Kasus Kekerasan di Sekolah Meningkat, Butuh Kolaborasi Orang Tua dan Masyarakat

  • 17 Jun 2026 13:08 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, Sorong – Kasus kekerasan di lingkungan pendidikan masih menjadi persoalan serius yang membutuhkan penanganan berkelanjutan dan relevan dengan perkembangan zaman.

Kasubsi 1 Intelijen Kejaksaan Negeri Sorong, Akram Syarif mengatakan kekerasan di sekolah ibarat luka lama yang kambuh. Meski berbagai upaya telah dilakukan, kasus serupa terus muncul dari waktu ke waktu. "Bisa diatasi hari ini, tetapi suatu saat muncul kembali. Karena itu, penanganannya harus dilakukan secara konsisten dan relevan dengan perkembangan kondisi saat ini," ujarnya saat dialog Halo RRI, Senin, 17 Juni 2026.

Berdasarkan data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), kasus kekerasan di satuan pendidikan tercatat sebanyak 573 kasus pada tahun 2024 dan meningkat menjadi 641 kasus pada tahun 2025. Menurutnya, angka tersebut kemungkinan belum menggambarkan kondisi sebenarnya karena banyak kasus yang tidak dilaporkan. "Kita sering menyebutnya fenomena gunung es. Yang terlihat hanya sebagian kecil, sementara yang tidak terlaporkan bisa jadi lebih banyak," katanya.

Akram menjelaskan bahwa kekerasan di lingkungan pendidikan saat ini tidak hanya berbentuk fisik, tetapi juga verbal, sosial, psikologis hingga perundungan siber atau cyber bullying yang berkembang melalui media digital dan teknologi kecerdasan buatan (AI). Faktor ekonomi, perbedaan sosial, gender, etnis, hingga ketimpangan relasi dalam keluarga disebut menjadi penyebab munculnya perundungan yang dilakukan secara berulang dan membentuk relasi kuasa antara pelaku dan korban.

Karena itu, Kejari Sorong menilai perlu adanya kolaborasi antara sekolah, orang tua, pemerintah, dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman dan bebas kekerasan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....