MINGGU ini mendadak kita tercambuk oleh cita-cita memiliki industri mobil mandiri. Bahkan Presiden Prabowo sendiri yang menegaskan tiga tahun lagi kita akan punya mobil nasional. Tim yang ditugasi mewujudkan gagasan besar ini sudah bergerak, lahan pabrik sudah siap, dan anggaran tersedia.
Presiden yakin proyek mobil nasional sebagai bukti penguasaan teknologi otomotif Indonesia dan penting untuk mewujudkan kemandirian bangsa. Anggaran siap meskipun pengembangannya seperti mobil Pindad Maung, masih terbatas kapasitasnya.
Akan dicari pendekatan baru dalam pengembangan mobil nasional, tidak terpaku pada cara lama, ketika sektor finansial kurang mendukung. Penyertaan modal negara jika diperlukan.
Di balik mimpi selalu tersimpan bongkah energi. Tetapi jalan mewujudkannya sungguh tidak mudah, di saat jagat otomotif dunia begitu sesak dan edan kompetisinya. Kita terpana oleh pertarungan para raksasa Jepang, Eropa, Korea, Tiongkok, dan kini Vietnam.
Digerakkan kekuatan industri swasta, mobil produksi mereka sudah melangit level teknologinya. Untuk sementara kita mengandalkan anggaran Negara dan memasarkannya di kalangan birokrat. Ini beda skema dan bisnis modelnya.
Bertarung secara teknologi dan komersial, butuh dukungan riset dan peta pasar yang cermat. Persaingan sudah ‘sangat merah’, nyaris tak tersisa lagi ‘blue ocean’. Presiden sadar tak mungkin dilakukan proteksi seperti Korea Selatan, yang perlu 20 tahun membangun dan mengunci pasar domestik bagi Hyundai, Daewoo, KIA.
Malaysia pun butuh belasan tahun melindungi Proton yang sejak 7 Mei 1983 PM Malaysia, Mahathir Mohammad, sendirilah yang menjadi panglimanya. Ia menggandeng Mitsubishi Jepang sebagai mitra strategis.
Tahun 1985 Proton Saga meluncur dan setahun berikutnya berhasil ekspor ke India dan Inggris. Kini Proton juga mengajak Geely Tiongkok bergabung. Sedangkan Daihatsu Jepang diundang menciptakan merk baru Perodua, sebagai mobil nasional kedua Malaysia.
Maung atau Garuda
Tahun ini Vietnam menyodok dengan VinFast, yang dalam sekejap menyerbu kota-kota besar di Asia Tenggara dengan mobil kompak dan sedan. Awal Desember ini VinFast mengapalkan 2.500 unit mobil listrik baru mengejar momentum Lebaran di Indonesia.
VinFast adalah anak usaha Vin Group, raksasa Vietnam bergerak di bisnis properti, mal, resor, rumah sakit, universitas, hingga robotika. Mereka menyediakan 150 ribu titik pengisian baterai di negerinya.
Presiden menyebut Maung buatan PT Pindad Bandung kelak sebagai andalan mobil RI. Pabrik ini banyak membuat kendaraan taktis militer dan tipe khusus, termasuk membuat mobil Presiden yang beratnya 2,9 ton bermesin bakar (internal combustion).
Kelak merk Maung akan diganti Garuda. Sementara swasta sudah melahirkan mobil listrik merk Polytron dan Aletra. Polytron bekerjasama dengan Sokon Auto Tiongkok. Sedangkan Aletra bermodal awal Rp2 triliun menggandeng Geely Jiaji dan Livan Maple, juga dari Tiongkok.
| Baca juga: Desa Siber Pangkas Birokrasi |
Merangkul mitra strategis Tiongkok salah satu skema yang mudah ditempuh, untuk mempercepat rancang bangun dan teknologi perakitan penuh robot. Merk MG (Morris Garage) pun coba dibangun bersama Inggris.
Harus diakui industriawan Tiongkok dan Vietnam berinovasi dalam kecepatan tinggi. Mereka sewa banyak ahli dari industri otomotif yang sudah besar dan mapan.
Termasuk menciptakan desain mutakhir yang akrab dengan selera global oleh para perancang Eropa dan Jepang. Kecerdasan membaca selera konsumen yang cepat berubah, dan menetapkan strategi penjualan yang kompetitif, sesuatu yang niscaya.
Ada Jejaknya
Jejak mobil listrik kita sudah ada. Mobil listrik Tucuxi pernah dikembangkan mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan, bersama pakar listrik Ricky Elson.
Meluncur 2012 Tucuxi ditenagai baterai lithium-ferro-phosphate berkapasitas 16 kWh, sekali pengisian yang hanya 15 menit, bisa menempuh 120 km. Diklaim mampu melaju 200 km per jam, dengan jarak tempuh maksimal 400 km, proyek ini terhenti karena gagal lolos uji emisi dan rusak saat test drive.
Ada lagi mobil listrik Gendhis, prototipe mobil MPV seven seater yang dikembangkan tim Tucuxi dan sempat diperkenalkan pada gelaran APEC 2013 di Bali. Inipun tak berlanjut ke produksi massal.
DFSK Gelora berhasil diproduksi massal dan merupakan mobil listrik buatan Indonesia pertama yang hadir di segmen komersial. Diproduksi oleh PT Sokonindo Automobile di Cikande, Tangerang, mobil ini tersedia dalam dua varian menggunakan baterai 42 kWh, dan mampu melaju 300 kilometer dalam sekali pengisian. Ini pilihan menarik untuk pelaku bisnis yang ingin beralih ke kendaraan ramah lingkungan tanpa mengorbankan efisiensi.
Merk berikutnya Fin Komodo Bledhex. Tampilannya cocok untuk petualangan off-road. Rilis pada 2021, mobil ini membuktikan anak bangsa mampu membuat mobil listrik tangguh. Desainnya yang kokoh sesuai dengan medan berat. Dengan harga sekitar Rp1,5 miliar, mobil ini bahkan sudah menerapkan fitur canggih, seperti voice command, smart dashboard, dan autonomous driving.
Mobil listrik Indonesia selanjutnya adalah Bimasena, tipe sedan berdesain elegan dan aerodinamis. Dibekali baterai lithium-air berkapasitas 100 kWh, Bimasena mampu menempuh jarak hingga 600 km dalam sekali pengisian. Harganya sekitar Rp2 miliar.
Bersama pabrikan Inggris, MG Motor Indonesia, awal 2024 meluncur New MG ZS EV yang dirakit pabrik MG di Cikarang, Jawa Barat, dengan tenaga lokal. Daya jelajahnya 400 km dalam sekali pengisian atau 520 km untuk jangkauan maksimal. Harga sekitar Rp450 juta.
Ada yang spektakuler pula, yaitu Selo, mobil listrik sport generasi kedua buatan Indonesia setelah Tucuxi. Didesain mirip supercar seperti Lamborghini dan McLaren, Selo sanggup melejit 220 km per jam didorong tenaga 182 hp, setara mobil bensin 2.500 cc.
Baterainya mampu menempuh 250 km setelah pengisian empat jam. Ia juga dilengkapi ‘regenerative brake’ yang otomatis mengisi baterai saat pengereman. Kendala regulasi menghentikan langkah Selo masuk produksi massal.
Itulah capaian ringkas dan temporer industri mobil listrik kita. Begitu pendek napasnya. Membangun mobil negeri dalam tiga tahun mungkin cukup untuk memenuhi jumlah produksi terbatas. Tetapi untuk bertarung di pasar bebas, meski pasar domestik kita besar, momentum sudah hampir tak terkejar. Hanya kerja ekstra keras yang bisa mengubah mimpi itu nyata.

Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....