Waka Humas SMAN 3 Surabaya Soroti Konsistensi Kurikulum Nasional

  • 21 Feb 2026 11:29 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Pendidikan Indonesia menghadapi kendala besar akibat ketidakkonsistenan kebijakan kurikulum nasional. Tantangan literasi digital pada generasi Z turut menuntut kesiapan sekolah secara menyeluruh.

Waka Humas SMAN 3 Surabaya, Theo Gunawan, dalam dialog Beranda Asta Cita Pro1 Surabaya Jumat 20 Februari 2026, mengkritik pola perubahan kurikulum setiap pergantian menteri.

"Kebijakan yang sering berubah membuat program pendidikan seperti Guru Penggerak tidak berjalan optimal." ujarnya.

Theo juga menegaskan bahwa mayoritas orang tua siswa masih sangat berorientasi pada nilai akhir. Hal ini mengabaikan pentingnya proses belajar sepanjang hayat demi mendapatkan sebuah ijazah semata.

"Tantangan lain muncul dari kalangan guru senior yang berusia di atas lima puluh tahun. Mereka cenderung enggan mengadaptasi teknologi baru karena merasa sudah mendekati masa purna tugas." katanya.

Sementara itu, generasi Z kini lebih menggemari pola belajar singkat melalui konten media sosial. Fenomena micro-learning tersebut harus disikapi secara bijak oleh para pendidik di sekolah.

Penggunaan Kecerdasan Buatan seperti ChatGPT sering kali disalahgunakan untuk mencari hasil jawaban instan. Siswa berisiko kehilangan kemampuan berpikir kritis jika hanya mengandalkan teknologi tanpa pemahaman mendalam.

Theo mendorong pentingnya kemampuan glokalisasi bagi seluruh siswa dan mahasiswa di Indonesia. Standar global harus diadaptasi secara tepat ke dalam konteks kebutuhan lokal daerah masing-masing.

Diperlukan kepemimpinan yang kuat dan konsisten untuk menjaga stabilitas ekosistem pendidikan di sekolah. Monitoring berkala terhadap budaya belajar sepanjang hayat menjadi kunci utama keberhasilan pendidikan nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....