Benarkah Micin Bikin Bodoh? Menelusuri Hoaks yang Telanjur Dipercaya Banyak Orang
- 17 Sep 2026 21:01 WIB
- Sorong
RRI.CO.ID, Sorong – Anggapan micin atau monosodium glutamate (MSG) bikin bodoh adalah mitos pangan yang bertahan sangat lama. Akar sejarahnya sering dikaitkan dengan istilah Chinese Restaurant Syndrome, yang muncul di Amerika Serikat pada 1968.
Melansir Good News From Indonesia, pada 4 April 1968, New England Journal of Medicine menerbitkan surat Robert Ho Man Kwok berjudul “Chinese-Restaurant Syndrome”. Kwok menceritakan keluhan mati rasa dibagian belakang leher, rasa lemah, dan jantung berdebar usai makan di restoran China.
Ia tidak memiliki bukti eksperimental bahwa MSG adalah penyebabnya. Ia menyebut beberapa kemungkinan, termasuk garam, alcohol, dan MSG.
Istilah “Chinese Restaurant Syndrome” menarik perhatian media dan memicu berbagai tulisan serta laporan anekdotal mengenai dugaan bahaya MSG.
Dalam perkembangannya, MSG seolah menjadi tersangka utama setiap kali seseorang merasa pusing, sakit kepala, lemas atau tidak nyaman setelah menyantap makanan Asia. Penelitian sejarah menunjukkan bahwa perdebatan itu tidak lepas dari stereotip rasial terhadap makanan China yang pada saat itu dianggap asing atau terlalu banyak menggunakan bahan tertentu .
Dampaknya besar pada bisnis kuliner Asia di Amerika Serikat. Demi memenangkan pelanggan, banyak restoran memasang label No MSG. ironisnya label ini justru makin memperkuat stigma keliru bahwa MSG adalah bahan berbahaya, padahal belum pernah terbukti secara ilmiah.
Kajian sejarah tentang periode 1968-1980 menunjukkan bagaimana isu ini memengaruhi persepsi public terhadap MSG sekaligus makanan dan restoran China secara luas.
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menyatakan bahwa laporan gejala seperti sakit kepala dan mual memang pernah diterima, tetapi hubungan sebab akibatnya tidak berhasil dikonfirmasi.
Evaluasi ilmiah juga menemukan bahwa gejala ringan seperti pusing umumnya hanya muncul jika seseorang yang sangat sensitive mengonsumsi MSG dosis tinggi (3gram+) tanpa makanan jauh melebihi kadar normal pada porsi makanan harian.
Ketika cerita ini menyebar ke berbagai negara, intinya pun mengalami distorsi. MSG yang dianggap menyebabkan keluhan fisik, juga dikaitkan dengan kemampuan otak dan kecerdasan.
Di Indonesia, istilah ‘micin’ berkembang menjadi bahasa sehari-hari. Ungkapan ‘kebanyakan micin’populer sebagai lelucon untuk menyebut seseorang yang dianggap bertingkah bodoh atau melakukan kesalahan.
Karena terus diulang dalam percakapan, media sosial dan budaya populer, lelucon ini dianggap fakta. Berbagai artikel di Indonesia masih membahas dan membantah anggapan bahwa micin menyebabkan kebodohan.
MSG pada dasarnya adalah garam natrium dari glutamate, yaitu asam amino alami yang juga ada diberbagai makanan seperti tomat dan keju.
Sejarah “Chinese Restaurant Syndrome” perlu dijadikan pelajaran tentang bagaimana dugaan awal yang belum terbukti dapat berubah menjadi kepanikan, diperkuat oleh pemberitaan dan stereotip, lalu diwariskan sebagai mitos lintas generasi.
Jadi kalau ada yang bilang micin bikin bodoh, kamu bisa menjelaskan bahwa tidak ada hubungan antara konsumsi MSG yang wajar dengan kebodohan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....