Maestro dan Pemuda Maybrat Dukung OPK untuk Jaga Budaya

  • 13 Agt 2026 14:43 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID,Sorong - Ketua Sanggar Aifat Rana sekaligus Maestro seni, Agustinus Safuf, menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang mendalam kepada Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Maybrat, Yohanes Sentuf, S.Pd., M.Pd. Apresiasi ini diberikan atas dukungan dan motivasi yang konsisten terhadap sanggar seni di wilayah tersebut.

"Saya sebagai Maestro mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Kadis, karena selalu mensupport kami, bahkan memberi dukungan pada setiap pentas seni dan budaya," ujar Agustinus saat memberikan keterangan kepada RRI pada Rabu, 12 Agustus 2026.

Ketua Sanggar Aifat Rana sekaligus Maestro seni, Agustinus Safuf. (RRI/NIR).

Menurut Agustinus, Kabupaten Maybrat saat ini memiliki dua sanggar seni yang sangat potensial, yaitu Sanggar Aifat Rana dan Sanggar Furkak Guririn. Kedua sanggar aktif berkolaborasi, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi, untuk menampilkan berbagai pertunjukan seni dan tari daerah berkat dukungan penuh dari pemerintah setempat.

“Dengan dukungan tersebut, kami bisa tampil di berbagai acara, seperti pentas seni, pentas tari daerah, dan budaya maestro Prindamati yang sementara ini kami angkat. Program ini kami angkat dan usulkan kepada Kantor Pelindungan Kebudayaan Wilayah XXIII (mencakup Provinsi Papua Barat dan Papua Barat Daya), yang saat ini berkantor di wilayah Papua Barat Daya,”ucapnya.

Di tengah perkembangan zaman dan teknologi modern, generasi muda kini mulai lupa akan tradisi leluhur. Mereka tampak bingung mengenal cara membuat kuba-kuba, merajut jaring tradisional, membawakan tarian adat, menumbuk buah sawo, hingga mengolah buah merah yang berguna bagi kesehatan suku Maybrat.

“Karena itu, kami mendorong pemerintah daerah serta instansi terkait, seperti balai pelestarian, untuk menetapkan dan melindungi warisan budaya ini secara resmi bagi bangsa dan negara,”imbuhnya.

Untuk itu Agustinus berharap, pemerintah khususnya di Kabupaten Maybrat agar melihat budaya sebagai identitas dan harga diri yang harus didukung. Budaya ibarat pohon tanpa akar, karena jika tidak dijaga, semuanya akan punah seketika.

Sementara itu dengan nada yang sama, Ketua Pengelola Desa Wisata Mefkajim II Kabupaten Maybrat, Jembrison Sentuf, S.Ars, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dan kebudayaan lokal yang merupakan kunci utama dalam mengembangkan pariwisata berkelanjutan, terutama dalam mengusulkan suatu situs atau tradisi sebagai Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK).

"Kami melihat kolaborasi ini sebagai peluang besar, untuk itu kami sangat berterima kasih kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Maybrat yang terus menghadirkan terobosan baru,"ujarnya.

Ketua Pengelola Desa Wisata Mefkajim II Kabupaten Maybrat, Jembrison Sentuf, S.Ars. (RRI/NIR).

Dirinya juga mengapresiasi kinerja dinas terkait yang tetap aktif bergerak meskipun dihadapkan pada tantangan geografis dan akses infrastruktur yang berat, upaya tersebut dinilai berhasil memetakan dua potensi utama, yaitu sektor pariwisata dan pelestarian budaya bagi generasi muda.

Jembrison mengkhawatirkan dampak negatif perkembangan teknologi jika tidak diimbangi dengan pelestarian budaya, Ia mengkhawatirkan generasi muda akan melupakan akar budaya mereka saat Indonesia mencapai masa keemasan pada tahun 2045.

"Melalui pemanfaatan teknologi saat ini, kami berharap potensi budaya yang ada dapat diangkat kembali, salah satunya adalah bahasa Maybrat yang memiliki tiga dialek berbeda, yaitu Ayamaru, Aitinyo, dan Aifat,"jelasnya.

Untuk itu Ia mendesak dinas terkait untuk mempercepat proses dokumentasi dan legalitas kebudayaan tersebut, langkah ini penting agar generasi muda Maybrat memiliki klaim hak waris yang sah secara hukum atas kekayaan leluhur yang dimiliki saat ini.

Sekali lagi dirinya meminta agar dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan segera mengupayakan pengusulan hak waris budaya ke Balai Pelestarian Kementerian Kebudayaan. Ada tiga potensi budaya utama yang akan didaftarkan sebagai warisan budaya Kabupaten Maybrat dan Indonesia, yaitu, Mumuk Awyat (Nunukawiat), Palegona dan Musik Tradisional (Pref).

"Indonesia kaya akan keberagaman. Kami ingin memastikan tiga potensi budaya ini dikembangkan dan mendapatkan pengakuan resmi," pungkas Jembrison.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....