Senjakala Gerendel Italia

  • 23 Apr 2026 10:42 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)

DI tengah suka cita 48 negara yang lolos ke putaran final Piala Dunia 2026, timnas Italia tertunduk lesu. Mantan juara dunia 2006 ini apes tiga kali berturut-turut. Italia kalah adu penalti 1-4 (skor 1-1) kontra Bosnia-Herzegovina di playoff.

Swedia yang pertama menjegal Italia dalam Piala Dunia 2018 zona Eropa. Setelah kalah 0-1 di markas Swedia dalam pertemuan pertama, Italia gagal membalas di leg kedua sehingga kalah agregat 0-1. Untuk pertama kalinya sejak 1958, Italia gagal tampil di Piala Dunia. Berlanjut menuju Piala Dunia 2022, Italia kembali tersandung oleh negeri kecil Makedonia Utara, kalah 0-1 di babak semifinal fase playoff, lewat gol dramatis menit injury time. Dan puncaknya 2026, Italia kembali terjegal oleh Bosnia-Herzegovina yang membuat tim Gli Azzurri gigit jari lewat adu penalti. Untuk kali ketiga beruntun, sang juara dunia empat kali harus jadi penonton.

Negara besar lainnya yang kali ini juga absen adalah Denmark, Nigeria, Polandia, Kamerun, dan Chili. Sedangkan Negara dari benua Afrika yang gagal: Nigeria, Kamerun. Dari Amerika Selatan adalah Chili. Terbanyak gagal dari Asia yaitu Myanmar, Singapura, Filipina, Taiwan, Turkmenistan, Hong Kong, Tajikistan, Pakistan, Yaman, Nepal, Lebanon, Indonesia, dan Bangladesh. Timnas Rusia tidak bisa bertanding akibat sanksi FIFA gara-gara serbuan negaranya ke Ukraina.

Mereka yang lolos adalah tuan rumah Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko mendapat hak istimewa lolos otomatis. Sedangkan negara lolos untuk Zona Asia adalah Jepang, Iran, Korea Selatan, Australia, Qatar, Arab, Saudi, Uzbekistan, Yordania, Irak, Uni Emirat Arab (UEA) .

Zona Eropa akan diwakili: Inggris, Prancis, Jerman, Portugal, Spanyol, Belanda, Kroasia, Swiss, Norwegia, Austria, Skotlandia, Swedia, Turki, Republik, Ceko, Bosnia dan Herzegovina.

Zona Amerika Selatan menampilkan: Argentina, Brasil, Kolombia, Uruguay, Ekuador, Paraguay. Zona Afrika menjagokan: Maroko, Senegal, Aljazair, Tunisia, Mesir, Pantai Gading, Ghana, Afrika Selatan, Cape Verde (Cabo Verde). Zona Concacaf & Oseania diwakili: Panama, Curaçao, Haiti, Selandia Baru .

Kelamnya Italia

Syahdan duka mendalam dialami timnas Italia yang gagal berturut-turut di 2018, 2022, 2026. Penyebab utamanya seputar krisis penyerang tajam, lambatnya regenerasi, minimnya kesempatan pemain muda di Serie A, serta anjloknya mentalitas. Tim Italia yang pernah mashur dengan pertahanan gerendel (cattenacio) belakangan sulit mencetak gol karena minimnya striker tajam kelas dunia. Tim ini masih bergantung pada pemain tua, atau pemain muda yang belum matang.

Timnas terlalu lama mengandalkan pemain veteran dan lambat dalam membangun generasi baru. Penyebab lainnya dominasi pemain asing di liga Serie A. Klub-klub top Italia lebih memilih pemain asing, sehingga talenta muda Italia jarang mendapatkan menit bermain di level klub. Hal serupa bisa terjadi di Indonesia di mana timnas lebih banyak dihuni pemain asing naturalisasi.

Stempel ‘sepak bola negatif’ yang telanjur menempel di Italia, bagaikan ramuan beku yang tak beradaptasi dengan strategi modern. Italia bermain menunggu di garis pertahanan, lalu berharap serangan balik. Sialnya ujung tombak mereka tak seberapa cepat, sehingga minim gol. Hampir seluruh pertandingan Italia paceklik gol. Saat melawan Norwegia, Italia dituntut harus menjebol gawang lawannya 9 kali. Jangankan menang, Norwegia malah membenamnya 4-1. Sebagai juara dunia empat kali, ini sejarah kelam di mana Italia menjadi satu-satunya negara juara yang absen dalam tiga perhelatan Piala Dunia berturut-turut.

Jebloknya prestasi membuat Gabriele Gravina mundur dari jabatannya sebagai Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), hanya dua hari setelah kekalahan menyakitkan tersebut. Ia masih tetap menjalankan tugasnya untuk mengurus urusan rutin federasi hingga 22 Juni 2026, yaitu tanggal pemilihan presiden baru. Keputusan mundurnya adalah "tindakan cinta terakhir" demi menjaga FIGC dari badai kritik.

Gravina membela Gennaro Gattuso, pelatih Timnas Italia yang baru menjabat Juni 2025, sebagai "pelatih yang baik dan sangat terampil", mampu memberikan jiwa atau semangat tim meski waktu persiapan terbatas. Gravina bahkan meminta Gattuso tetap bertahan bersama tim nasional. Ternyata Gattuso, mantan gelandang AC Milan ini, juga memutuskan mundur setelah kegagalan pahit. Ia tidak menampik sepak bola Italia sedang menghadapi "krisis besar". Klub-klub profesional di Italia cenderung mengejar keuntungan bisnis jangka pendek daripada investasi membina pemain lokal.

Selandia Baru Terendah

Kita tengok daftar ranking per 1 April, bahwa tidak ada satu pun tim di luar peringkat 100 besar yang bisa lolos Piala Dunia 2026. Tim dengan peringkat terendah yang sukses adalah Selandia Baru. Wakil zona Oseania duduk di peringkat 85 dunia saat ini. Meski peringkatnya terendah, Selandia Baru justru jadi tim yang melangkah mulus didukung kualitas tim yang kuat.

Tim berikut dengan peringkat rendah adalah Curacao di posisi 82 dunia, pernah dikalahkan Timnas Indonesia pada laga persahabatan. Capaian Selandia Baru belum berhasil memecahkan rekor tim Korea Utara yang duduk di peringkat 105 dunia tetapi lolos ke Piala Dunia 2010. Sedangkan tim dengan peringkat tertinggi yang absen di Piala Dunia 2026 ini adalah Italia. Italia saat ini bahkan berada di peringkat 12 dunia.

Berembus kabar Belanda tidak lolos Piala Dunia 2026 adalah salah. Timnas Belanda justru tampil tak terkalahkan di kualifikasi Grup G UEFA. Belanda memastikan tiketnya setelah menang 4-0 melawan Lithuania. Tim asuhan Ronald Koeman ini mendominasi Grup G dengan 20 poin dari 8 pertandingan, menghasilkan selisih gol yang sangat baik (+23). Tijjani Reijnders menjadi andalan lini tengah Belanda.

Tinggal satu bulan lagi tiga Negara tuan rumah Meksiko, Amerika Serikat, dan Kanada, siap menggelar Piala Dunia 2026 pada 11 Juni hingga 19 Juli. Bola itu bundar, maka segala kemungkinan bisa terjadi di sudut-sudut lengkungnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....