Mantang Mandar, Tiga Dekade Menuju PPPK Paruh Waktu
- 02 Des 2025 22:11 WIB
- Sumenep
KBRN, Sumenep: Perjalanan panjang seorang guru di daerah terpencil tidak pernah hanya diukur dari jarak maupun waktu yang ditempuh. Ada ketabahan, ada keyakinan, dan ada pengabdian yang tidak terlihat oleh mata. Itulah kisah Mantang Mandar (50), guru SDN Sakala 1 di Pulau Sakala, Kecamatan Kepulauan Sapeken, Kabupaten Sumenep.
Sejak 1995 hingga 2025, sekitar tiga dekade, ia mengajar tanpa status kepegawaian, tanpa fasilitas memadai, dan tanpa jaminan masa depan. Namun perempuan berwajah tenang itu tidak pernah berhenti datang ke kelas. Tidak pernah meminta waktu istirahat. Tidak pernah mengatakan ia lelah.
"Perjuangannya panjang sekali. Dari 1995 sampai 2025 saya mengabdi tanpa status kepegawaian," tuturnya kepada RRI, Selasa (2/12/2025).
"Tapi saya tidak pernah berniat berhenti. Saya selalu percaya, kalau kita memberi dengan ikhlas, Allah akan menggantinya dengan cara-Nya,"
Pada Senin (1/12/2025), Mantang Mandar akhirnya dilantik sebagai PPPK Paruh Waktu, bersama 5.224 pegawai lainnya di Stadion A. Yani Sumenep. Meski hanya menerima penghasilan Rp400 ribu per bulan, ia merasa telah mendapatkan penghargaan terbesar dalam hidupnya.
"Alhamdulillah, akhirnya kemarin saya menggenggam SK yang semua guru honorer idam-idamkan. Bagi saya, SK itu bukan sekadar kertas, tapi tanda bahwa perjuangan saya tidak sia-sia," ujarnya tersenyum haru.
Ia menambahkan satu kalimat yang begitu kuat. Ini tentang bagaimana ia bertahan ditengah jalan panjang sebagai guru honorer di pulau terluar dari Kabupaten Sumenep.
"Tiga puluh tahun menunggu bukan waktu yang sebentar, tapi saya tetap bertahan karena sekolah ini adalah rumah saya, dan murid-murid adalah alasan saya tetap kuat." tegasnya.
Perjalanan Laut yang Menguji Kesabaran
Untuk menghadiri pelantikan, Mantang Mandar harus menempuh perjalanan panjang yang tidak banyak orang bayangkan. Bukan perjalanan darat yang nyaman, melainkan perjalanan laut dengan kapal kecil, gelombang besar, dan waktu yang sangat lama.
Ia berangkat dari rumah pukul 05.00 pagi, menumpang kapal siaga desa menuju Pulau Saseel.
"Saya bersama rekan-rekan berangkat pagi dari Sakala, tiba di Pulau Saseel jam satu siang," cerita Mantang Mandar.
Perjalanan dilanjutkan menuju Pulau Sapeken. Namun di tengah laut mesin kapal tiba-tiba macet. Angin kencang, gelombang mengayun kapal tanpa henti, hingga beberapa penumpang muntah karena mabuk laut.
"Kami diombak-ambing di tengah laut. Untungnya mesin bisa dinyalakan lagi," kenangnya.
Sesampainya di Sapeken pukul 15.00, ia harus menunggu kapal perintis yang baru berangkat pukul 01.00 dini hari. Ia tiba di Kabupaten Sumenep pukul 22.00 malam.
"Perjalanan itu betul-betul menguras tenaga. Tapi ketika sampai stadion dan melihat ribuan orang menunggu pelantikan, saya berkata pada diri sendiri, capek ini akhirnya terbayar," ujarnya.
"Saya tidak pernah membayangkan seumur hidup akan berdiri di stadion besar bersama ribuan orang. Rasanya seperti mimpi,"
Kesabaran sebagai Jalan Hidup
Selama 30 tahun menjadi guru honorer, Mantang Mandar hidup dengan penghasilan yang jauh dari cukup. Namun keberadaannya sebagai guru di pulau terpencil membuatnya menjadi satu-satunya harapan pendidikan bagi banyak anak.
"Resepnya sederhana saja, kesabaran dan konsisten. Jangan mengharapkan imbalan besar. Yang penting niatnya tulus mengajar," ucap dia.
Mantang Mandar menyebut, sekolah di kepulauan jelas jauh berbeda. Semua serba terbatas. Namun itu bukan alasan untuk menyerah. Tetapi ia tetap semangat.
"Kalau guru tidak datang, siapa yang akan mengajar? Anak-anak tidak salah hanya karena lahir di pulau kecil. Saya mengajar bukan karena gaji. Saya mengajar karena saya bahagia melihat anak-anak bisa membaca, berhitung, dan punya mimpi," sebut Mantang Mandar.
Pesan dari Sakala untuk Guru Indonesia
Sebagai guru yang hidup jauh dari pusat keramaian, Mantang Mandar menyadari betul bahwa banyak guru di daerah terpencil mengalami nasib serupa, bekerja tanpa kepastian, namun tetap menjaga api pengabdian.
"Hasil besar sering tumbuh dari usaha kecil yang konsisten. Jangan pernah lelah belajar dan mengajar. Jangan berhenti mencerdaskan generasi bangsa," tuturnya menahan haru.
Ia juga berharap pemerintah terus memperhatikan guru-guru di pulau dan daerah 3T.
"Kami tidak meminta banyak. Kami hanya ingin dihargai, ingin diperhatikan, agar bisa terus mendidik anak-anak tanpa rasa takut kehilangan penghasilan," harapnya.
Dari Pulau Sakala yang jauh di ujung timur Sumenep, Mantang Mandar menunjukkan bahwa pengabdian bukanlah soal bayaran, tetapi tentang ketulusan yang dijaga puluhan tahun. Tentang seorang guru yang tetap berdiri, tetap mengajar, tetap berharap, meski dunia sering kali tidak melihat perjuangannya.
Ia adalah bukti bahwa pendidikan Indonesia berdiri di atas pundak mereka yang sabar, di pulau-pulau kecil yang sering terlupakan.