Blokade AS Picu Ketidakpastian Energi Global

  • 19 Apr 2026 18:40 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya — Kebijakan blokade pelabuhan Iran oleh Amerika Serikat yang diumumkan Presiden Donald Trump pertengahan April 2026 ini, memicu kekhawatiran global, terutama terkait stabilitas pasokan energi dunia di kawasan Selat Hormuz.

Meski tidak secara eksplisit menutup seluruh jalur pelayaran internasional, namun langkah tersebut dinilai tetap berisiko tinggi. Laporan Associated Press menyebutkan blokade diberlakukan terhadap kapal yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran, tanpa menghambat secara langsung jalur non-Iran.

Menanggapi hal tersebut, Dandi Alvayed, PhD Scholar di bidang Petroleum Engineering di King Fahd University of Petroleum and Minerals, kepada RRI, Minggu, 19 April 2026 mengatakan, situasi ini tetap menciptakan ketidakpastian serius di pasar energi global.

“Masalah terbesar di Hormuz bukan hanya soal volume minyak yang hilang, tetapi hilangnya fleksibilitas sistem energi global. Pasar khawatir apakah suplai masih bisa dialihkan dan dijaga dalam waktu dekat,” ujarnya.

Dandi mengatakan, berdasarkan Data U.S. Energy Information Administration menunjukkan sekitar 20 juta barel minyak per hari, atau sekitar 20 persen konsumsi global, melewati Selat Hormuz. Sementara International Energy Agency mencatat jalur ini juga menjadi rute penting bagi perdagangan gas alam cair (LNG) dunia.

“Kondisi ini bukan sekadar isu geopolitik, tapi bottleneck fisik. Minyaknya ada, tapi jalur distribusinya terbatas,” jelasnya.

Dandi menegaskan, meskipun terdapat jalur alternatif melalui pipa di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, kapasitasnya jauh dari cukup untuk menggantikan volume normal. Lebih jauh, ia juga menyoroti bahwa krisis ini turut menggerus kapasitas cadangan efektif (spare capacity) negara-negara produsen utama di kawasan Teluk. Padahal, kapasitas tersebut selama ini menjadi penyangga stabilitas pasar.

“Ini adalah cross-commodity shock. Dampaknya menjalar ke LNG, pupuk, hingga harga pangan. Negara berkembang menjadi pihak paling rentan,” tambah Dandi.

Menurutnya, kondisi ini tidak hanya berdampak pada minyak, karena gangguan di Selat Hormuz juga memicu efek domino ke sektor lain. UN Trade and Development melaporkan lonjakan biaya pengiriman, premi asuransi, hingga harga bahan bakar kapal yang meningkat tajam akibat situasi ini. Ia juga menilai bahwa ketergantungan global terhadap Selat Hormuz menjadikannya sebagai titik rawan utama dalam sistem energi dunia.

“Hormuz saat ini bukan sekadar chokepoint, tapi single point of failure. Selama ketergantungan ini tidak dikurangi, setiap eskalasi militer akan berpotensi menjadi krisis global,” tegasnya.

Sebagai langkah mitigasi, Dandi menjelaskan, negara-negara anggota IEA sebelumnya telah sepakat melepas cadangan minyak darurat dalam jumlah besar. Namun, langkah tersebut dinilai hanya bersifat sementara. Dengan situasi yang terus berkembang, ia mengatakan, para analis memperingatkan bahwa stabilitas energi global kini sangat bergantung pada pemulihan keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....