Gangguan Hormuz Tekan Pasokan Energi Dunia dan Asia
- 03 Apr 2026 11:37 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya — Ketegangan geopolitik di kawasan Selat Hormuz kembali memicu kekhawatiran pasar energi global. Jalur vital ini diketahui menjadi lintasan utama sekitar seperempat perdagangan minyak dunia dan sebagian besar distribusi gas alam cair, Liquefied Natural Gas (LNG).
Berdasarkan data International Energy Agency, hampir 20 juta barel minyak per hari melintasi Selat Hormuz pada 2025. Selain itu, lebih dari 110 miliar meter kubik LNG juga dikirim melalui jalur tersebut, menjadikannya salah satu titik paling krusial dalam rantai pasok energi global.
Direktur Komunikasi Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia - Kingdom of Saudi Arabia (IATMI KSA), Dandi Alvayed, menilai gangguan di Hormuz tidak hanya berdampak pada pasokan energi, tetapi juga pada stabilitas ekonomi dunia.
“Selat Hormuz adalah chokepoint utama. Ketika terjadi gangguan, dampaknya langsung terasa pada harga energi dan rantai pasok global,” ujarnya kepada RRI, Jum'at, 3 April 2026.
Meski demikian, Ia mengatakan tidak semua pihak mengalami dampak yang sama. Negara produsen energi di luar kawasan Teluk cenderung berada dalam posisi lebih menguntungkan karena tidak bergantung langsung pada jalur tersebut.
Data U.S. Energy Information Administration menunjukkan ketergantungan Amerika Serikat terhadap minyak dari jalur Hormuz relatif kecil, hanya sekitar 2 persen dari total konsumsi domestik. Kondisi ini memberi ruang bagi negara tersebut untuk lebih fleksibel menghadapi gejolak pasar.
Sebaliknya, kawasan Asia menjadi pihak paling rentan. Sebagian besar minyak dan LNG yang melewati Hormuz ditujukan ke negara-negara Asia seperti Tiongkok, India, Jepang, dan Korea Selatan. Dandi Alvayed menilai dampak gangguan tidak hanya dirasakan pada sektor energi, tetapi juga industri turunan. Ia mengatakan lonjakan harga energi akan berdampak luas.
“Asia akan merasakan tekanan berlapis, mulai dari kenaikan harga energi hingga biaya produksi industri petrokimia dan pangan. Ketika harga minyak dan gas naik, biaya produksi meningkat dan pada akhirnya mendorong kenaikan harga barang, termasuk kebutuhan pokok,” ujarnya.
Bagi Indonesia, dampak gangguan Hormuz lebih terasa melalui tekanan harga global. Data Badan Pusat Statistik Indonesia mencatat impor migas Indonesia pada 2024 mencapai lebih dari USD 36 miliar, dengan ketergantungan tinggi terhadap impor BBM dan LPG.
“Jika harga minyak global naik sementara harga BBM domestik tetap, maka tekanan akan terjadi pada subsidi dan margin pengolahan,” ujarnya.
Dandi Alvayed mengatakan saat ini pemerintah dihadapkan pada pilihan antara menaikkan harga BBM atau menambah beban subsidi. Gangguan di Selat Hormuz menunjukkan bahwa satu titik strategis di Timur Tengah dapat berdampak luas hingga ke kawasan Asia, termasuk Indonesia. Karena itu, penguatan ketahanan energi, diversifikasi pasokan, serta peningkatan kapasitas cadangan menjadi langkah penting untuk mengantisipasi risiko ke depan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....