Dosa Menghalangi Ketaatan

  • 12 Feb 2026 09:29 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Ketaatan dalam beribadah menjadi cita-cita setiap Muslim. Namun dalam keseharian, tidak sedikit yang merasakan ibadah terasa berat, doa kurang khusyuk, dan amal saleh sulit dilakukan secara konsisten. Padahal, manusia diciptakan dengan tujuan utama untuk beribadah kepada Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam Surat Az-Zariyat ayat 56, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” Ayat tersebut menegaskan bahwa ibadah merupakan tujuan utama kehidupan manusia.

Fenomena sulitnya menjaga ketaatan ini, menurut Ustazah Rachma Ayuningtyas yang akrab disapa Ustazah Yuyun Ketua Departemen Humas PW Salimah Jatim, tidak terjadi tanpa sebab. Dalam tausiyahnya, ia menyebut bahwa dosa menjadi salah satu penghalang terbesar seorang hamba untuk taat kepada Allah.

“Salah satu penyebab utama sulitnya ketaatan adalah dosa yang kita lakukan kepada Allah, baik dosa besar maupun dosa kecil yang sering kali diremehkan,” ujarnya saat meberikan tausiyahnya dalam Mutiara Pagi Pro1 RRI Surabaya, Kamis 12 Februari 2026.

Ia menjelaskan, dosa tidak hanya akan dipertanggungjawabkan di akhirat, tetapi juga berdampak di dunia. Salah satu bentuk ganjarannya adalah dicabutnya nikmat beribadah.

“Dosa bisa membuat kita kehilangan rasa khusyuk saat ibadah, hilangnya nikmat bermunajat, bahkan hati menjadi keras dan tidak lagi tersentuh oleh nasihat,” katanya.

Hal tersebut sejalan dengan hadis riwayat At-Tirmidzi yang menyebutkan bahwa apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka hukuman atas kesalahannya disegerakan di dunia, sehingga hukuman di akhirat menjadi lebih ringan.

Menurut Ustazah Yuyun, dosa-dosa yang kerap dianggap sepele seperti ghibah, tidak menjaga pandangan, mengonsumsi makanan yang tidak halal baik dari sisi zat maupun cara memperolehnya, serta kecintaan berlebihan terhadap dunia, dapat menumpuk dan menghalangi ketaatan.

“Dosa yang dibiarkan akan menumpuk dan akhirnya menutup pintu perbaikan diri. Itu termasuk kezaliman, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain,” tegasnya.

Sebagai solusi, ia mengingatkan bahwa jalan untuk kembali merasakan nikmat ketaatan hanyalah dengan bertaubat.

“Selama nyawa masih ada, Allah membuka pintu ampunan selebar-lebarnya. Karena itu kita harus menjauhi dosa dan tidak berbuat zalim agar ketaatan kembali hidup dalam diri kita,” katanya mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....