Pengaruh Overthinking di Generasi Muda
- 20 Apr 2026 12:16 WIB
- Sorong
RRI.CO.ID, Sorong- Di era serba cepat ini banyak anak muda yang dihadapkan berbagai pilihan hidup. Banyak dari mereka yang dituntut memenuhi ekspektasi sosial dalam hal pendidikan, karier, hubungan, dan pencapaian lainnya. Mungkin hal ini terdengar wajar mengingat generasi muda memang harus memiliki cita-cita dan berkembang. Namun dampaknya jika anak muda terlalu memikirkan hal tersebut bisa menyebabkan overthinking tanpa henti.
Berbicara tentang overthinking, hal ini bukan sekadar berpikir terlalu banyak. Namun kondisi ini membuat seseorang terus menerus memutar ulang pikirannya dan sulit menentukan ujungnya. Mereka mempertanyakan keputusan yang akan diambil, membayangkan kemungkinan terburuk, bahkan memikirkan hal-hal sepele yang tidak seharusnya dipikirkan terlalu dalam.
Banyak anak muda yang tidak sadar jika dirinya sedang overthinking. Kalimat-kalimat seperti “Tadi kata-kataku aneh nggak ya” “Kenapa orang lain berkata begitu, aku kurang apa ya” atau “Kira –kira yang orang lain pikirkan tentang aku bagaimana” sering membuat pikiran kita tidak berhenti. Jika dipikirkan secara berulang-ulang akan membuat otak terus bekerja bahkan disaat tubuh sudah merasa lelah. Akibatnya akan muncul rasa cemas yang sulit untuk dijelaskan.
Berbicara soal dampaknya, tentu overthinking berdampak pada kesehatan mental kita. Overthinking bisa meningkatkan rasa cemas dalam jangka panjang, stres berlebihan, dan sulit tidur. Bahkan bisa jadi menurunkan kepercayaan diri. Generasi muda seharusnya berada di fase eksplore semua hal namun jika overthinking maka akan menghambat langkah mereka.
Semakin banyak yang dipikirkan akan membuat seseorang sulit mengambil keputusan. Overthinking hanya akan membuat seseorang terjebak pada hal-hal yang susah untuk dipecah solusinya. Seseorang akan terlalu lama dalam mempertimbangkan hal-hal yang belum terjadi.
Tanpa disadari media sosial juga menjadi salah stu pemicu mengapa anak muda banyak yang overthinking. Anak muda akan dihadapkan dengan kehidupan orang lain yang tampak sempurna di media sosial yang memicu perbandingan diri yang tidak sehat. Anak muda akan mudah mempertanyakan pada diri mereka “Mengapa aku tidak seberhasil mereka?”, “Apakah aku tertinggal?”. Pikiran seperti itu akan memperparah overthinking dan membuat aank muda merasa tidak cukup.
Media sosial juga memperkuat kebiasaan overthinking. Melihat kehidupan orang lain yang tampak “sempurna” sering memicu perbandingan yang tidak sehat.
Generasi muda jadi lebih sering mempertanyakan diri sendiri: “Kenapa aku belum seperti mereka?” atau “Apa aku tertinggal?” Pikiran seperti ini memperparah overthinking dan membuat seseorang merasa tidak cukup, meskipun sebenarnya sedang berada di jalur yang tepat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....