Indonesia Gandeng Rusia Amankan Pasokan Minyak, Bahlil Optimistis Hampir Final
- 17 Apr 2026 06:07 WIB
- Sorong
RRI.CO.ID, Sorong Selatan - Pemerintah Indonesia terus bergerak cepat memperkuat ketahanan energi nasional di tengah dinamika global. Salah satu langkah strategis yang kini hampir rampung adalah kerja sama pasokan minyak mentah (crude) dengan Rusia.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan kabar tersebut usai bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (16/4/2026). Menurut Bahlil, kerja sama ini tidak hanya mencakup pasokan minyak mentah, tetapi juga pembangunan infrastruktur energi yang akan mendukung peningkatan cadangan nasional.
“Kabarnya alhamdulillah cukup menggembirakan, bahwa kita akan mendapat pasokan crude dari Rusia. Mereka juga siap membangun beberapa infrastruktur penting untuk meningkatkan ketahanan energi nasional kita,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kerja sama tersebut merupakan bagian dari kemitraan jangka panjang di sektor energi. Langkah ini dinilai penting mengingat kebutuhan BBM nasional yang terus meningkat.
Saat ini, konsumsi BBM Indonesia mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari. Sementara itu, produksi dalam negeri baru berada di kisaran 600 hingga 610 ribu barel per hari.
“Kita masih impor kurang lebih sekitar 1 juta barel per hari. Dalam kondisi global seperti sekarang, kita harus mencari sumber minyak dari berbagai negara, tidak hanya bergantung pada satu pihak,” jelasnya.
Untuk jangka pendek, pemerintah memastikan pasokan minyak mentah hingga akhir tahun 2026 dalam kondisi aman. Hal ini dilakukan sebagai tindak lanjut arahan Presiden guna menjaga stabilitas energi nasional.
“Untuk kebutuhan crude sampai Desember, insyaallah sudah aman. Jadi tidak perlu risau, tinggal bagaimana kita meningkatkan produksi kilang dalam negeri,” tambah Bahlil.
Selain minyak mentah, pemerintah juga tengah menjajaki kerja sama pemenuhan LPG. Saat ini, Indonesia masih mengimpor sekitar 7 juta ton LPG setiap tahun.
Meski prosesnya masih membutuhkan komunikasi lanjutan, Bahlil optimistis kerja sama di sektor ini juga akan segera menemukan titik terang.
“Untuk LPG masih butuh beberapa tahap komunikasi. Tapi kalau crude, saya pikir sudah hampir final,” tegasnya.
Terkait kerja sama dengan negara lain, termasuk Amerika Serikat, Bahlil menegaskan bahwa pemerintah akan selalu mengutamakan kepentingan nasional dalam menentukan sumber pasokan energi.
“Kebutuhan crude kita setiap tahun sekitar 300 juta barel. Jadi kita ambil yang paling menguntungkan bagi negara,” pungkasnya.
Langkah ini menegaskan arah baru kebijakan energi Indonesia yang semakin adaptif dan terbuka, sekaligus memperkuat posisi negara dalam menjaga pasokan energi yang aman, stabil, dan berkelanjutan.
Sumber : YT Sekretariat Presiden
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....