Meningkatkan Kepedulian Sosial
- 29 Mei 2026 10:37 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya – Kajian Islam bertema "Meningkatkan Kepedulian Sosial" disampaikan oleh Dian Wahyuningsih, Muballighot Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Jawa Timur, melalui siaran RRI Surabaya. Dalam kajiannya, Dian Wahyuningsih menyampaikan bahwa kepedulian sosial merupakan bagian penting dalam ajaran Islam yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, wanita memiliki peran besar dalam membangun kepedulian sosial di lingkungan keluarga maupun masyarakat. Ia menjelaskan bahwa Islam memandang wanita sebagai sosok mulia yang mampu menjadi penggerak kebaikan di tengah masyarakat.
Wanita tidak hanya berperan dalam keluarga, tetapi juga dapat berkontribusi dalam kehidupan sosial, pendidikan, hingga kegiatan kemasyarakatan. Dalam kesempatan tersebut, Dian Wahyuningsih juga menyinggung musibah kecelakaan kereta di Bekasi yang terjadi pada Senin, 27 April 2026, yang menyebabkan korban meninggal dunia dan luka-luka.
Ia mengajak masyarakat untuk mendoakan para korban serta meningkatkan rasa empati dan kepedulian terhadap sesama. Menurutnya, konsep kepedulian sosial dalam Islam dapat diwujudkan melalui ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan sesama muslim.
Ukhuwah tersebut meliputi saling mengenal (ta’aruf), saling memahami (tafahum), dan saling menanggung kesulitan sesama (takaful). Ia mengutip firman Allah dalam QS. Al-Hujurat ayat 10:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”
Dalam penerapannya, ia mengajak masyarakat untuk menjaga hubungan baik antar tetangga, menghindari ghibah, membantu tetangga yang sakit, serta menjadi penengah ketika terjadi perselisihan di lingkungan masyarakat.
Selain itu, kepedulian terhadap kaum dhuafa juga menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial umat Islam. Dian Wahyuningsih menjelaskan bahwa kaum dhuafa tidak hanya mereka yang meminta-minta di jalan, tetapi juga janda lansia, anak yatim, maupun masyarakat yang mengalami kesulitan ekonomi akibat kehilangan pekerjaan.
Ia juga mengingatkan pentingnya membantu anak yatim dan fakir miskin sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Ma’un ayat 1–3:
أَرَءَيْتَ ٱلَّذِى يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ فَذَٰلِكَ ٱلَّذِى يَدُعُّ ٱلْيَتِيمَ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلْمِسْكِينِ
Menurutnya, kepedulian sosial dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti berbagi makanan kepada tetangga, membantu lansia, menyantuni anak yatim, hingga mengajak masyarakat ikut peduli terhadap sesama.
Dalam kajian tersebut, ia juga mendorong masyarakat untuk melakukan aksi nyata secara bersama-sama melalui kegiatan sosial di lingkungan sekitar, seperti gerakan Jumat Berkah, sedekah sembako, bantuan pendidikan, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Ia menambahkan bahwa wanita memiliki peran besar sebagai penggerak komunitas dan agen perubahan sosial di masyarakat. Kepedulian sosial, menurutnya, dimulai dari hati yang mampu merasakan kesulitan orang lain dan diwujudkan melalui tindakan nyata yang bermanfaat bagi sesama.
Di akhir kajiannya, Dian Wahyuningsih mengajak masyarakat untuk menjadikan nilai ukhuwah, kepedulian, dan gotong royong sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari agar tercipta lingkungan yang harmonis dan penuh kasih sayang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....