Berburu Jamur Liar, Rezeki Musim Hujan Warga Sumenep

  • 03 Jan 2026 14:55 WIB
  •  Sumenep

KBRN,Sumenep: Fajar belum sepenuhnya merekah ketika Muna (23) melangkah keluar rumahnya di Desa Keles, Kecamatan Ambunten. Senter kecil di tangannya menjadi penerang jalan, menemani langkah cepatnya menyusuri pekarangan, bawah pepohonan, hingga pinggir sawah. Tujuannya satu: berburu jamur liar.

Dalam dua pekan terakhir, pemandangan serupa jamak ditemui di Kecamatan Ambunten, Rubaru, dan Dasuk, Kabupaten Sumenep. Musim hujan menghadirkan “panen dadakan” berupa jamur liar yang tumbuh alami, setahun sekali, dan selalu dinanti warga.

“Setelah salat Subuh saya langsung berangkat. Kalau kesiangan biasanya sudah habis diambil orang,” ujar Muna sambil tersenyum, Sabtu (3/1/2026).

Jamur yang diburu beragam, mulai dari jamur bulan, jamur kayu, hingga jamur trucuk. Jenis jamur ini hanya muncul di pertengahan musim penghujan dan tak bisa diprediksi jumlahnya. Karena itulah, warga kerap saling berlomba sejak pagi hari.

Bagi sebagian warga, jamur liar lebih dari sekadar hasil buruan. Jamur itu menjadi menu istimewa keluarga. Rasanya yang gurih, lembut, dan khas membuat banyak orang memilih mengonsumsinya sendiri.

“Kami masak di rumah. Rasanya enak sekali, jadi sayang kalau dijual,” tutur Muna.

Namun berbeda dengan Ahmad, (50) warga lainnya yang memilih menjual jamur temuannya ke pasar. Permintaan yang tinggi membuat jamur liar bernilai ekonomi, meski hanya hadir sesaat.

“Saya cuma petani, tidak punya pendapatan tetap. Jadi tiap pagi berusaha menjemput rezeki yang ditabur Ilahi,” ucap Ahmad penuh syukur.

Jika beruntung, dalam waktu sekitar dua jam Ahmad bisa mengantongi Rp60 ribu hingga Rp90 ribu. Namun jika hasilnya sedikit, jamur tersebut biasanya dikonsumsi sendiri atau disimpan di dalam kulkas agar tidak cepat busuk.

Musim hujan pun tak hanya membawa tanah basah dan udara dingin, tetapi juga cerita tentang rezeki sederhana yang tumbuh liar, menyatukan rasa syukur, harapan, dan kebersamaan warga Sumenep.

Rekomendasi Berita