Siapa Bisa Patahkan ‘Samurai Biru’
- 16 Apr 2026 23:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
PIALA Dunia sepak bola baru akan dimulai 11 Juni-19 Juli 2026, tetapi dunia sudah dibuat merinding oleh kehebatan tim ‘Samurai Biru’ Asia. Kelebat ‘Samurai Jepang’ begitu menciutkan nyali, dan sukses membabat seluruh tim elite langganan Piala Dunia sepanjang masa.
Melalui berbagai laga sepanjang 2026, timnas Jepang asuhan pelatih Hajime Moriyasu tak pernah kalah. Mereka meruntuhkan raksasa Eropa dan Amerika Latin; Inggris 1-0, Jerman 4-1, Spanyol 2-1, Brasil 3-2, Argentina 5-2, Skotlandia 1-0, Tiongkok 7-0, Indonesia 6-0. Satu-satunya yang sanggup menahan Jepang hanyalah Australia 1-1.
Tak seluruh kemenangan Jepang dicapai mudah, acapkali ia menerima gempuran hebat separuh babak pertama tanpa gol. Tetapi bagaikan mesin diesel, makin panas mesinnya kian ganas serbuannya. Seluruh 10 pemainnya, kecuali kiper, bisa mengirim tembakan geledek jarak jauh dari posisi manapun berdiri maupun berlari. Dari bola hidup ataupun bola mati. Dari serangan tunggal maupun gropyokan. Pemain Jepang berkarakter buas gol seperti serigala lapar.
Sepak bola indah gaya Brasil dan Argentina pun dibuatnya kocar-kacir. Kecermatan dan disiplin Eropa pun porak peranda. Jepang memainkan gaya bermain yang menggabungkan kedisiplinan, kerapian struktur, kecermatan operan, efektivitas serangan, ditopang spirit pantang jeda. Jadilah sebuah gaya bermain baru komplet yang nyaris tanpa cela.
| Baca juga: Megastar, Si Peremuk Gawang |
Jepang menggebrak jalan menuju Piala Dunia 2026 dengan lolos tercepat. Tergabung dalam satu grup bersama Korea Utara, Suriah dan Myanmar, Jepang mencetak 24 gol tanpa kebobolan. Keenam pertandingannya dilalui dengan mulus untuk mengunci posisi teratas. Tim ini menang beruntun atas Tiongkok, Bahrain dan Arab Saudi, hanya imbang melawan Australia. Jepang lah tim pertama yang mencapai Piala Dunia setelah tiga tuan rumah, dan mencetak kualifikasi tercepat mereka sepanjang sejarah.
Awalnya Mabuk Bisbol
Sampai pada 1988, Jepang masih nol besar prestasi. Jangankan lolos ke Piala Dunia, masuk putaran final Piala Asia saja mereka belum pernah. Dan, meski pernah meraih medali perunggu di Olimpiade 1968, prestasi itu sama sekali tidak mampu mengangkat kualitas Jepang. Saat itu warga Jepang masih mabuk berat pada bisbol. Mereka memainkannya dari pagi hingga langit gelap. Tak segan televisi dan surat kabar meliputnya nonstop.
Liga sepak bola sudah ada dengan sebutan Japanese Football League (JFL), yang kompetisinya digelar sejak 1965 secara semiprofesional. Saat itu, semua klub di Jepang dimiliki perusahaan dan para pemainnya pun berstatus karyawan. Akibatnya hampir tidak ada orang Jepang tertarik mendukung klub yang mewakili perusahaan. Animo penonton terus merosot, kompetisi hanya menyisakan stadion yang melompong.
Dikutip dari laman FIFA, Jepang merombak system kompetisinya dari basis perusahaan ke klub-klub kota, mirip di Eropa. Untuk mewujudkannya JFL membentuk Komite Revitalisasi yang melahirkan Liga Jepang (J-League) pada 1991. Di sini kompetisi diubah menjadi professional penuh. Perusahaan-yang dulu berstatus sebagai pemilik klub, diubah menjadi sponsor utama.
J-League pun dipentaskan untuk pertama kali pada 1993. Dukungan dana yang melimpah, mendorong klub-klub mengontrak bintang-bintang besar macam Zico, Gary Lineker, dan Dragan Stojkovic. Animo masyarakat pun meledak. Mereka yang tadinya tidak peduli mulai berduyun ke stadion.
Era sepak bola profesional Jepang dimulai. J-League didirikan dengan fokus pada struktur profesional dan akademi bakat muda. Digelar pula kompetisi sepak bola antarsekolah dan universitas yang ketat kompetisinya. Apa yang dilakukan Jepang itu dilakukan juga Tiongkok dan negara-negara Timur Tengah.
Evolusi model Jepang terjadi juga di Amerika pada era 1960-1970-an, saat warganya juga gila bisbol dan football (bukan soccer). Virus sepak bola merebak saat klub North American Soccer Leagu (NASL), New York Cosmos, mendatangkan Pele, Franz Beckenbauer, dan Giorgio Chinaglia.
Bedanya Jepang disiplin menjaga agar liga mereka tidak menurun kualitasnya seandainya para pemain bintangnya pergi. Solusinya Jepang mengembangkan pembibitan muda sejak anak-anak, lewat tayangan cerita anime dan manga 'Captain Tsubasa'. Disusun program yang diterapkan di sekolah-sekolah, jadi fondasi pengembangan sepak bola Jepang. Strategi jangka panjangnya, menyusun "DNA Project" untuk mencetak pemain muda yang cepat, lincah, kuat secara fisik, dan cerdas.
Siapa Tom Byer?
Seorang mantan pesepak bola profesional asal AS yang menetap di Jepang sejak akhir 1980-an, namanya Tom Byer, ditunjuk sebagai pemimpin program pemain muda ini. Bagi Byer, sepak bola adalah tentang teknik dan kebahagiaan. Dari situlah identitas persepakbolaan Jepang dibentuk. Byer adalah seorang pelatih di sebuah akademi sepak bola tempat anak dari presiden Nestle Japan. Upayanya ditunjang acara televisi 'Oha Suta' yang tayang tiap hari dan dua halaman khusus di 'KoroKoro Komikku'. Di situ Byer mengajarkan teknik sepak bola secara menyenangkan.
Salah seorang pemain yang diasuh Byer adalah Shinji Kagawa. Nama lain adalah Keisuke Honda, meski tidak berlatih dibimbing Byer, Honda adalah pemirsa setia program TV yang diasuh Tomsan, sapaan Byer. Sedari kecil, pemain bintang 'Samurai Biru' yang kini jadi penghuni Tim Nasional sudah kenyang dicekoki teknik, teknik, dan teknik oleh Byer. Sebagian di antaranya kini bermain di liga Eropa. Tak heran Jepang menjadi kumpulan pemain berteknik tinggi.
Byer dalam wawancara bersama The New Indian Express, mengungkapkan rahasia di balik ini semua adalah karakter masyarakat Jepang itu sendiri. Mereka mirip orang Jerman, sangat terorganisir, punya disiplin tinggi, dan peka terhadap detail. Selain itu, Jepang juga 'diuntungkan' dengan kekalahan mereka di Perang Dunia II. Dari sana, terbangun tekat bersama untuk bangkit dalam segala hal. Dari segi industri, mereka sudah melakukannya. Kini dari segi olahraga, khususnya sepak bola dibuktikan.
Laju progress ini membuat Jepang sulit dikejar negara-negara lain di Asia. Memang ada Arab Saudi, Iran, atau Korea Selatan tapi tak satu pun punya rencana sehebat Jepang. Tiongkok juga minta bimbingan Byer, maklum mereka sudah tertinggal 30 tahun dari Jepang.
Hajime Moriyasu sebagai pelatih kepala sejak Juli 2018, kini menjelma dirijen timnas paling disegani. Di pundaknya dibebankan ekspektasi publik dunia yang sedang menunggu aksi Samurai Biru bulan Juni mendatang. Bagi kita di Indonesia, kapan kita meniru jejak Jepang. Dan jangan heran jika nanti kita saksikan Jepang menjadi negara Asia pertama yang mengangkat trofi Piala Dunia. Hadiah sepadan bagi kerja keras 30 tahun.

Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....