatan keagamaan, tetapi juga sebagai bagian dari dinamika sosial dan budaya. Menurutnya, tradisi yang sebelumnya terkesan sakral dan kaku dapat berkembang menjadi bentuk pertunjukan budaya yang menarik, sekaligus tetap menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenal nilai keagamaan dan keberagaman budaya daerah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....