Transportasi Luar Jawa akan Berubah

  • 02 Okt 2026 08:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Indonesia akan mengalihkan fokus transportasi publik ke jalur kereta api karena mampu mengangkut ratusan ribu penumpang dengan aman dan efisien dibandingkan moda darat lainnya.
  • Jaringan kereta api di Indonesia saat ini masih terpusat di Pulau Jawa, sementara Sumatra dan Sulawesi baru mendapat pelayanan sebagian, dan Kalimantan serta Papua masih menunggu giliran.
  • Negara-negara maju seperti Jepang, Tiongkok, Eropa, dan Amerika telah membuktikan keandalan kereta api sebagai jejaring transportasi utama dengan fokus pada daya angkut, ketepatan waktu, teknologi, dan kecepatan.

.

Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)

MASA depan transportasi publik negeri kepulauan ini, agaknya akan segera beralih ke jalur besi kereta api. Pilihan ini masuk akal karena rangkaian gerbong KA sanggup memindahkan ratusan ribu penumpang, lebih aman, dan jauh efisien dibandingkan moda darat lainnya. Tantangannya kita memiliki lima pulau besar. Jawa yang terpadat dan terbanyak dilayani KA, sementara Sumatra dan Sulawesi baru sebagian. Kalimantan dan Papua paling akhir mendapat gilirannya.

Negara maju pun sangat mengandalkan KA sebagai jejaring penghubung; Jepang, Tiongkok, Eropa, Amerika berlomba keunggulan dalam hal daya angkut, ketepatan waktu, teknologi dan kecepatan. Di sini jaringan luas masih terpusat di Pulau Jawa. Dalam lingkup megapolitan, baru DKI Jakarta dan kota-kota satelitnya yang terhubung baik kereta berbagai jenis.

Sumatra sebenarnya telah memiliki jejak jaringan rel peninggalan Belanda. Namun, sejauh ini belum ada penambahan jalur yang signifikan, sehingga terputus belum mencapai seluruh bentang pulaunya lebih 2.000 kilometer.

Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian telah menetapkan Rencana Induk Perkeretapian Nasional 2011-2030, mencakup pembangunan jalur kereta api Trans-Sulawesi sebagai program utama. Dari Kota Parepare kelak dihubungkan hingga ke Manado di Sulawesi Utara dan Kendari di Sulawesi Tenggara.

Saat ini yang sudah dibangun dan dioperasikan berada di Sulawesi Selatan, antara Makassar–Parepare sejauh 145 kilometer. Jalur aktifnya menghubungkan Stasiun Mandai hingga Stasiun Palanro, serta percabangan dari Stasiun Labakkang menuju Stasiun Mangilu dan Stasiun Barru menuju Stasiun Garongkong.

Diawali Sejak 2014

Peletakan batu pertama pembangunan jalur kereta api Makassar–Parepare dilaksanakan 18 Agustus 2014 di Desa Siawung, Kecamatan Barru, Kabupaten Barru. Setelah tahap konstruksi bagian bawah selesai, pemasangan rel pertama dilaksanakan 13 November 2015 di Desa Lalabata, Tanete Rilau, Barru.

Saat itu hadir Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Hermanto Dwiatmoko dan Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo. Segmen Stasiun Garongkong hingga Stasiun Mangilu telah selesai dibangun 2022 dan dioperasikan secara terbatas mulai 29 Oktober 2022.

Menyusul kemudian, segmen Stasiun Garongkong hingga Stasiun Maros mulai dioperasikan secara terbatas pada 2 Desember 2022 dan segmen hingga Stasiun Mandai pada 28 Desember 2023. Baru tiga tahun kemudian jalur Stasiun Barru hingga Stasiun Palanro dibuka untuk umum.

Jalur yang aktif dan beroperasi melayani perjalanan penumpang serta barang adalah dari stasiun di Maros/Mandai sampai ke Palanro, Barru, dengan total 14 stasiun aktif. Jalur ini pada awalnya dibangun tunggal, tetapi lahan yang disiapkan memungkinkan untuk jalur ganda. Jalur ini akan memiliki 17 stasiun dan harusnya rampung tahun 2026 ini.

Di jalur Makassar–Parepare ini penyelenggaraan prasarana perkeretaapian, yang mencakup pembangunan, pengoperasian, dan perawatan jalur kereta api, dilakukan PT Celebes Railway Indonesia. Sedangkan penyelenggaraan sarana perkeretaapian dilakukan Konsorsium Kereta Api Sulsel, patungan PT Kereta Api Indonesia (Persero) dan PT Sulsel Citra Indonesia (Perseroda).

Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian telah menetapkan Rencana Induk Perkeretapian Nasional 2011-2030, mencakup pembangunan jalur kereta api Trans-Sulawesi sebagai program utama. Dari Parepare kelak dihubungkan hingga ke Manado di Sulawesi Utara dan Kendari di Sulawesi Tenggara.

Sumatra Butuh 350 Triliun

Guna membangun rel di Sumatra, dari Bandar Lampung hingga Banda Aceh butuh dana sekitar Rp350 triliun. Rencana pembangunan koridor rel terintegrasi di Pulau Sumatra itu sudah menjadi arahan Presiden Prabowo Subianto.

Sekarang ini jaringan kereta api di Sumatra masih belum terhubung sepenuhnya dan beroperasi secara terpisah di sejumlah wilayah. Hanya sepotong-sepotong dari Bandar Lampung sampai Palembang. Lalu dari Bandar Lampung hanya sampai Lubuk Linggau. Sedangkan jalur yang berada di Medan dan sekitar Padang hanya pendek.

Sebagai tahap awal, KAI memprioritaskan pembangunan jalur yang menghubungkan Banda Aceh dengan Besitang di Sumatra Utara. Panjangnya sekitar 478 kilometer dan saat ini tengah disiapkan detail engineering design (DED).

Buat menggarap proyek ratusan triliun rupiah tersebut, pemerintah telah membentuk tim khusus yang melibatkan sejumlah kementerian dan lembaga. Tim itu bertugas mengkaji aspek teknis hingga skema pembiayaan proyek. Menurut Direktur Utama PT KAI (Persero) Bobby Rasyidin, hingga saat ini pemerintah maupun KAI belum menetapkan sumber pendanaan yang akan digunakan.

Presiden sendiri minta jalur kereta api yang direncanakan membentang hampir 1.700 kilometer itu tersambung penuh dari Aceh hingga Lampung, dan langsung dibangun jalur ganda. Butuh waktu panjang dan kemungkinan dikerjakan dalam beberapa tahun anggaran. Pembangunannya tidak dimulai dengan jalur tunggal terlebih dahulu, melainkan langsung dua jalur sekaligus.

Presiden Prabowo menilai transportasi massal, khususnya kereta api, memiliki dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat menengah dan bawah. Hal ini ditegaskan saat peresmian Stasiun Tanah Abang Baru, November 2025.

Pembangunan sistem perkeretaapian nasional akan menjadi salah satu fokus utama dalam kebijakan pemerintahannya. Kereta api jadi salah satu faktor penting membantu rakyat menengah dan bawah. Orang kaya bisa naik pesawat. Namun, sebagian besar masyarakat masih butuhkan manfaat kereta api.

Presiden juga menyetujui pengadaan 30 rangkaian baru KRL Jabodetabek dengan total nilai investasi Rp5 triliun. Ini merupakan bentuk komitmen pemerintah menghadirkan layanan transportasi publik yang aman, nyaman, dan terjangkau.

Selain memperkuat layanan di kawasan perkotaan, Presiden juga bertekat memperluas jaringan perkeretaapian nasional ke Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi, demi menekan biaya logistik dan meningkatkan daya saing ekonomi nasional. Rel-rel kereta api harus dijaga keamanan dan keselamatan, sehingga pintu-pintu lintasan harus segera dibangun untuk hindari kecelakaan.

Program besar nasional bidang kereta api ini bakal mengubah lanskap transportasi publik, khususnya di luar Pulau Jawa. Akankah kita seperti jejaring Shinkansen di Jepang yang luas dan presisi, menggeser pesawat terbang dan mobilitas kendaraan pribadi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....