Kisah Perjalanan Batik Jadi Warisan Dunia

  • 01 Okt 2026 20:12 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, Sorong Selatan – Indonesia memperingati Hari batik Nasional setiap 2 Oktober. Namun di balik perayaan mengenakan batik, ada perjalanan panjang dan diplomasi budaya yang tidak singkat hingga kain bermotif ini diakui dunia.

Dari laman Wikipedia, batik pertama kali diperkenalkan ke dunia Internasional oleh Presiden ke -2 RI, Soeharto, saat mengikuti konferensi Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB). Saat itu batik dijadikan cenderamata diplomatik bagi tamu negara.

Dilansir dari berbagai sumber, langkah serius baru dimulai pada 4 September 2008, ketika Pemerintah Indonesia melalui kantor Menko Kesejahteraan Rakyat mendaftarkan batik untuk mendapatkan status Intangible Cultural Heritage (ICH) atau Warisan Budaya Takbenda melalui kantor UNESCO di Jakarta.

Puncaknya terjadi pada sidang keempat Komite Antar– Pemerintah tentang Warisan Budaya Nonbendawi yang diselenggarakan UNESCO di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, pada 2 Oktober 2009. Pada sidang tersebut batik resmi terdaftar sebagai Warisan Kemanusiaan Karya Agung Budaya Lisan dan Nonbendawi ( Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity)

Menurut Kemendikbud, penetapan itu adalah yang ketiga bagi Indonesia setelah keris dan wayang. Pemerintah kemudian mengabadikan melalui Kepres No.33 Tahun 2009 yang menetapkan 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional.

Pakar Batik dan Dosen Tekstil Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Dr. Ratna Panggabean, M.Sn, menyebut pengakuan UNESCO bukan hanya soal motif. UNESCO tidak menilai batik sebagai produk kain saja yang diakui adalah pengetahuan, teknik, dan simbolisme di baliknya.

Menurut naskah yang disampaikan ke UNESCO, seperti dikutip laman Kemendikbud, batik diartikan sebagai teknik menghias yang mengandung nilai, makna, dan simbol budaya yang kuat.

Batik bukan sekedar selembar kain yang kita kenakan. Ia adalah surat cinta yang ditulis para leluhur dengan malam dan canting, diwariskan lintas generasi dan kini telah dibaca oleh dunia. Tugas kita bukan lagi meminta pengakuan, melainkan menjaga agar cinta itu tak pernah pudar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....