BENCANA Sumatra telah menyingkap tabir gelap kelestarian hutan tropis Indonesia, khususnya kawasan Bukit Barisan yang membentang 1.650 km dari Lampung hingga Aceh. Perdebatan tentang sisa hutan yang masih terjaga, berpusing-pusing pada beda definisi dan cara mencatat. Data Kementerian, beda dengan data lembaga pemerhati hutan, pula tak sama dengan data dunia.
Data pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melaporkan pada 2024 deforestasi neto mencapai 175,4 ribu ha, hasil deforestasi bruto 216,2 ribu ha dikurangi reforestasi (penanaman kembali) seluas 40,8 ribu ha. Tahun 2016-2022 kehilangan hutan primer tahunan menurun dari 930.000 ha pada 2016 menjadi 230.000 ha pada 2022.
Laporan berbeda datang dari lembaga lain seperti Auriga Nusantara yang tahun 2023 mencatat deforestasi 257.384 ha, meningkat dari 2022 yang 230.760 ha. Forest Watch Indonesia (FWI) mengkritik klaim KLHK, menyatakan deforestasi tertinggi justru terjadi di kawasan konsesi legal, bukan di hutan ilegal.
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni saat rapat bersama Komisi IV DPR RI pada 4 Desember 2025 lalu mengakui penggundulan hutan meningkat tajam dalam lima tahun terakhir, terutama di tiga wilayah bencana Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Dari Januari hingga September 2025 tingkat deforestasi 166.450 ha, atau naik 47.358 Ha (28 persen) dari catatan tahun 2020 seluas 119.092 Ha.
Penyebab utama deforestasi di Indonesia terkait dengan ulah manusia bukan semata alam. Ekspansi pertanian dan perkebunan, terutama kelapa sawit, penyumbang terbesar. Juga pertambangan, kebakaran, penebangan hutan (ekstraksi kayu), dan pembangunan infrastruktur proyek strategis nasional.
| Baca juga: Malaysia Ingin Rebut ‘Ibu Kota Durian’ Asia |
Jika kita gunakan citra satelit Landsat milik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), luas lahan berhutan pada 2024 mencapai 95,5 juta hektare, atau 51,1 persen dari total daratan. Sebaliknya laju penghutanan kembali (reforestasi) hanya 217,9 ribu ha pada tahun 2024, naik jadi 230 ribu ha tahun ini.
Seluas Daratan Korea
Kasus deforestasi pernah disebut Mahfud MD dalam debat Cawapres Januari 2023 lalu. Ia sebut hutan gundul Indonesia melebihi luas Korea dan 23 kali luas Pulau Madura. Selama 10 tahun terakhir luas hutan yang hilang mencapai 12,5 juta ha.
Mahfud mengutip data Global Forest Watch yang memotret hilangnya tutupan hutan dalam waktu tertentu. Sementara pemerintah memakai data deforestasi neto yang dihitung berdasarkan jumlah deforestasi bruto dikurangi reforestasi (penghutan kembali).
FAO dan World Bank mencatat laju deforestasi 300 ribu ha/tahun pertahun 1970an, meningkat jadi 600 ribu ha/tahun pada 1981, dan satu juta ha/tahun 1990. Deforestasi malah meningkat pada era otonomi daerah dengan laju 3,51 juta ha per tahun. Forest Watch Indonesia (FWI) memadukan data Forest Lost Hansen (University of Maryland) hingga tahun 2020 ada sekitar 680 ribu ha hutan yang hilang dengan laju rata-rata 227 ribu ha/tahun.
Deforestasi di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat meluas secara eksponensial. Aceh pada 2024 hingga September 2025 kehilangan hutan seluas 10.100 Ha. Jumlah ini jauh lebih parah dibandingkan 2020 yakni seluas 1.918 Ha atau meningkat 8.182 Ha (426,59 persen).
Sumatra Utara tidak kalah mengkhawatirkan, dalam lima tahun lahan deforestasi meluas 4.909 Ha atau 398,13 persen. Sumatra Barat pun menggila peningkatannya yakni 637,08 persen dalam lima tahun terakhir atau 4.931 Ha.
Di balik amblasnya hutan, Raja Juli mengungkap nilai ekonomi sektor kehutanan, termasuk investasi serta nilai transaksi ekonomi, berdasarkan data Badan Pusat Statistik BPS sebesar Rp 97,2 triliun.
Terjadi peningkatan kontribusi kehutanan terhadap PDB sejak 2020 dan mencapai puncaknya pada 2024 senilai Rp129,57 triliun. Nilai investasi sektor kehutanan Rp1,8 triliun, melesat ke Rp34,7 triliun pada 2024.
Rudet pada Definisi
Diskursus tentang hutan selain terkesan ruwet di angka, juga rudet pada definisi. Pengertian deforestasi berbeda-beda antar lembaga negara berdampak pada besaran angka yang tidak pernah sama. Kementerian LHK belum terbuka merilis angka deforestasi secara kumulatif dari tahun ke tahun.
Bahkan punya banyak definisi terkait deforestasi, yaitu deforestasi terencana (planned deforestation), deforestasi tidak terencana (unplanned deforestion), deforestasi bruto (gross deforestation) dan deforestasi netto (netto deforestation).
Deforestasi terencana adalah pembabatan hutan melalui izin konsesi hutan alam, hutan tanaman industri, atau konversi hutan untuk tujuan lain, seperti perkebunan, pertambangan, infrastruktur, lumbung pangan. Sementara deforestasi tak terencana berasal dari penggundulan hutan seperti pembalakan liar atau kebakaran hutan dan lahan. Contoh pemerintah merencanakan penggundulan hutan seluas 325.000 ha per tahun hingga 2030.
Di saat kita sengit berdebat, faktanya dunia kehilangan jutaan hektare hutan primer tropis setiap tahun. Global Forest Watch mencatat Indonesia tertinggi kelima setelah Rusia, Brasil, Kanada, dan Amerika Serikat. Berdasarkan data 2024, total 1,1 juta hektare luas tutupan pohon yang hilang.
Lima provinsi dengan deforestasi tertinggi berada di Sumatra dan Kalimantan, yaitu Riau (4.3 juta ha), Kalimantan Barat (4.2 juta ha), Kalimantan Tengah (3.9 juta ha), Sumatera Selatan (3.3 juta ha), dan Kalimantan Timur (3,1 juta ha).
Kalimantan berkontribusi paling signifikan terhadap deforestasi nasional. Kebakaran hutan, ekspansi perkebunan, pertambangan, pembangunan infrastruktur, dan aktivitas ilegal lainnya menjadi faktor pemicu yang terus berulang. Jangan sampai anomali cuaca ekstrem mengempaskan Kalimantan yang dulu dikenal sebagai ‘hutan lebat tak berujung’, menjadi neraka baru.

Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....