Rambut Rontok di Usia Muda Bukan Sekadar Faktor Keturunan
- 27 Mar 2026 22:12 WIB
- Sorong
RRI.CO.ID, Sorong,- Masalah kebotakan atau kerontokan rambut parah kini tidak lagi hanya dialami oleh mereka yang berusia lanjut. Fenomena rambut menipis hingga botak di usia produktif, yakni 20–30 tahun, semakin banyak ditemukan. Para ahli menyebutkan bahwa selain faktor genetik, gaya hidup modern dan tekanan psikologis memegang peran besar dalam mempercepat proses kerontokan.
Dikutip Halo Sehat, Dokter spesialis kulit dan kelamin, Dr. Sarah Devi, Sp.DV, menjelaskan bahwa kebotakan paling umum pada usia muda adalah androgenetic alopecia atau kebotakan pola pria. "Genetik memang faktor utama. Namun, yang sering luput adalah bahwa gen tersebut baru akan 'aktif' jika dipicu oleh faktor lain seperti ketidakseimbangan hormon, stres oksidatif, dan kebiasaan sehari-hari," ujarnya.
Menurut Dr. Sarah, di dalam tubuh terdapat hormon dihidrotestosteron (DHT) yang merupakan turunan dari testosteron. "Pada individu yang memiliki sensitivitas genetik, DHT akan menyerang folikel rambut, membuatnya mengecil dan akhirnya berhenti memproduksi rambut. Kadar DHT ini bisa meningkat akibat stres kronis, kurang tidur, atau konsumsi makanan tinggi gula dan lemak jenuh," paparnya.
Selain faktor hormonal, praktisi kesehatan rambut dari Trichology Institute Indonesia, Rizki Amalia, menyoroti maraknya gaya hidup high-stress di kalangan pekerja muda. "Banyak pasien saya yang masih berusia 25 tahun mengeluhkan rambut rontok berlebihan. Setelah ditelusuri, mereka mengalami telogen effluvium—kerontokan massal yang dipicu oleh stres fisik atau emosional berat, seperti tekanan pekerjaan, diet ekstrem, atau kurang tidur dalam waktu lama," ungkap Rizki.
Rizki menambahkan bahwa kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol juga menjadi faktor yang sering diabaikan. "Rokok mengandung zat yang menyebabkan vasokonstriksi atau penyempitan pembuluh darah. Akibatnya, aliran darah ke kulit kepala berkurang, folikel rambut kekurangan oksigen dan nutrisi, sehingga rambut mudah rontok dan sulit tumbuh kembali," jelasnya.
Dari sisi nutrisi, Dr. Sarah mengingatkan bahwa kekurangan zat besi, vitamin D, dan zinc menjadi penyebab signifikan kerontokan di usia muda. "Zaman sekarang banyak anak muda yang menjalani diet tidak seimbang atau mengandalkan makanan cepat saji. Defisiensi mikronutrien ini membuat siklus pertumbuhan rambut terganggu. Rambut menjadi rapuh dan mudah patah sebelum mencapai fase panjang," katanya.
Dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan rambut sejak dini, para pakar berharap generasi muda tidak ragu untuk mencari bantuan medis guna mencegah kebotakan permanen yang dapat memengaruhi kepercayaan diri dan kualitas hidup.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....