Tim Indonesia–Jepang Cari Kerangka Prajurit Jepang di Tambrauw

  • 09 Feb 2026 09:10 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, Sorong – Tim Gabungan Indonesia–Jepang akan memfokuskan kegiatan pencarian dan identifikasi kerangka prajurit Jepang Perang Dunia II di sejumlah titik di Provinsi Papua Barat Daya, terutama di Kabupaten Tambrauw dan wilayah Desa Emaus. Kegiatan ini merupakan bagian dari kerja sama kemanusiaan antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Jepang.

Penanggung jawab kegiatan dari sektor tenaga kerja dan kesehatan, Yuni Suka, menjelaskan bahwa lokasi pencarian mengacu pada data arsip sejarah, namun kondisi lapangan diperkirakan telah berubah karena peristiwa terjadi sekitar 80 tahun lalu.

“Lokasi pencarian ini mengacu pada data arsip sejarah, namun karena peristiwa terjadi sekitar 80 tahun lalu, kondisi lapangan kemungkinan sudah berubah. Karena itu, kami membutuhkan dukungan masyarakat untuk memastikan titik lokasi yang dimaksud,” kata Yuni Suka.

Ia menambahkan, setiap temuan nantinya akan melalui proses identifikasi ilmiah melalui analisis DNA untuk memastikan kerangka yang ditemukan benar merupakan prajurit Jepang.

“Proses ini membutuhkan waktu cukup panjang, mulai dari pencarian hingga pemeriksaan laboratorium, dengan tujuan utama memastikan identitas dan mengembalikan kerangka kepada keluarga,” ujarnya.

Lokasi utama pencarian berada di Distrik Sausapor, Kabupaten Tambrauw. Informasi titik pencarian diperoleh dari arsip dan laporan militer Amerika Serikat yang menyebutkan adanya enam titik yang diduga menjadi lokasi pemakaman prajurit Jepang.

Selain itu, tim juga akan menelusuri dugaan lokasi pemakaman prajurit Jepang di wilayah Desa Emaus yang dilaporkan memiliki monumen yang diduga berkaitan dengan pemakaman prajurit Jepang pada masa perang.

Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu menyatakan pemerintah daerah siap mendukung pelaksanaan kegiatan pencarian di lapangan, termasuk membantu koordinasi dengan masyarakat setempat.

“Kami juga siap mendukung pelaksanaan pencarian di lokasi-lokasi yang telah ditentukan, termasuk membantu koordinasi dengan masyarakat dan pemerintah setempat agar kegiatan berjalan lancar,” ujar Elisa Kambu.

Tim juga mengimbau masyarakat agar tidak memindahkan atau menyentuh tulang belulang jika ditemukan di lapangan guna menghindari kontaminasi yang dapat memengaruhi hasil identifikasi DNA.

Dalam pelaksanaan di lapangan, tim akan berkoordinasi dengan kepala desa dan tokoh adat setempat sebelum melakukan penelitian atau penggalian. Jika diperlukan penggalian, proses akan dilakukan secara terbuka dengan melibatkan masyarakat dan aparat setempat.

Kegiatan pencarian ini diharapkan dapat memberikan kepastian bagi keluarga prajurit Jepang sekaligus memperkuat kerja sama kemanusiaan antara Indonesia dan Jepang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....