Gunung dan Jalur Maut Penerbangan

  • 20 Jan 2026 20:49 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KEINDAHAN gunung-gunung di Indonesia, berselimut awan, berbalut kabut, dan vegetasi lebat, sangatlah memesona. Terbang di atas pegunungan dan hutan lebat, jauh lebih menyenangkan ketimbang menjelajah di atas lautan luas yang datar.

Namun bagi para pilot, segala pesona itu bisa mengundang bencana bila tak cermat menduga. Sejumlah kecelakaan pesawat mirip ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel) membuktikan betapa krusial terbang di antara gunung.

Pesawat yang dioperasikan Indonesia Air Transport ini, mencari jalur pendaratan di bandara Sultan Hasanuddin Makasar. Dia tidak menempuh jalur normal yang dituntun ATC (Air Traffic Controller), tetapi menyasar ke kawasan pegunungan Kab Maros.

Boleh jadi pilot Capt Andi Dahananto tidak mengoperasikan ILS (Instrument Landing System) yang bisa menuntun dirinya memasuki jalur aman ke arah landas pacu, meski cuaca saat itu buruk. Ia mungkin memilih terbang visual, mengandalkan pandangan mata, melihat daratan melalui celah-celah awan.

Namun gunung adalah tempat berkumpul awan tebal dan embusan angin kuat. Jika benar awan telah membutakan pandangannya, pilot tak sadar di depannya Gunung Bulusaraung menghadangnya.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menduga ATR 42-500 menabrak gunung hingga membuat Emergency Locator Transmitter (ELT) tidak berfungsi. Tanpa sinyal ELT regu pencari sulit menemukan lokasi pesawat.

Tragedi Gunung Puntang

Terbang visual adalah pilihan elegan seorang pilot, dengan catatan ia sudah kenal dan hapal jalur pendaratannya. Terbang dengan mata telanjang ini pula yang pernah dipilih pilot wanita Fierda Panggabean, saat menerbangkan CN-235 dari Semarang dan mendarat di Bandung.

Pesawat buatan BJ Habibie itu sudah dilengkapi instrumen canggih termasuk ILS. Namun, Fierda yang sudah mengenal baik rute Bandung ini yakin mampu menerobos deretan gunung menuju runway bandara Husein Sastranegara.

Dari Semarang ia menjelajahi langit cerah menyusuri pantura Jawa. Sampai di atas Cirebon ia berbelok ke selatan melintas di atas Sumedang, Kuningan, dan Majalengka.

Di kawasan ini berderet tegak sepasang gunung yaitu Ciremai dan Cakrabuana. Bergeser lebih ke selatan pesawat akan berjumpa deretan Gunung Sawal, Cikurai, Galunggung, Papandayan, Patuha, dan Gunung Malabar. Semua gunung yang mengepung Bandung ini berketinggian di atas 2.200 mdpl.

Belantara daratan tinggi ini berpotensi menghasilkan awan tebal dan angin. Situasi inilah yang menjebak pesawat Merpati Nusantara Airlines MZ-5601 (registrasi PK-MNN, "Trangan"). Penerbangan pada 18 Oktober 1992 itu berakhir di dinding tebing Gunung Puntang yang sebenarnya hanya 1.700 mdpl tingginya.

Cuaca buruk dan kabut tebal tiba-tiba menyergap, menyebabkan disorientasi navigasi, akibatnya pilot terbang terlalu rendah. Seluruh 31 orang di dalam pesawat, yaitu 27 penumpang dan empat kru, tewas.

Sebuah monumen peringatan dibangun di Desa Cipaganti sebagai penghormatan bagi korban, mencantumkan nama 31 korban. Tragedi ini menjadi kecelakaan paling mematikan yang melibatkan pesawat CN-235 pada saat itu.

Awal 1980-an sebuah Fokker F-28 Merpati, hancur menabrak bukit Pundak Lembu di kawasan Gunung Bromo. Pesawat ini sudah sakit mesinnya, diterbangkan darurat hanya oleh empat awaknya dari Denpasar menuju Surabaya.

Seharusnya jalur terbangnya menyusur di atas langit Probolinggo. Bersamaan itu angin sangat kuat yang rutin berembus dari laut, disebut ‘angin gendhing’ menyeret pesawat ke arah Bromo. Belum sempat melampaui dinding Bromo, Fokker buatan Belanda dan bermesin kembar Rolls Royce ini, membentur Pundak Lembu. Seluruh awaknya tewas, seorang di antaranya pramugari.

Masalah Mesin

Direktur Operasional Indonesia Air Transport, Capt. Edwin, mengatakan pesawat ATR 42-500 sempat mengalami masalah mesin sebelum jatuh. Namun, Edwin mengklaim pesawat sudah diperbaiki.

Sebelum sampai Yogyakarta, pesawat ini juga terbang baik-baik saja dari Jakarta ke Semarang lalu ke Yogyakarta. Pihaknya juga melakukan tes penerbangan setelah perbaikan dan hasilnya semuanya dinyatakan normal.

"Kami sudah perbaiki dan kami sudah tes terbukti dari Halim sampai Semarang dan Jogja tidak ada masalah. Jadi semua sudah normal kita sudah perbaiki," ia mengungkapkan.

Pesawat ATR 42-500 buatan 2000 itu sebelum kejadian, sempat diarahkan mendekat ke landasan pacu. Pada pukul 04.23 pesawat diarahkan Air Traffic Control Makassar Area Terminal Service Center (MATSC) untuk melakukan pendekatan ke landasan pacu RWY 21 Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar.

Dalam proses ‘approach to land’ itu pesawat teridentifikasi tidak berada pada jalur pendekatan yang seharusnya. ATC lalu memberikan arahan ulang kepada awak pesawat untuk melakukan koreksi posisi, membawa pesawat kembali ke jalur pendaratan yang sesuai dengan prosedur.

Terakhir komunikasi terputus. KNKT menamakan insiden ini sebagai Controlled Flight Into Terrain (CFIT) kendati menabrak gunung, dipastikan pesawat ATR tersebut masih dalam kendali pilot. Tidak ada masalah untuk kendali pesawatnya.

ATR 42-500 atau Avions de Transport Regional adalah pesawat turboprop penumpang sipil (airliner) komuter regional dengan kapasitas 42 orang penumpang. Dibuat Aerospatiale Prancis dan Aeritalia (sekarang Alenia Italia).

Ia ditenagai mesin turboprop 1610 kW buatan pabrik Kanada yang terkenal, Pratt & Whitney PW-127Es. Jumlah baling-baling setiap mesinnya 6 bilah, mampu terbang kecepatan 563 km/jam (304 mil/jam) dan jarak jelajah 1.850 km. Bobot kosongnya 11.250 kg dan berat maksimal saat lepas landas (take-off) 18.600 kg.

Aerospatiale dan Aeritalia (sekarang Alenia) membuat seri ATR (Avions de Transport Regional) untuk penerbangan lokal. ATR 42 merupakan seri pertama yang diluncurkan pada oktober 1981. Prototipe pertama mengudara pada 16 Agustus 1984, Mendapat Sertifikasi kelaikan udara dari Prancis dan Italia pada September 1984 dan pada Desember 1984 sudah mulai dioperasikan maskapai penerbangan.

Meski banyak perbaikan, baru pada 1995 diluncurkan ATR 42-500 dengan mesin lebih kuat dari varian sebelumnya, propeler berbilah 6 dan kokpit yang terkomputerisasi. Total pemesan ATR 42 sejak versi awal mencapai 343 dan sudah digunakan luas di dunia.

Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....