Minim Petani Milenial, Pertanian Lamongan Hadapi Tantangan
- 12 Feb 2026 18:58 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Regenerasi petani milenial menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan sektor pertanian, termasuk di Kabupaten Lamongan yang dikenal sebagai salah satu lumbung pangan Jawa Timur. Minimnya minat generasi muda dikhawatirkan berdampak pada ketahanan pangan di masa depan.
Ketua Forum Komunikasi P4S Kabupaten Lamongan Bambang Supriyanto mengatakan dominasi petani berusia di atas 40 tahun menunjukkan perlunya upaya menarik generasi muda agar mau terjun ke sektor pertanian.
| Baca juga: Serapan Beras BULOG Jatim Lampaui Target |
“Regenerasi petani milenial adalah kunci keberlanjutan pertanian. Harus ada peluang nyata melalui teknologi, pelatihan inovatif, dan akses pasar agar pertanian dilihat sebagai usaha menjanjikan,” kata Bambang, Kamis 12 Februari 2026.
Menurutnya, stigma bahwa pertanian kurang prospektif, keterbatasan akses lahan, serta minimnya pendidikan pertanian adaptif masih menjadi hambatan utama bagi milenial.
Padahal, konsep pertanian berkelanjutan kini menjadi isu strategis nasional. Selain meningkatkan produksi pangan, pendekatan ini juga menekankan keseimbangan ekosistem, efisiensi sumber daya alam, dan pembangunan ekonomi desa.
Bambang menilai pemanfaatan teknologi seperti smart farming, sensor otomatis, hingga pemasaran digital dapat mengubah persepsi generasi muda terhadap sektor pertanian.
Sejumlah program pelatihan pertanian berkelanjutan juga telah melibatkan ratusan pemuda di berbagai daerah. Namun tantangan struktural seperti akses lahan, dukungan pembiayaan, dan infrastruktur pertanian dinilai masih perlu diperkuat.
Ia berharap kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, dan komunitas petani dapat mendorong lahirnya petani milenial sehingga pertanian Indonesia tetap produktif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....