Karpet Merah Argentina: Menakar "Keberuntungan" di 32 Besar Dunia

  • 29 Jun 2026 19:46 WIB
  •  Sorong

RRI.co.id, Sorong - Babak penyisihan grup Piala Dunia 2026 baru saja usai, dan format baru 32 besar langsung menyajikan drama yang tak kalah sengit. Namun, di luar performa impresif Lionel Messi dkk yang menyapu bersih kemenangan di Grup J, ada satu topik hangat yang sedang ramai diperbincangkan: Bagan fase gugur Argentina dinilai "terlalu mulus".

Apakah ini murni keberuntungan undian, ataukah sang juara bertahan memang kembali dinaungi dewi fortuna? Mari kita bedah jalurnya.

Menghadapi Tanjung Verde di Babak 32 Besar

Sebagai juara Grup J, tim asuhan Lionel Scaloni dipastikan akan bersua dengan Tanjung Verde, runner-up dari Grup H, dalam laga yang akan digelar di Stadion Miami pada Jumat, 3 Juli 2026 pukul 22:00 WIB.

Di atas kertas, Argentina yang mengantongi poin sempurna (9 poin) jauh diunggulkan ketimbang Tanjung Verde yang lolos ke fase gugur berbekal tiga hasil imbang. Publik melihat laga ini sebagai formalitas bagi La Albiceleste untuk melenggang ke fase berikutnya.

Jalur 16 Besar yang Relatif "Aman"

Keberuntungan Argentina tidak berhenti di babak 32 besar saja. Jika berhasil melewati hadangan Tanjung Verde, diagram turnamen menunjukkan bahwa lawan yang akan mereka hadapi di babak 16 besar adalah pemenang dari laga antara Kolombia (Juara Grup K) melawan Ghana (Peringkat 3 Terbaik Grup L).

Dengan skenario ini, Argentina dipastikan terhindar dari bentrokan dini melawan raksasa tradisional Eropa seperti Prancis, Inggris, atau Jerman, serta rival abadi mereka, Brasil. Tim-tim tangguh tersebut berada di sisi blok bagan yang berbeda dan berpotensi saling "baku hantam" lebih awal.

Teori Konspirasi atau Berkah Juara Grup?

Sontak saja, netizen sepak bola langsung terbelah melihat draf diagram ini. Kritik yang muncul menyebut format baru 48 tim ini secara tidak sengaja memberikan jalur yang terlalu nyaman bagi tim-tim besar yang mapan sejak fase grup.

Namun, tudingan "karpet merah" ini langsung ditepis oleh para pengamat objektif. Argentina mendapatkan jalur ini karena mereka menjalankan tugasnya dengan sempurna: menyapu bersih kemenangan di fase grup dan mengamankan status juara. Dalam turnamen besar, status juara grup adalah hak istimewa yang memang dirancang untuk memberi keuntungan taktis.

Jangan Jemawa, Bola itu Bundar

Melihat diagram yang ada, para pendukung Argentina mungkin sudah bisa tersenyum lebar membayangkan jalan mulus menuju fase akhir. Tapi sepak bola tidak dimainkan di atas kertas diagram.

Di era sepak bola modern, babak sistem gugur tunggal (single elimination) justru menyimpan bahaya laten. Tanjung Verde, Kolombia, maupun Ghana adalah tim-tim yang tampil tanpa beban dan siap menghukum tim raksasa mana pun yang memandang remeh lawan. Jalur mulus ini hanya akan menjadi sejarah jika Messi dan kolega mampu menuntaskannya dengan kemenangan di lapangan hijau.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....