Publik Ragu Brasil Berhasil

  • 15 Jun 2026 06:04 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • PIALA Dunia sepak bola identik dengan nama besar Brasil.
  • Tetapi kali ini para pemuja Tim Samba dihimpit keraguan.
  • Adakah Brasil sanggup lanjut menuju partai puncak, atau akan terjerembab lebih pagi?

.

Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)

PIALA Dunia sepak bola identik dengan nama besar Brasil. Tidak ada tim negara manapun yang seharum dan sehebat dia. Tetapi kali ini para pemuja Tim Samba dihimpit keraguan. Adakah Brasil sanggup lanjut menuju partai puncak, atau akan terjerembab lebih pagi? Di seberang lapangan, banyak tim lain yang mampu tampil buas dahaga gol, barisan muda enerjik produk gemblengan jangka panjang. Tengok regenerasi Jepang, Norwegia, Argentina, Jerman, dan si raja Eropa Spanyol.

Publik paham, perjalanan Brasil menuju Piala Dunia 2026 tak membanggakan. Unjuk kerjanya tak meyakinkan di babak kualifikasi. Sepanjang pertandingan persahabatan alih-alih menang, Brasil justru sering kalah. Lawan Argentina kalah 0-1, lawan Spanyol 2-2, melawan Portugal yang diperkuat Ronaldo, Brasil bertahan 2-2, tapi kalah adu penalti.

Namun, drama paling menyakitkan saat melawan tim Samurai Biru (Jepang) dari Asia. Inilah kali pertama Brasil ditundukkan tim Asia 2-3, meski setengah main sempat memimpin 2-0. Pada 45 menit berikutnya, Jepang menceploskan 3 gol beruntun berkelas dunia. Pelatih Brasil, Carlo Ancelotti, sampai melongo mendapati timnya diobrak-abrik Samurai Biru.

Menunggu Neymar

Brasil lolos kualifikasi Piala Dunia 2026 di Amerika Selatan peringkat ke-5. Meraih 28 poin dari 18 pertandingan, memenangkan 8, seri 4, dan kalah 6, mencetak 24 gol dan kebobolan 17 gol. Selecao Brasil finis 10 poin di belakang rival abadi mereka, Argentina. Brasil juga dua kali kalah, termasuk kalah memalukan 1-4 pada Maret 2025 dari tim Messi.

Dampaknya pelatih Fernando Diniz dan Dorival Junior dipecat, digantikan ahli strategi terkenal Carlo Ancelotti untuk memimpin empat pertandingan kualifikasi tersisa dan putaran final Piala Dunia 2026. Ini adalah kali pertama Ancelotti melatih tim nasional dan ditargetkan membantu Brasil mengakhiri paceklik Piala Dunia selama 24 tahun.

Ancelotti dikenal kaya opsi formasi dan gaya bermain. Saat melatih AC Milan dan Real Madrid, ia sukses besar meraih lima gelar Liga Champions UEFA. Ia memenangkan dua gelar bersama AC Milan dan tiga kali bersama Real Madrid. Ancelotti melatih timnas Brasil menyiapkan setidaknya tiga pilihan formasi andalan: 4-2-3-1, 4-2-2-2, dan 4-3-3.

Ketajaman Brasil terletak pada lini serang yang unggul kecepatan, kemampuan menggiring bola, dan permainan individu yang indah tapi tajam. Di sana terdapat barisan ‘para penyihir bola’ seperti Vinicius Jr., Raphinha, Matheus Cunha, Endrick Felipe, Gabriel Martinelli, dan tentu Neymar.

Di bawah asuhan Carlo Ancelotti, gaya permainan Brasil menjadi jauh lebih cepat, langsung, sedikit gaya, dan jarang mengoper bola. Striker terbaiknya Igor Thiago bergaya sederhana, sangat efektif memberi umpan-umpan dari sayap ke kotak penalti untuk disambut Vinicius Jr. dan Raphinha.

Casemiro dan Bruno Guimarães akan menjadi pasangan gelandang tengah. Casemiro adalah pemain kunci di lini tengah Manchester United.

Lini depan akan dipertajam Raphinha pencetak gol terbanyak (5 gol) Brasil selama kualifikasi. Pemain Barcelona ini piawai melakukan pergerakan tanpa bola, sering turun ke belakang mendukung pertahanan. Dari sayap tampil Vinicius Jr., winger Real Madrid yang lincah.

Di pilar belakang Brasil punya penyapu (sweeper) andal pada diri Casemiro, 33 tahun, yang tetap menjadi salah satu pemain terpenting. Para bintang penyerang Brasil bermain di klub-klub besar Eropa. Unggul teknik individu, kecepatan, determinasi, dan siap kendalikan bola secara mandiri.

Duet bek tengah Marquinhos dan Gabriel bermain di PSG dan Arsenal masing-masing memenangkan gelar liga mereka dan mencapai final Liga Champions UEFA. Gabriel itu bek tengah nomor satu di Eropa untuk musim 2025/2026.

Ke mana gerangan superstar Neymar, yang bahkan kemarin tidak diturunkan lawan Maroko. Ia belum pulih dari cedera betis saat Mei 2026 bermain untuk Santos. Targetnya lawan Haiti 19 Juni nanti Neymar merumput. Saat membela Brasil Oktober 2023, otot ACL-nya putus. Seharusnya ini Piala Dunia keempat baginya.

Masa Suram

Para penggemar tahu performa Brasil menurun dalam dua dekade terakhir. Brasil gagal melaju lebih jauh dari perempat final dalam lima Piala Dunia berturut-turut (2006, 2010, 2014, 2018, 2022). Brasil selalu datang menyandang harapan besar, meski mungkin tidak lagi memiliki skuad yang lebih unggul dari para kandidat juara.

Brasil berada di grup yang relatif mudah bersama Maroko, Haiti, dan Skotlandia. Lawan terberatnya Maroko, tim dengan banyak pemain yang merumput di berbagai liga top Eropa. Maroko pernah finis keempat pada tahun 2022. Sementara itu, Haiti dan Skotlandia terlalu lemah.

Kemarau gelar terpanjang Brasil sejak pertama kali meraih gelar dunia pada 1958 berlangsung selama 24 tahun, dari 1970 hingga 1994.

Carlo Ancelotti (Italia) menjadi orang asing pertama yang memimpin Brasil di Piala Dunia. Ia manajer paling sukses dalam sepak bola klub. Pernah jadi asisten pelatih timnas Italia di bawah Arrigo Sacchi. Saat itu Italia finis sebagai runner-up pada 1994, dikalahkan Brasil di final.

Piala Dunia 1970 Meksiko adalah yang paling gemilang, saat skuad Brasil bertabur bintang penyerang mematikan seperti Pele, Jairzinho, Tostao, dan Rivelino. Brasil menyapu tandas semua pertandingan dan mengangkat Trofi Jules Rimet setelah melindas Italia 4-1 di final.

Pada tahun 2022 Brasil tersingkir oleh Kroasia di babak perempat final, mirip kekalahan mereka di tahap yang sama empat tahun sebelumnya. Di perempat final melawan Kroasia, runner-up Piala Dunia 2018, Brasil tersingkir kalah 4-2 dalam adu penalti. Namun Brasil juga pernah mencatat kemenangan terbesar di Piala Dunia saat mengalahkan Swedia 7-1 pada 9 Juli 1950 dengan empat gol dari Ademir de Menezes.

Belum pernah ada tim lain yang memenangkan lima gelar Piala Dunia. Publik tetap percaya tim yang perjalanannya ‘kurang meyakinkan’ ini mampu menebus keraguan. Rasanya tidak ada yang rela Brasil kalah, meski sesungguhnya tebersit keraguan.

Apa pun Brasil tetaplah Brasil. Ia bukan kesebelasan lazimnya. Brasil adalah sekumpulan para penyihir yang tetap dipuja dan favorit di hati sejagat penggemarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....