Ramadan Harus Hadirkan Perubahan

  • 18 Feb 2026 09:58 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Menyambut datangnya bulan suci Ramadan, umat Islam diingatkan agar tidak menjadikan ibadah puasa sekadar rutinitas tahunan tanpa makna dan perubahan. Puasa seharusnya menjadi momentum peningkatan kualitas iman, ilmu, dan akhlak, bukan hanya menahan lapar dan dahaga.

Hal tersebut disampaikan Ustazah Mumtazah dalam tausiyah pada program Mutiara Pagi RRI Pro 1 Surabaya, Rabu (18/2/2026). Ia menegaskan, Ramadan yang dilalui tanpa perubahan menunjukkan masih minimnya pemahaman terhadap hakikat puasa. “Jangan sampai Ramadan yang kita jalani dari tahun ke tahun tidak menghadirkan perubahan. Salah satu sebabnya adalah kurangnya ilmu, sehingga puasa yang dilakukan belum sempurna,” ujar Ustazah Mumtazah.

Perintah puasa Ramadan secara tegas tertuang dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 183, yang menegaskan bahwa puasa diwajibkan bagi orang beriman agar mencapai derajat takwa. “Ayat ini bukan hanya memerintahkan puasa, tetapi juga menekankan tujuan puasa, yaitu ketakwaan. Maka puasa harus dilakukan dengan ilmu agar benar-benar berkualitas,” jelasnya.

Dalam tausiyahnya, Ustazah Mumtazah memaparkan sejumlah teladan Rasulullah SAW yang dapat diterapkan agar puasa Ramadhan bernilai ibadah sempurna. Di antaranya adalah meneladani kedermawanan Rasulullah, menjaga lisan dari perkataan buruk, memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an, menyegerakan berbuka, mengakhirkan sahur dan meningkatkan kualitas shalat, serta tetap aktif dalam kegiatan positif.

Namun, ia juga mengingatkan masih banyak kesalahan puasa yang dilakukan akibat minimnya ilmu agama. Setidaknya terdapat enam kesalahan umum dalam puasa, antara lain:

Pertama, puasa tanpa menjaga lisan, padahal Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya” (HR. Bukhari).

Kedua, puasa hanya menahan lapar dan dahaga, tanpa menjaga hati dan perilaku. Rasulullah SAW mengingatkan, “Banyak orang berpuasa namun tidak mendapatkan dari puasanya selain lapar dan dahaga” (HR. Ahmad).

Ketiga, meninggalkan shalat atau melalaikannya, padahal shalat merupakan tiang agama dan penopang ibadah puasa.

Keempat, tidak memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an, sementara Rasulullah SAW dikenal semakin intens berinteraksi dengan Al-Qur’an di bulan Ramadhan (HR. Bukhari dan Muslim).

Kelima, menunda berbuka tanpa alasan syar’i, padahal Rasulullah SAW bersabda, “Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka” (HR. Bukhari dan Muslim).

Keenam, menjadikan Ramadan sebagai bulan bermalas-malasan, padahal Rasulullah SAW tetap aktif berdakwah dan beraktivitas, bahkan sejumlah peristiwa besar dalam Islam terjadi di bulan Ramadhan.

“Dengan mengikuti kajian-kajian Islam, insyaAllah ilmu kita bertambah dan kesalahan-kesalahan dalam berpuasa bisa diperbaiki. Harapannya, Ramadan tahun ini lebih baik dari sebelumnya,” tutup Ustazah Mumtazah mengakhiri tausiyahnya pagi tadi.

Melalui peningkatan ilmu dan keteladanan Rasulullah SAW, Ramadan diharapkan menjadi sarana pembentukan pribadi muslim yang lebih bertakwa, berakhlak mulia, dan membawa perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....