Anak Muda Mulai Beralih ke C‑Drama dari K‑Drama

  • 29 Jul 2025 04:28 WIB
  •  Sumenep

KBRN, Sumenep: Dalam beberapa tahun terakhir, terjadi pergeseran selera tontonan di kalangan anak muda Indonesia. Tren dominan drama Korea (K‑Drama) mulai tergantikan oleh ketertarikan terhadap drama China (C‑Drama). Menurut belajar pola konsumsi media, genre fantasi dan sejarah dari C‑Drama yang megah dan penuh efek visual mampu menarik perhatian penonton baru yang ingin sesuatu berbeda .

Sebuah studi di Indonesian Journal of Environmental Health belum membahas genre drama, tetapi survei lintas budaya menunjukkan bahwa konsumsi video internasional sangat dipengaruhi nilai budaya dan bahasa yang mudah diakses oleh penonton . Di Indonesia, keberadaan platform seperti iQIYI, WeTV dan Tencent Video menjadikan C‑Drama semakin mudah diakses.

Nur Azizah, anak muda yang juga seorang penikmat drama, mengaku baru-baru ini mulai meninggalkan K‑Drama dan beralih ke C‑Drama.

“Saya dulu rajin nonton K‑Drama, tapi sekarang lebih suka C‑Drama. Ceritanya panjang, visualnya epik, dan genre macam wuxia atau fantasynya cocok banget sama keinginan saya explore cerita berbeda.” Ungakap Nur Azizah

Pandangan ini sejalan dengan diskusi online di komunitas penggemar Asia, di mana seorang pengguna Reddit menceritakan bahwa awalnya mereka hanya menonton K‑Drama, namun setelah mencoba C‑Drama jenis sejarah dan kostum, mereka berubah selera:

“Saya hanya menonton drama Korea. Setelah coba C‑Drama bertema kostum, dunia baru terbuka. Sekarang hampir tidak kembali ke K‑Drama” .

Namun tidak semua setuju pergeseran ini sebagai kemajuan kualitas. Banyak penggemar K‑Drama di Reddit menyebut bahwa dialog bahasa Korea lebih menyenangkan secara audio dan emosi lebih kuat. Sebagai contoh:

“Secara visual, K‑Drama punya sinematografi lebih tinggi. mendengar dialog Korea terasa lebih menyenangkan karena bukan bahasa tonal seperti Mandarin” .

Perbedaan mendasar lainnya antara K‑Drama dan C‑Drama juga memengaruhi pilihan anak muda. C‑Drama umumnya lebih panjang (25‑50 episode), dengan durasi sekitar 45 menit per episode, dan genre dominan fantasi serta sejarah; sedangkan K‑Drama lebih pendek (16‑20 episode), berdurasi ~60‑90 menit, dan fokus pada romansa modern dan konflik emosional .

Fenomena peralihan ini bukan sekadar soal pergeseran selera, tapi juga mencerminkan keinginan generasi muda terhadap tontonan yang visualnya kaya, cerita panjang dan beragam, serta akses dari platform streaming baru. Meski begitu, kekuatan storytelling emosional dan kualitas produksi K‑Drama tetap punya basis penggemar setia yang menghargai dialog, alur padat, dan soundtrack khasnya. Bagaimanapun, perbedaan gaya ini memberikan ruang bagi variasi preferensi di kalangan penonton muda Indonesia.

Rekomendasi Berita