Inflasi Babel 0,35 Persen, Makanan Laut-Nasi Lauk Jadi Penyebab Utam
- 04 Agt 2026 08:06 WIB
- Sungailiat
RRI.CO.ID, Pangkalpinang- Kinerja ekonomi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada bulan Juli 2026 diwarnai oleh laju inflasi yang stabil serta surplus pada neraca perdagangan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulanan (month-to-month/m-to-m) Bangka Belitung berada di angka 0,35 persen, sama persis dengan capaian pada bulan sebelumnya.
Kepala BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Sugeng Arianto, menjelaska, tekanan inflasi pada bulan ini utamanya didorong oleh kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau.
"Inflasi Juli terutama didorong oleh kenaikan harga komoditas Nasi dengan Lauk, Ikan Tenggiri, dan Ikan Ekor Kuning. Ketiga komoditas tersebut memberikan andil terbesar terhadap inflasi pada bulan ini," kata Sugeng dalam Rilis Berita Resmi Statistik (BRS), Senin, 3 Agustus 2026.
Komoditas Pendorong Inflasi
Berdasarkan data BPS, rincian pergerakan harga komoditas utama penyumbang inflasi meliputi Nasi dengan Lauk: Mengalami inflasi sebesar 2,72 persen dengan andil 0,05 persen. Ikan tenggiri melambung 9,91 persen (andil 0,05 persen) berbalik arah setelah sempat mengalami deflasi 6,85 persen pada Juni 2026. Ikan Ekor Kuning melonjak hingga 18,31 pesen dengan andil sebesar 0,05 persen.
Secara tahunan (year-on-year/y-on-y), inflasi Bangka Belitung tercatat melandai ke angka 2,62 persen (lebih rendah dibanding Juni sebesar 2,92 persen yang didorong oleh komoditas Emas Perhiasan, Cumi-Cumi, dan Angkutan Udara.
Merespon perkembangan tersebut, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Rommy S. Tamawiwy, menegaskan komitmen BI bersama Pemerintah Daerah dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk terus menjaga inflasi sesuai target nasional.
Sebagai langkah nyata, High Level Meeting (HLM) TPID yang dipimpin langsung oleh Gubernur Kepulauan Bangka Belitung pada 15 Juli 2026 telah menghasilkan 11 Kesepakatan Pengendalian Inflasi Daerah.
Poin Utama Strategi Pengendalian Inflasi peluasan Kerja Sama Antar Daerah (KAD) yakni Realisasi KAD antara Kabupaten Belitung Timur dan Provinsi DKI Jakarta (G to G dan G to B) pada 28 Juli 2026 untuk menjamin kelancaran pasokan pangan.
Penyelenggaraan Operasi Pasar Murah (OPM) dan Gerakan Pangan Murah sebanyak 65 kali.
Inovasi dan Digitalisasi Penguatan Early Warning System (EWS) serta pelaporan ekonomi terintegrasi via sistem Babel Ecository.
“Penguatan Strategi 4K Mengoptimalkan Keterjangkauan harga, Ketersediaan pasokan, Kelancaran distribusi, dan Komunikasi efektif melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS),” katanya.
Rommy mengingatkan, tantangan inflasi ke depan masih dibayangi ketidakpastian ekonomi global, geopolitik, dan perubahan iklim. Oleh karena itu, prinsip OKS (Optimisme, Komitmen, dan Sinergi) akan terus diperkuat antarinstansi di Bangka Belitung.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....