Puasa Ramadan Perisai dari Maksiat dan Dosa

  • 05 Mar 2026 07:21 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Puasa Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi menjadi perisai dari maksiat dan dosa bagi setiap muslim yang menjalankannya dengan sungguh-sungguh. Hal itu disampaikan dalam ustazah Rachma Ayuningtyas atau yang akrab disapa ustazah Yuyun Ketua Departemen Humas PW Salimah Jatim dalam kajian “Mutiara Pagi” Pro 1 RRI Surabaya, Kamis, 5 Maret 2026.

Ia menegaskan, kewajiban puasa yang diperintahkan Allah SWT bertujuan membentuk pribadi yang bertakwa, yakni pribadi yang takut melanggar perintah dan larangan-Nya. “Kita syukuri bahwa kita sudah memasuki setengah bulan Ramadhan. Kita terus berharap Allah menguatkan kita dalam menjalankan ibadah puasa hingga akhir Ramadhan nanti. Karena puasa ini sejatinya adalah perisai dari maksiat dan dosa,” ujarnya.

Ia mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 183: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Menurutnya, taqwa itulah yang menjadi inti dari fungsi puasa sebagai perisai. Taqwa dimaknai sebagai sikap takut kepada Allah SWT, takut melanggar perintah-Nya, serta menjaga diri dari larangan-Nya.

“Inilah yang dimaksud puasa sebagai perisai. Ia menjadi tameng dari hal-hal yang dilarang Allah dan penghalang dari perbuatan dosa,” katanya.

Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Puasa adalah perisai.” Pada riwayat lain dijelaskan, apabila seseorang berpuasa, maka ia tidak boleh berkata keji dan tidak boleh berteriak. Jika ada yang mencelanya atau mengajaknya bertengkar, hendaknya ia mengatakan, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.”

Ustazah Yuyun menjelaskan, rasa lapar dan haus saat berpuasa bukan hanya ujian fisik, tetapi sarana melatih pengendalian diri. Kondisi tersebut membantu seseorang menahan lisan dari perkataan buruk serta mengendalikan hawa nafsu yang dapat menjerumuskan pada kemaksiatan.

“Dengan puasa, kita belajar membatasi diri. Saat tubuh lemah karena lapar dan haus, kita cenderung lebih tenang dan tidak banyak berbicara. Di situlah puasa menjadi penghalang dari dosa, baik dosa lisan maupun perbuatan,” katanya.

Namun demikian, ia mengingatkan pentingnya evaluasi diri apabila di bulan Ramadhan masih melakukan perbuatan buruk.

“Jika masih berkata kotor atau berbuat maksiat, bisa jadi karena kebiasaan lama yang sudah melekat atau pengaruh lingkungan. Maka puasa harus dijalankan dengan kesungguhan dan keikhlasan agar benar-benar menjadi perisai,” tuturnya.

Ia juga mengutip Surah Asy-Syura ayat 30 yang menjelaskan bahwa musibah yang menimpa manusia tidak lepas dari perbuatannya sendiri, sementara Allah SWT Maha Pemaaf atas banyak kesalahan hamba-Nya. Menurutnya, ketaqwaan yang lahir dari puasa akan melindungi seorang muslim dari dampak buruk dosa, baik di dunia maupun di akhirat.

Sebaliknya, jika puasa tidak mampu menahan diri dari maksiat, maka nilai perlindungannya pun bisa berkurang. “Karena itu, mari jadikan puasa sebagai benteng dan pelindung diri dari maksiat dan dosa. Semoga Allah menerima puasa kita dan menjadikannya perisai yang menyelamatkan,” ucapnya mengakhiri tausiyah pagi tadi.

Rekomendasi Berita