KBRN, Sumenep: Menjelang Hari Raya Idul Adha, umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, bersiap untuk melaksanakan salah satu ibadah yang paling bermakna dalam ajaran Islam, yaitu ibadah kurban.
Ibadah ini bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan wujud ketaatan spiritual yang mencerminkan pengorbanan, keikhlasan, dan kepedulian sosial.
Namun, di balik semangat berkurban, terdapat tanggung jawab besar yang sering kali terabaikan, yaitu menjamin kelayakan hewan yang akan dikurbankan.
Hewan kurban, sesuai dengan syariat Islam, harus memenuhi sejumlah persyaratan agar ibadah tersebut sah dan diterima.
Hewan harus dalam kondisi sehat, cukup umur, tidak cacat, serta terbebas dari penyakit yang dapat menular atau membahayakan. Persyaratan ini bukan hanya aturan fikih, melainkan juga mencerminkan kepedulian terhadap kesejahteraan hewan dan kualitas ibadah yang dijalankan.
Oleh karena itu, memastikan bahwa hewan kurban layak secara fisik dan medis merupakan bentuk tanggung jawab moral umat Muslim sebagai khalifah di muka bumi.
Dalam konteks kekinian, tantangan dalam menjamin kelayakan hewan kurban semakin kompleks. Penyebaran penyakit hewan menular, seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), serta Lumpy Skin Disease (LSD), menjadi ancaman nyata yang harus diantisipasi secara serius.
Situasi ini menuntut keterlibatan aktif berbagai pihak, baik dari pemerintah, organisasi keagamaan, pelaku usaha peternakan, hingga masyarakat luas.
Pemerintah daerah, melalui dinas terkait, perlu memperketat pengawasan dengan melakukan pemeriksaan kesehatan hewan secara menyeluruh dan menerbitkan sertifikat kelayakan hewan kurban.
Di sisi lain, masyarakat sebagai konsumen harus lebih kritis dan selektif dalam memilih hewan kurban. Kesadaran kolektif bahwa kurban yang sah harus memenuhi standar etis dan syar’i perlu terus dibangun dan diperkuat.
Lebih dari itu, Idul Adha seharusnya menjadi momentum refleksi nilai-nilai kemanusiaan. Hewan yang akan dikurbankan adalah makhluk ciptaan Tuhan yang juga berhak untuk diperlakukan dengan kasih sayang dan penuh penghormatan, bahkan di saat-saat terakhir kehidupannya.
Perlakuan yang baik terhadap hewan kurban menunjukkan etika kemanusiaan dan kesadaran spiritual yang tinggi dari seorang Muslim.
Kurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi juga tentang bagaimana manusia memperlakukan ciptaan Tuhan dengan penuh tanggung jawab.
Oleh sebab itu, mari kita jadikan Hari Raya Idul Adha bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan sebagai sarana memperkuat nilai-nilai keadilan, kepedulian, dan kemuliaan akhlak.
Dengan memastikan setiap hewan kurban benar-benar layak, kita tidak hanya menjalankan ibadah dengan sah, tetapi juga memberi makna lebih dalam kepada ibadah tersebut, menjadikannya kurban yang bernilai, bermartabat, dan penuh keberkahan.