KI dan OPD Lakukan Kajian Daya Dukung Berbasis Tapak di Kampung Wisata Raja Ampat

  • 03 Jul 2026 09:22 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, Raja Ampat - Konservasi Indonesia menggelar focus group discussion membahas hasil survei daya dukung pariwisata berbasis tapak di Kantor Badan Layanan Umum Daerah UPTD Kawasan Konservasi Perairan Raja Ampat, Rabu, 1 Juli 2026. Survei ini melibatkan tim ahli dari Universitas Pattimura dengan sejumlah organisasi perangkat daerah, seperti Dinas Pariwisata, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas PTSP, Dinas Perhubungan, Dinas Perikanan, serta BLUD KKP.

Raja Ampat Manajer Program Konservas Indonesia Meidiarti Kasmidi menerangkan pada 10 tahun lalu telah dilalukan kajian daya dukung berbasis objek, seperti manta, batuan karst, dan bird watching. Maka pada tahun ini, survei daya dukung berbasis tapak atau kampung dilakukan dengan mengambil dua model area yaitu Kampung Wisata Arborek dan Kepulauan Pam.

Menurut Meidiarti, dari hasil survei yang sudah dilakukan ada banyak masukan serta temuan di lapangan. Selanjutnya tim ahli dan OPD terkait akan melengkapi beberapa data dan informasi yang dibutuhkan dalam kajian daya dukung ini.

Menurut Meidiarti, dari hasil kajian ini akan dibuat rekomendasi bagi pemerintah daerah maupun pengelola kawasan wisata. Ia mencontohkan di Kampung Wisata Arborek, akan dihitung batasan jumlah wisatawan yang datang dengan mempertimbangkan lingkungan, ekonomi, sosial budaya, termasuk masalah ketersediaan air. Nantinya dari kajian tim survei ini akan keluar angka atau jumlah maksimal wisatawan yang bisa masuk kawasan. "Jumlah ini akan menjadi referensi daya dukung di Kampng Wisata Arborek dan Kepulauan Pam," katanya.

Meidiarti berharap pengembangan pariwisata berkelanjutan ke depan memperhatikan dampak yang akan terjadi. Perubahan alam hingga masalah sosial budaya masyarakat perlu diantisiapsi dari sekrang berdasarkan hasil kajian yang sudah dilakukan. "Jangan sampai setelah ada perubahan alam dan tergerusnya aspek sosial masyarakat, kita baru bertindak. Semua perlu diantisipasi dengan melihat hasil kajian daya dukung yang telah dilakukan tim ahli," ujarnya.

Meidiarti menambahkan hasil kajian daya dukung berbasis objek pada tahun 2016 lalu sudah diterapkan dalam pengelolaan kawasan wisata manta sandy. Di kawasan ini hanya diperbolehkan beberapa turis masuk dengan durasi satu jam. "Aturan ini dilakukan untuk memastikan bahwa kelestarian bioata manta dan kenyamanan turis yang hendak menyelam," kata Meidiarti.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....