Ancaman El Niño 2026: Papua Barat Daya Waspada Bencana Ganda

  • 20 Agt 2026 16:10 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, Sorong : Fenomena iklim El Niño yang telah menerjang berbagai wilayah sejak pertengahan tahun diprediksi masih akan berlanjut dan memicu kekeringan berkepanjangan hingga akhir tahun 2026. Kondisi iklim ekstrem ini memicu kekhawatiran serius dari berbagai pihak, termasuk dari jajaran legislatif Provinsi Papua Barat Daya.

Wakil Ketua DPR Papua Barat Daya, Fredrik Frans Adolof Marlisa, S.T. menyampaikan keprihatinannya terkait potensi bencana ganda yang mengintai kawasan Papua Barat Daya akibat kemarau panjang ini. Dua ancaman utama yang menjadi sorotan adalah peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta krisis ketersediaan air bersih bagi masyarakat.

Dampak Gelombang Panas dan Kemarau Panjang

Pria yang akrab di sapa Fredy Marlisa memaparkan, El Niño merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang berdampak langsung pada penurunan curah hujan secara drastis di wilayah Indonesia. Penurunan curah hujan dalam jangka panjang menyebabkan kelembapan tanah berkurang, sumber air menyusut, serta vegetasi menjadi sangat kering dan mudah terbakar.

Menurut laporan pemantauan cuaca BMKG, sebagian besar wilayah Indonesia tengah menghadapi curah hujan kategori rendah yang berpotensi memicu ancaman kekeringan meteorologis.

Kekhawatiran Legislator: Karhutla dan Krisis Air Bersih

Dalam keterangannya saat dimintai tanggapan mengenai fenomena iklim ini, Fredy Marlisa menegaskan bahwa wilayah Papua Barat Daya memiliki kerentanan ekologis yang cukup tinggi. Kombinasi angin kencang dan cuaca terik dapat menjadi pemicu utama cepatnya penyebaran api jika terjadi karhutla.

  • Ancaman Kebakaran Hutan: Kawasan hutan dan lahan gambut yang mengering rentan terpicu api, baik akibat faktor alam maupun aktivitas manusia. Karhutla tidak hanya merusak keanekaragaman hayati tetapi juga mengancam kesehatan warga lewat polusi kabut asap.

  • Krisis Air Bersih: Menyusutnya debit air sungai dan sumur-sumur warga di daerah terdampak diperkirakan dapat mengganggu suplai air bersih domestik serta sektor pertanian local.

Langkah Edukasi dan Mitigasi Masyarakat

Guna mengantisipasi dampak buruk yang berkepanjangan, sinergi antara pemerintah daerah, badan penanggulangan bencana, dan masyarakat sangat diperlukan. Beberapa langkah edukatif yang penting untuk diterapkan antara lain:

  1. Efisiensi Penggunaan Air: Hemat penggunaan air harian dan mulailah menampung cadangan air bersih selagi memungkinkan.

  2. Hindari Pembukaan Lahan dengan Membakar: Masyarakat dan pelaku usaha diimbau keras untuk tidak membersihkan lahan menggunakan metode pembakaran.

  3. Pengawasan Titik Panas (Hotspot): Pihak berwenang diharapkan memperketat pemantauan kawasan rawan kebakaran serta menyiagakan posko tanggap darurat bencana.

Pemerintah Daerah bersama DPR Papua Barat Daya mengimbau warga untuk tetap waspada, menjaga lingkungan sekitar, dan terus memantau informasi prakiraan cuaca resmi guna meminimalkan risiko dampak El Niño.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....