Perbedaan Coto dan Pallubasa: Dua Kuliner Khas Makassar yang Sekilas Mirip
- 07 Apr 2026 10:43 WIB
- Sorong
RRI.CO.ID, Sorong - Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan kuliner yang beragam, salah satunya berasal dari Sulawesi Selatan, khususnya Makassar. Di daerah ini terdapat dua hidangan tradisional yang sering dianggap sama oleh banyak orang, yaitu coto dan pallubasa. Meskipun keduanya memiliki bahan dasar yang hampir serupa, sebenarnya terdapat beberapa perbedaan mendasar yang membuat masing-masing memiliki cita rasa dan keunikan tersendiri.
Coto Makassar merupakan hidangan berkuah yang terbuat dari daging sapi dan jeroan yang direbus dalam waktu lama hingga empuk. Kuah coto memiliki warna cokelat keruh yang berasal dari campuran rempah-rempah khas serta kacang tanah yang dihaluskan. Hidangan ini biasanya disajikan bersama ketupat atau buras (lontong khas Makassar) dan ditambah taburan bawang goreng serta daun bawang. Ciri khas utama coto adalah kuahnya yang kental dengan rasa gurih yang cukup ringan namun kaya rempah.
Sementara itu, pallubasa juga menggunakan bahan dasar daging sapi dan jeroan, tetapi memiliki perbedaan pada cara penyajian dan komposisi rasa. Kuah pallubasa cenderung lebih kental dan memiliki warna yang lebih gelap dibandingkan coto. Salah satu ciri khas pallubasa adalah penambahan kelapa parut sangrai yang dihaluskan, sehingga memberikan rasa gurih yang lebih kuat dan aroma yang khas. Selain itu, pallubasa biasanya disajikan dengan tambahan kuning telur mentah di dalam kuah panas, yang memberikan tekstur lebih creamy dan cita rasa yang semakin kaya.
Perbedaan lain juga terlihat dari cara menikmatinya. Jika coto lebih sering disantap dengan ketupat, pallubasa umumnya disajikan dengan nasi putih hangat. Hal ini membuat pengalaman makan keduanya terasa berbeda, meskipun bahan utamanya sama.
Secara keseluruhan, meskipun coto dan pallubasa berasal dari daerah yang sama dan menggunakan bahan dasar serupa, keduanya memiliki karakteristik unik yang membedakan, mulai dari komposisi bumbu, tekstur kuah, hingga cara penyajian. Perbedaan inilah yang menjadikan keduanya tetap eksis dan digemari oleh masyarakat, baik di daerah asalnya maupun di berbagai wilayah lain di Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....