Atasi Kasus TB Anak di PBD, Pemprov dan UNICEF Susun Rencana Aksi

  • 01 Okt 2026 16:14 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, Sorong - Kasus tuberkulosis (TB) anak di Provinsi Papua Barat Daya menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya bersama UNICEF. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk mengidentifikasi hambatan penanganan sekaligus menyusun rencana aksi untuk mempercepat penemuan dan pengobatan kasus TB anak.

Hal itu dibahas dalam Pertemuan Identifikasi Hambatan dan Pelibatan Masyarakat untuk Mengatasi Tuberkulosis (TB) Anak di Provinsi Papua Barat Daya yang diselenggarakan Dinas Kesehatan Papua Barat Daya bersama UNICEF di Royal Mamberamo Hotel, Sorong, Kamis, 1 Oktober 2026.

Penjabat Sekretaris Daerah Papua Barat Daya, Dr. Yakob Kareth, mengatakan penanganan TB merupakan persoalan yang harus mendapat perhatian bersama karena dampaknya tidak hanya pada kesehatan, tetapi juga kehidupan anak.

“Di Provinsi Papua Barat Daya kita diperkirakan kurang lebih 494 anak dengan TBC tahun 2026. Sampai Agustus baru 144 anak atau sekitar 29 persen yang berhasil ditemukan,” kata Yakob saat membuka kegiatan.

Ia menyebut kondisi tersebut menunjukkan masih terdapat lebih dari 350 anak yang diperkirakan mengalami TB tetapi belum terdiagnosis dan mendapatkan pengobatan.

Menurut Yakob, program penanggulangan TB sebagai salah satu prioritas nasional harus diwujudkan hingga tingkat kampung, termasuk di Papua Barat Daya.

Ia juga menyoroti masih adanya stigma di masyarakat terhadap penyakit tertentu. Menurutnya, pemahaman masyarakat perlu dibangun berdasarkan informasi dan penanganan kesehatan yang tepat, sehingga penyakit tidak dianggap sebagai aib.

Yakob berharap pertemuan tersebut dapat menjadi ruang bagi tenaga kesehatan dan para pemangku kepentingan untuk berbagi pengalaman, mengidentifikasi persoalan, serta menghasilkan rekomendasi bagi pengambil kebijakan.

“Sehingga berkumpul hari ini masing-masing punya pengalaman menangani kasus-kasus semacam ini untuk didiskusikan, di-sharing, lalu menjadi sebuah rekomendasi yang disampaikan kepada terutama kepada pengambil keputusan bagaimana dalam rangka mengatasi ini,” ujarnya.

Sementara itu, Perwakilan UNICEF Papua, Husny Muttaqin, mengatakan TB pada anak memang hanya mencakup sekitar 10 hingga 15 persen dari keseluruhan kasus TB. Namun, kasus pada anak dapat menjadi indikator adanya penularan TB dari kelompok usia lainnya.

“Anak tidak akan mendapatkan TB jika tidak ada orang dewasa, atau mungkin remaja sudah bisa menularkan sebagai penularnya,” kata Husny.

Ia menjelaskan TB juga berkaitan dengan kondisi sosial masyarakat, seperti kemiskinan, tempat tinggal yang tidak layak, dan gizi buruk.

Husny mengatakan pertemuan tersebut merupakan kegiatan hari kedua setelah pada hari pertama enam kabupaten/kota di Papua Barat Daya mengidentifikasi berbagai persoalan yang menyebabkan penanganan TB belum optimal.

Menurutnya, persoalan yang telah dihimpun kemudian dibahas bersama lintas sektor untuk menentukan bentuk dukungan yang diperlukan dalam mempercepat penanganan TB.

“Hari ini kita tumpahkan masalahnya. Ditumpahkan dalam arti yang kita harapkan pada hari ini, teman-teman dari Dinas Kesehatan bisa memperlihatkan permasalahan TB itu apa, dan sekaligus di sini juga meminta dukungan dari Bapak/Ibu yang berasal dari berbagai lintas sektor untuk mengatasi permasalahan TB,” ujarnya.

Husny berharap diskusi tersebut menghasilkan satu rencana aksi yang dapat segera diwujudkan untuk mengatasi TB, khususnya TB anak di Papua Barat Daya, sehingga target eliminasi TB pada 2030 dapat tercapai.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....