Penguatan Budi Pekerti Kunci Sukses Program Asta Cita
- 30 Mei 2026 22:38 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID,Surabaya – Upaya menyukseskan program Asta Cita Presiden Republik Indonesia tidak hanya berfokus pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga pada pembentukan karakter peserta didik. Penguatan budi pekerti menjadi salah satu perhatian utama dalam menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul, berakhlak mulia, dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa.
Hal tersebut disampaikan akademisi sekaligus Guru Bahasa Jawa SMK Satya Widya Surabaya, Dra. Ratna Indarwulan, saat dihubungi Pro1 melalui sambungan telepon, Sabtu 30 Mei 2026. Menurutnya, pendidikan yang ideal tidak cukup hanya mengembangkan kemampuan kognitif, tetapi juga harus menyentuh aspek pembentukan karakter dan kepribadian peserta didik.
Ratna menjelaskan bahwa pendidikan yang utuh harus mencakup tiga aspek utama, yakni olah hati, olah rasa, dan olah pikir. Meski demikian, ia menegaskan bahwa kemajuan sains dan teknologi tetap memiliki peran penting dalam pembangunan bangsa.
“Sain juga penting. Keduanya bagai sekeping mata uang yang gambar di sisi-sisinya berbeda, tetapi merupakan kesatuan yang tidak bisa dipisahkan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Ratna menilai aspek olah rasa dapat ditanamkan melalui mata pelajaran Seni Budaya yang sebaiknya dikenalkan sejak usia dini. Menurutnya, pengenalan budaya sejak kecil akan membantu peserta didik memahami serta mengamalkan nilai-nilai luhur dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, karakter positif dapat tumbuh seiring perkembangan intelektual anak.
Salah satu nilai yang paling mendasar, kata Ratna, adalah kejujuran. Ia menekankan bahwa kejujuran tidak cukup diajarkan melalui teori di dalam kelas, melainkan harus diwujudkan melalui keteladanan dari lingkungan sekitar.
“Anak didik kita harus diajari jujur. Jujur hanya bisa dipelajari dengan keteladanan. Guru, orang tua, tokoh masyarakat ketika berbicara, bertindak dan bersikap harus memberi suri tauladan kepada anak didik,” ujarnya.
Ratna juga mengingatkan pentingnya menjauhi perilaku tercela seperti berbohong, serakah, dan hidup berlebihan. Sebagai contoh, ia mengangkat kisah pewayangan Baratayuda yang menggambarkan perbedaan sikap antara Pandawa yang hidup sederhana dan Kurawa yang dipenuhi ketamakan.
“Kurawa yang tamak. Yang salah akan kalah. Semua perbuatan buruk akan sirna dengan perbuatan baik,” tambahnya.
Menurut Ratna, seseorang juga tidak boleh sombong karena kekayaan maupun jabatan yang dimiliki. Ia menegaskan bahwa karakter seseorang akan terlihat dari keselarasan antara pikiran, perkataan, dan perbuatannya. Nilai-nilai tersebut menjadi landasan penting dalam membangun generasi yang berintegritas dan bertanggung jawab.
Menutup pembicaraan, Ratna mengajak seluruh pendidik, orang tua, dan masyarakat untuk terus menanamkan etika, kejujuran, serta sikap hormat kepada orang tua dan guru. Ia menegaskan bahwa nilai-nilai tersebut telah diajarkan secara terstruktur di kelas 10 SMK melalui berbagai kisah epos yang sarat keteladanan.
“Materi ini sudah diajarkan di kelas 10 SMK. Seperti cerita epos tentang keteladanan. Semuanya adalah budaya adi luhung bangsa,” kata Ratna Indarwulan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....