Saatnya Orang Tua Mengakui Hak Digital Anak

  • 05 Jul 2025 20:57 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

SUATU malam menjelang ujian akhir, putra saya—anak SMP—menoleh sambil menggenggam ponsel. “Boleh pakai chatbot AI buat belajar?”

Saya tidak menjawab dengan larangan. Saya hanya menarik kursi dan duduk di sampingnya.

Dan di sanalah kami: dua generasi, satu layar, satu percakapan yang jarang terjadi dalam banyak rumah hari ini. Bukan sekadar soal teknologi, tapi tentang kepercayaan—mata uang paling penting dalam hubungan orang tua dan anak di era digital.

Dunia Mereka, Tidak Lagi Dunia Kita

Anak-anak kita tumbuh dalam dunia digital yang tidak kita kenal waktu seusia mereka. Mereka tidak sekadar menggunakannya—mereka menjelajahinya, membentuknya, dan menjadikannya ruang sosial, ruang belajar, bahkan ruang eksistensial.

Namun, kita sering terpaku pada layar dari jarak yang salah—jarak kecurigaan.

Padahal seperti dikatakan Sherry Turkle, profesor sosiologi sains dari MIT, “Teknologi tidak hanya mengubah apa yang kita lakukan. Ia mengubah siapa kita. Jika anak-anak kita menjadikan dunia digital sebagai bagian dari identitasnya, pendekatan kita tak bisa hanya soal pengawasan. Harus ada relasi.

Sayangnya, Survei APJII 2023 menunjukkan 78,5% orang tua di Indonesia memantau aktivitas daring anak-anak mereka, tapi hanya 34% yang benar-benar meluangkan waktu untuk berbicara tentang apa yang mereka lihat dan rasakan. Kita lebih sering hadir sebagai algoritma kontrol ketimbang sebagai manusia yang bisa mereka ajak bicara.

Rasa Ingin Tahu yang Tak Terbendung

Putra saya menggunakan chatbot bukan untuk mencontek. Ia membuat soal-soal latihan, mencoba memecahkan sendiri, lalu bertanya mengapa jawaban tertentu benar. Itu bukan kemalasan—itu rasa ingin tahu.

Howard Gardner, psikolog perkembangan dari Harvard, menyebut ini sebagai “pendidikan untuk pemahaman” (education for understanding). Dalam pendekatan ini, tujuan belajar bukan sekadar menghafal jawaban, tapi membangun struktur berpikir. Alat digital, jika digunakan dengan bijak, justru bisa menjadi katalis proses ini.

Perlindungan yang Membungkam

Banyak orang tua melindungi dengan cara membatasi. Beberapa bahkan mengambil langkah ekstrem seperti mengirim anak-anak ke pusat rehabilitasi adiksi game. Tapi sebagaimana diingatkan Sonia Livingstone, profesor dari London School of Economics yang banyak meneliti hak digital anak, “Melindungi anak-anak dari dunia digital tidak sama dengan mempersiapkan mereka untuk hidup di dalamnya.”

Ketika kita hanya mengandalkan larangan, kita menutup pintu diskusi. Anak-anak belajar diam. Belajar bersembunyi. Studi UNICEF dan Kominfo 2021 menemukan 60% anak merasa orang tua mereka lebih sering melarang daripada menjelaskan. Dan hanya 20% orang tua yang benar-benar menggunakan teknologi bersama anak mereka.

Di ruang sunyi inilah muncul risiko-risiko yang tidak terlihat—eksploitasi, radikalisasi, disinformasi—bukan karena akses teknologi terlalu longgar, tapi karena dialog terlalu rapuh.

Hak Digital: Abstrak tapi Nyata

Ketika kita bicara tentang hak digital anak, kita bicara tentang hak untuk belajar, berpartisipasi, dan tumbuh di dunia online sebagaimana mereka berhak di dunia nyata. Kita bicara tentang kebebasan yang dibimbing, bukan dikekang.

James Gee, peneliti literasi digital dan game-based learning, mengatakan, “Game dan teknologi bukan musuh pendidikan. Mereka adalah simulasi dunia nyata yang memaksa anak berpikir, mencoba, gagal, dan bangkit.” Tapi semua itu membutuhkan konteks. Dan konteks dibentuk oleh percakapan, oleh kehadiran kita.

Kita Juga Sedang Belajar

Era digital bukan hanya milik anak-anak. Ini juga medan belajar kita. Kita mungkin tidak fasih, tapi kita bisa hadir. Kita bisa bertanya, “Kenapa kamu suka game ini?” atau “Apa yang kamu pelajari dari AI itu?” Bukan untuk menilai, tapi untuk memahami.

Dalam istilah Turkle, kita butuh empathetic presence—kehadiran yang mendengar, bukan hanya melihat.

Malam itu, ketika putra saya bertanya soal chatbot, dia sebenarnya tidak sedang minta izin untuk menggunakan teknologi. Dia sedang bertanya, “Bolehkah aku belajar dengan caraku?” Dan saya menjawab dengan satu hal yang dibutuhkan anak-anak zaman ini: kehadiran, bukan penghakiman.

Jadi saya bertanya kembali: Di mana posisi Anda hari ini—mengawasi dari belakang, atau duduk di samping mereka?

Penulis: Ngarto Februana (Pemerhati Literasi Digital)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....