Bertanding Pidato di PBB

  • 25 Sep 2025 10:19 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

PANGGUNG Badan Dunia Perserikatan Bangsa bangsa (PBB) adalah ujian bagi para pemimpin Negara, menawarkan gagasan visioner. Ibarat sebuah kontes berkelas dunia, di panggung ini terjadi ‘pertarungan gagasan’ dan aksi retorika yang menawan. Audiens menguji siapakah yang paling menginspirasi dan dikenang dalam sejarah.

Pidato Bung Karno bertajuk “To Build the World Anew” pada Sidang Umum ke-15 PBB tanggal 30 September 1960 di New York itu, kini diakui UNESCO (Badan PBB untuk Pendidikan, Sains, dan Kebudayaan) sebagai salah satu Memory of the World (MoW) atau Memori Dunia. Pidato itu diusulkan sejak 2018 dan resmi ditetapkan pada sidang dewan eksekutif UNESCO pada 10-24 Mei 2023, bersamaan dengan penetapan arsip Gerakan Non-Blok (GNB) di Beograd, Yugoslavia tahun 1961, dan Hikayat Aceh yang diajukan sejak 2017.

Sejarawan Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Asvi Warman Adam mencatat, Bung Karno menguraikan pemikiran konseptualnya tentang nasionalisme, anti-kolonialisme dan anti-imperialisme, solidaritas dan keadilan sosial antarbangsa, kebijakan koeksistensi damai dan perlucutan senjata, rekonstruksi/penguatan PBB. Ia bahkan dengan berani menawarkan Pancasila sebagai ideologi dunia, dan mendapat aplaus. Bung Karno juga menawarkan Tiongkok sebagai anggota baru PBB. Bukan karena motif dan kepentingan tertentu, namun karena Tiongkok berpenduduk terbesar, ekonominya kuat.

PBB Diberondong

Seruan Bung Karno itu tetap relevan dengan kondisi dunia sekarang, beragam isyu global diangkat kembali dalam pidato-pidato pemimpin Negara pada sidang PBB 2025 kemarin. Tiga Presiden dari Amerika, Brasilia, dan Indonesia pun menyerukan realitas aktual dunia saat ini. Substansinya saling mirip, hanya beda cara menyampaikannya.

Donald Trump sejak membuka pidatonya menyindir layar teleprompter yang rusak. Sindiran itu diulangnya lagi di tengah pidatonya yang terpanjang, di antara dua presiden lainnya, selama satu jam. Trump juga mencela eskalator gedung PBB yang ngadat. Sementara rombongannya yang besar, malah memacetkan jalan sehingga Presiden Prancis Macron terpaksa jalan kaki mencapai gedung PBB.

Secara umum retorika Trump terlihat datar. Intonasi dan gesturenya pun tak dinamis, minim penekanan, terkesan sedang bergumam. Beda dengan suara Presiden Prabowo yang lebih lantang, sehingga saat mikrofon beberapa detik mati, hadirin tetap bisa mendengar suaranya.

Bagai sebuah karaben, Trump memberondong kritik bertubi kepada badan dunia yang bermarkas di jantung New York itu.

Dikatakannya, PBB tak efektif atasi konflik dunia. Gagal menyelesaikan masalah yang seharusnya mereka urus. Terlalu sering justru PBB menciptakan masalah baru untuk kita selesaikan.

Yang ia dapatkan dari PBB hanyalah eskalator macet saat dirinya mau naik. PBB belum menunjukkan hasil nyata. Diperlukan tindakan nyata, bukan hanya kata-kata, untuk menyelesaikan perang dan krisis di seluruh dunia. Trump memuji dirinya telah berhasil mengakhiri tujuh perang, menghadapi berbagai pemimpin negara, dan tidak pernah menerima telepon dari PBB yang menawarkan bantuan menyelesaikan perundingan damai.

Sebaliknya Trump menggambarkan dirinya sebagai pembawa perdamaian dan mengatakan ia layak mendapat penghargaan atas beberapa pencapaiannya. Ia bilang seharusnya dapat Hadiah Nobel Perdamaian. Soal Rusia, Donal Trump memperingatkan kemungkinan sanksi tegas jika Moskow tidak bersedia berunding menuju perdamaian. Ia serukan Eropa harus mengurangi impor minyak dan gas dari Rusia. Ia pun menuduh Tiongkok dan India sebagai pendukung perang karena membeli minyak Rusia.

Pidato Berenergi

Terkait perang Israel-Hamas di Gaza, Trump tolak pengakuan negara Palestina oleh beberapa negara, karena pengakuan sepihak justru memberi hadiah kepada Hamas atas kebiadaban mereka.

Sikap Indonesia terhadap masa depan Palestina, jelas mendorong tercapainya perdamaian berdasarkan solusi kedua Negara yang bertikai. Dengan nada suara serak-bariton yang tegas, diikuti mimik serius, Presiden Prabowo memukau hadirin dengan bahasa Inggris yang mengalir, meski tidak lagi membaca teks. Ekspresi itu tampak jelas saat Presiden menegaskan tekad negaranya ikut menjaga perdamaian.

Indonesia akan hadirkan pemuda-pemudi bukan hanya menjaga Gaza, tetapi juga menjaga perdamaian di Ukraina, Sudan, dan Libya. Akan dikerahkan 20.000 pasukan perdamaian dari Indonesia, bahkan bisa lebih. Aksi podium Prabowo itu mendapat pujian Donald Trump, sebagai pidato penuh ketegasan dan energi. Mampu menggugah dan memengaruhi pemimpin Negara-negara lain.

Akan halnya Presiden Brasil Lula da Silva yang berpidato 20 menit, mengritik ancaman terhadap multilateralisme, demokrasi, perubahan iklim, dan mendesak reformasi global. Ia juga mengutuk keras genosida di Gaza, meski tetap mengecam teror Hamas. Dia mendukung solusi dua negara Palestina–Israel, sambil menyoroti peran veto di Dewan Keamanan yang menghalangi keadilan.

Lula menolak penggunaan kekuatan militer sepihak di berbagai belahan dunia. Mendesak dialog di Venezuela dan solusi bagi Haiti. Dia juga mengecam label AS terhadap Kuba sebagai negara pendukung terorisme. Konflik Ukraina dengan Rusia tidak bisa diselesaikan dengan militer.

Singkat kata, panggung PBB di masa sekarang, dan boleh jadi jauh ke masa depan, akan relevan dengan isyu-isyu mutakhir. Setiap pemimpin seolah sedang ‘bertanding’ memperjuangkan pemikiran, gagasan, bahkan kritik, melalui gaya retorika atraktif. Di sanalah pemikiran visioner Bung Karno lebih enam dekade lalu, masih tetap relevan dijadikan inspirasi.

Penulis: T. Suwarsono (Praktisi Media)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....