BI Babel: Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan dengan Strategi OKS
- 13 Feb 2026 17:55 WIB
- Sungailiat
RRI.CO.ID, Pangkalpinang- Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (BI Babel) menyatakan pertumbuhan perekonomian berkelanjutan dapat diwujudkan dengan strategi Optimisme, Komitmen dan Sinergi (OKS).
Kepala BI Babel, Rommy S. Tamawiwy mengatakan, hal itu dilakukan dengan memperkuat sumber pertumbuhan ekonomi pada sektor utama, mendorong masuknya investasi hilirisasi di sektor perkebunan dan industri pengolahan, pengembangan sektor pariwisata dan industri kreatif berbasis kearifan lokal didukung dengan Gerakan Wisata Bersih.
Serta BI Babel mendorong implementasi Asta Cita untuk mewujudkan swasembada pangan, mendorong ekosistem digital dan pemenuhan uang Rupiah hingga ke pelosok negeri, mengakselerasi UMKM masuk ke ekosistem digital dan global, serta mambangun ekosistem ekonomi syariah yang tepat.
“Hal-hal tersebut diharapkan dapat menjadi langkah strategis dan taktis untuk memperkuat stabilitas, mendorong sumber pertumbuhan ekonomi baru, serta kebangkitan sektor ekonomi unggulan yang inklusif dan berkelanjutan di wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,” kata Rommy dalam keterangan, Jumat 13 Februari 2026.
Diberitakan sebelumnya, Badan Pusat Stastik (BPS) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) mencatat pertumbuhan ekonomi Provinsi Babel pada triwulan IV tahun 2025, sebesar 4,54 persen year on year (y-on-y).
Angka tersebut cukup meningkatkan signifikan, dibanding periode yang sama pada 2024 yang hanya menyentuh 0,94 persen. Sama halnya saat dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi di triwulan III 2025 yang hanya berada di 3,16 persen y-on-y.
Meski demikian, pertumbuhan ekonomi Provinsi Bangka Belitung berada di peringkat 7 se-Pulau Sumatera. Babel unggul dari tiga provinsi yang sempat mengalami bencana alam yakni Sumatera Utara 4,23 persen, Sumatera Barat 1,69 persen dan Aceh -1,61 persen.
Kepala BPS Provinsi Bangka Belitung, Sugeng Arianto mengatakan, potensi yang kini menjadi andalan seperti halnya pertambangan dan pertanian tidak lepas dari perekonomian global.
"Tentu ini kita harus melakukan berbagai langkah, tetapi segera kondisinya akan segera normal kembali. Yang penting adalah, kita harus mempunyai langkah mitigasi untuk melakukan hilirisasi," ujar Sugeng, Jumat 6 Februari 2026.
Menurut dia, Provinsi Bangka Belitung tidak hanya melakukan ekspor produk mentah seperti hasil tambang ataupun lada, namun juga produk komoditas yang sudah jadi.
"Bagaimana pun juga untuk penetrasi pasar, kita tidak memiliki kekuatan yang sangat besar. Jadi mungkin kita memang perlu melakukan hilirisasi, langkah-langkah berikutnya untuk melakukan proses pengolahan terlebih dahulu, baru kemudian kita ekspor," katanya.
Selain itu, BPS menilai, pintu keluar dan masuknya produk ekspor yang tidak berada di Provinsi Bangka Belitung juga menjadi faktor sulitnya pertumbuhan ekonomi di daerah ini melesat.
"Beberapa ekspor kita juga pintunya itu, tidak lewat pintu kita sendiri. Jadi ini juga di beberapa Provinsi di Sumatera fenomenanya seperti itu, sebagian besar misalnya lewat Medan atau Sumatera Utara," katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....