Negeri ini Bertahan Karena Warganya Saling Menjaga

  • 06 Des 2025 22:04 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

BENCANA banjir dan longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar datang tiba tiba dan bergerak lebih cepat daripada banyak orang sempat memahami apa yang sedang terjadi. Air naik dalam hitungan jam, merendam perkampungan dan memutus kehidupan sehari hari.

Kita hanya bisa membayangkan bagaimana manusia bertahan dalam peristiwa yang menyayat seperti itu. Orang tua yang menyelamatkan anaknya sambil menembus arus, keluarga yang berpisah di tengah kepanikan, dan warga yang meninggalkan rumah tanpa tahu apakah mereka bisa kembali.

Bencana memang tidak pernah memberi waktu untuk bersiap. Ia datang, merusak, lalu pergi meninggalkan jejak panjang yang tidak hilang hanya karena air surut.

Di tengah kekacauan itu ada kenyataan yang lebih pahit. Mereka yang memiliki rumah menyaksikan tempat tinggal yang bertahun tahun berdiri tiba tiba lenyap, seolah ada tangan besar yang menghapusnya dari permukaan tanah.

Mereka yang sejak awal tidak memiliki rumah kini semakin terpuruk, kehilangan satu satunya tempat berteduh yang bahkan sebelumnya pun tidak layak disebut sebagai rumah. Ladang dan sawah terseret lumpur, padi yang menunggu panen hilang tanpa jejak, dan kebun yang menjadi tumpuan hidup roboh seperti tidak pernah ada.

Sumber ekonomi masyarakat hancur lebur, seakan akar penghidupan mereka tercabut dalam sekejap. Dalam bencana seperti ini, tidak hanya rumah yang hilang, tetapi juga arah hidup yang selama ini dibangun pelan pelan.

Namun seperti yang berulang kali kita saksikan di negeri ini, masyarakat justru menjadi pihak yang pertama menyalakan harapan. Setiap kali bencana menghantam, publik bergerak tanpa menunggu arahan.

Mereka saling mengabarkan, saling mengirim bantuan, saling menjemput orang yang terjebak. Mereka bertindak bukan karena diperintah, tetapi karena merasa ada kewajiban moral yang hidup di antara sesama manusia. Seolah ada kesadaran bersama bahwa dalam situasi seperti ini, manusia hanya bisa diselamatkan oleh kebaikan manusia lainnya.

Di tengah gelombang empati yang begitu tulus, ada satu hal yang seharusnya tidak lagi kita lihat. Jangan sampai ada pejabat negeri ini yang memanfaatkan suasana duka sebagai panggung citra, seolah bencana adalah latar belakang untuk kepentingan pribadi atau golongan.

Luka masyarakat bukan tempat untuk berpura-pura menjadi pahlawan, dan penderitaan penyintas bukan naskah yang bisa dibaca sesuai kebutuhan publikasi. Bahkan lebih halus dari itu, jangan ada lagi pernyataan yang keluar tanpa empati.

Sebab, hal itu justru bisa menambah perih mereka yang terdampak dan membuat masyarakat lain merasa dihina. Di tengah suasana sesesak ini, kata kata yang tidak dijaga bisa lebih menyakitkan daripada derasnya arus banjir.

Langkah seorang konten kreator muda, Ferry Irwandi, menjadi bukti paling jelas dari gelombang empati itu. Dalam waktu sekitar dua puluh empat jam saja, ia menghimpun lebih dari Rp10 miliar melalui live streaming.

Tidak ada mekanisme resmi yang melibatkannya. Tidak ada rapat, instruksi, atau struktur rumit. Hanya keberaniannya untuk hadir dan kepercayaan publik yang mengalir deras.

Ribuan orang mengirimkan bantuan karena merasa melihat sendiri bagaimana uang itu berubah menjadi logistik, tenaga, dan gerak nyata di lapangan. Ia menjadi simbol dari era baru solidaritas digital, di mana kepedulian bisa mengalir secepat notifikasi di layar ponsel.

Di luar itu, komunitas komunitas kecil juga bergerak dengan caranya sendiri. Warga yang tidak saling kenal membuka donasi bersama. Relawan lokal menyisir wilayah banjir meski belum ada komando.

Banyak grup WhatsApp keluarga, RT, alumni, kantor, hingga grup hobi tiba tiba berubah menjadi posko kemanusiaan. Pesan pesan yang biasanya hanya berisi candaan mendadak berganti menjadi daftar kebutuhan logistik, jadwal pengiriman barang, dan pembagian tugas relawan.

Ruang-ruang percakapan sederhana itu berubah menjadi pusat gerak yang lincah, seolah masyarakat memiliki sistem darurat alami yang aktif setiap kali bencana datang. Gerakan gerakan kecil ini, jika dirangkai, membentuk jaringan solidaritas yang tampak lebih hidup dan lebih luwes daripada protokol apa pun.

Dari jauh, muncul satu kisah lain yang menggugah. Seorang warga Gaza bernama Abu Ahmad, yang hidup di tengah reruntuhan perang, mengirim sekitar USD1.000 atau sekitar Rp16 juta untuk korban banjir dan longsor di Sumatra.

Di tengah kehidupannya yang serba tidak pasti, ia masih merasa perlu mengulurkan tangan. Ketika seseorang yang hampir tidak memiliki apa apa tetap memberi, barangkali itulah bentuk solidaritas paling jernih yang bisa kita saksikan.

Psikolog sosial melihat respons cepat masyarakat ini sebagai refleks kolektif yang tumbuh dari pengalaman panjang menghadapi bencana. Masyarakat Indonesia bergerak membantu bukan hanya untuk meringankan beban orang lain, tetapi juga untuk meredakan kegelisahan moral bahwa ada orang yang sedang menderita tanpa daya.

Live streaming memberi kedekatan emosional yang tidak dapat digantikan oleh laporan berkala. Pada layar kecil itu, publik melihat wajah, mendengar suara, dan menyaksikan perjuangan.

Sosiolog menilai fenomena ini sebagai evolusi gotong royong. Dahulu bantuan berpindah dari rumah ke rumah, kini berpindah dari layar ke layar. Naluri yang sama, hanya alatnya yang berubah.

Masyarakat bergerak karena kebutuhan di lapangan tidak bisa menunggu prosedur. Negara tentu hadir dengan ritmenya, dengan tugas mengoordinasikan data, memastikan logistik, dan menjaga ketertiban. Namun ritme empati dan ritme birokrasi memang tidak selalu mampu berjumpa pada titik yang sama cepatnya.

Kritik yang muncul tidak untuk menyudutkan negara. Justru untuk mengingatkan solidaritas masyarakat tidak boleh menjadi penyangga permanen bagi celah struktural. Sebab jika kita terlalu nyaman dengan pola ini, kita akan lupa bahwa negara memiliki kewajiban yang jauh lebih besar dari publik.

Dan, jika masyarakat terus menjadi garis depan, maka pertanyaan yang sesungguhnya penting akan terus tertunda. Sampai kapan beban terbesar harus dipikul oleh mereka yang tidak memiliki wewenang apa apa.

Empati masyarakat Indonesia seolah telah menjadi identitas kebangsaan yang paling konsisten. Di negeri yang penuh kerumitan, justru warganya yang selalu menunjukan kesederhanaan paling mulia.

Namun ada ironi yang pelan pelan menyentuh dinding nurani. Jika empati publik terus menjadi identitas yang paling menonjol, apa yang tersisa sebagai identitas negara.

Jangan sampai kita dikenal sebagai bangsa yang kuat bukan karena negara melindungi rakyatnya. Namun sebaliknya kita dikenal sebagai bangsa yang rakyat ya terlalu sering menggantikan peran yang seharusnya dijalankan negara.

Solidaritas masyarakat adalah kekuatan yang membuat negeri ini tetap berdiri. Ia hadir tanpa syarat dan tanpa perintah, menjadi pengikat di tengah kekacauan yang memisahkan banyak hal.

Namun kekuatan itu juga menjadi alarm lembut bagi kita semua. Dan, opini ini harus ditutup dengan kejujuran yang tidak bisa ditunda, yaitu selama rakyat terus menambal celah, sistem akan terus nyaman dengan celah itu.

Dan, mungkin inilah saatnya kita bertanya pelan pelan siapa sesungguhnya yang menjadi fondasi negeri ini.

Penulis: Rudi Zein

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....