jelang Nataru BPS Sorong Waspadai Kenaikan Harga Pangan dan Tiket Pesawat

  • 29 Sep 2026 11:48 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, Sorong — Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Sorong mewaspadai potensi kenaikan harga sejumlah komoditas menjelang periode Natal dan Tahun Baru 2026. Peningkatan permintaan masyarakat pada momentum hari raya keagamaan dan pergantian tahun dinilai dapat mendorong kenaikan harga, khususnya pada komoditas pangan dan transportasi udara.

Statistisi BPS Kota Sorong, Tri, mengatakan fenomena kenaikan harga menjelang akhir tahun merupakan pola yang kerap terjadi di Kota Sorong. Komoditas pangan seperti ayam, cabai rawit, bawang merah, serta berbagai bumbu masakan menjadi beberapa komoditas yang perlu mendapat perhatian.

“Untuk akhir tahun biasanya masyarakat lebih konsumtif karena ada hari raya keagamaan Natal dan juga Tahun Baru. Sehingga ada kemungkinan harga naik untuk komoditas bahan makanan,” ujar Tri.

Selain pangan, angkutan udara atau tiket pesawat juga menjadi komponen yang berpotensi mengalami kenaikan. Tingginya mobilitas masyarakat pada periode Natal dan Tahun Baru dapat meningkatkan permintaan terhadap penerbangan.

BPS mencatat pada Desember 2025, angkutan udara memberikan kenaikan harga sebesar 0,25 persen. Pola tersebut menjadi salah satu hal yang perlu diantisipasi kembali pada akhir 2026.

Sementara itu, berdasarkan data inflasi Kota Sorong yang dirilis BPS pada awal September untuk periode Agustus 2026, inflasi bulanan tercatat sebesar 0,15 persen. Secara tahunan atau year on year (yoy), inflasi mencapai 4,08 persen, sedangkan inflasi tahun kalender atau dibandingkan dengan Desember 2025 tercatat 3,53 persen.

Pada Agustus 2026, sejumlah komoditas yang memberikan andil terhadap inflasi bulanan antara lain ikan tuna, ikan teri, nasi dengan lauk, ikan kembung atau yang dikenal masyarakat Sorong sebagai ikan lemah, serta bayam.

Di sisi lain, sejumlah komoditas mengalami penurunan harga, antara lain tomat, angkutan udara, ikan momar, bawang merah, dan bahan bakar rumah tangga.

Tri mengatakan BPS terus melakukan pemantauan harga konsumen setiap bulan melalui survei pada 11 kelompok pengeluaran. Pemantauan tersebut mencakup makanan, minuman dan tembakau; pakaian dan alas kaki; perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga; perlengkapan rumah tangga; kesehatan; transportasi; informasi, komunikasi dan jasa keuangan; rekreasi, olahraga dan budaya; pendidikan; penyediaan makanan dan minuman atau restoran; serta perawatan pribadi dan jasa lainnya.

Menurutnya, menjelang akhir tahun, kelompok makanan, minuman dan tembakau serta transportasi menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih karena berpotensi mengalami fluktuasi akibat meningkatnya permintaan.

BPS saat ini masih melakukan penghitungan inflasi September 2026 yang dijadwalkan dirilis pada awal Oktober.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....