Bahaya Tersembunyi di Balik Cegukan: Kapan ‘Hiccups’ Berubah Jadi Ancaman Serius
- 27 Mar 2026 07:59 WIB
- Sorong
RRI.CO.ID, Sorong,- Apa yang Anda lakukan saat cegukan menyerang? Meneguk air putih, menarik napas dalam-dalam, atau menahan napas sambil membayangkan sesuatu yang mengagetkan? Kebanyakan orang menganggap cegukan sebagai keluhan sepele yang akan hilang dengan sendirinya.
Namun bagi sebagian orang, cegukan tak hanya datang dan pergi dalam hitungan menit. Bisa berlangsung berjam-jam, berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Dalam dunia medis, kondisi ini disebut cegukan persisten (persistent hiccups) jika berlangsung lebih dari 48 jam, dan cegukan intractable jika sudah berlangsung lebih dari satu bulan.
“Cegukan yang tidak kunjung berhenti bukan sekadar mengganggu aktivitas. Ia bisa menjadi ‘alarm’ yang menandakan adanya gangguan serius di dalam tubuh, mulai dari iritasi saraf frenikus hingga lesi di batang otak,” ujar dr. Andreas Pranata, Sp.N, spesialis neurologi dari RS Pusat Otak Nasional, dikutip Healthy.id.
Secara fisiologis, cegukan terjadi akibat kontraksi tiba-tiba dan tidak terkendali pada diafragma—otot utama yang memisahkan rongga dada dan perut. Kontraksi ini diikuti penutupan pita suara yang memicu suara “hik” yang khas.
Saraf frenikus dan saraf vagus berperan sebagai “kabel” yang menghubungkan diafragma dengan otak. Jika ada gangguan di sepanjang jalur saraf ini, atau jika ada tekanan, peradangan, atau tumor di area leher, dada, hingga otak, cegukan bisa menjadi kronis.
“Cegukan yang berlangsung lama sering kali dikaitkan dengan penyakit refluks asam lambung (GERD), stroke, tumor otak, meningitis, multiple sclerosis, bahkan efek samping kemoterapi,” jelas dr. Andreas.
Selain menjadi penanda penyakit serius, cegukan yang berkepanjangan juga menimbulkan bahaya sekunder yang tak kalah mengkhawatirkan. Pasien dengan cegukan intractable kerap mengalami:
· Gangguan tidur berat – Cegukan yang terus-menerus membuat tubuh tidak bisa beristirahat, berujung pada kelelahan ekstrem dan gangguan konsentrasi.
· Dehidrasi dan malnutrisi – Sulit makan dan minum karena setiap kali menelan, cegukan memicu risiko tersedak.
· Aspirasi pneumonia – Makanan atau cairan yang masuk ke saluran napas akibat cegukan dapat menyebabkan infeksi paru-paru serius.
· Gangguan irama jantung – Dalam kasus ekstrem, stres berulang pada diafragma dan sistem saraf otonom dapat memicu aritmia.
Sebuah laporan kasus yang dipublikasikan dalam Journal of Neurology & Stroke mencatat seorang pasien berusia 60 tahun yang mengalami cegukan selama 18 bulan. Setelah dilakukan pemeriksaan lanjutan, ditemukan lesi di medula oblongata—batang otak yang mengatur fungsi vital—akibat stroke kecil yang sebelumnya tidak terdiagnosis.
Di Indonesia, kesadaran untuk memeriksakan cegukan berkepanjangan masih sangat rendah. Banyak pasien baru datang ke rumah sakit setelah mengalami penurunan berat badan drastis atau sesak napas.
“Saya pernah menangani pasien yang sudah cegukan hampir dua minggu. Awalnya dia kira hanya masuk angin. Setelah MRI, ternyata ada tumor di daerah toraks yang menekan saraf frenikus,” kata dr. Raden Taufan, Sp.PD, internis dari salah satu rumah sakit di Jakarta.
Ia menambahkan bahwa faktor psikologis juga bisa memicu cegukan kronis. Stres berat, kecemasan, dan gangguan somatisasi dapat mengganggu koordinasi saraf yang mengatur diafragma.
Para ahli sepakat bahwa cegukan yang berlangsung lebih dari 48 jam, atau yang disertai gejala-gejala berikut, seharusnya segera mendapatkan evaluasi medis:
· Nyeri dada atau sesak napas
· Kesulitan menelan (disfagia)
· Muntah-muntah
· Demam tinggi
· Bicara pelo atau kelemahan anggota gerak (tanda stroke)
· Penurunan berat badan tanpa sebab jelas
Pemeriksaan yang biasanya dilakukan meliputi pemeriksaan neurologis, endoskopi saluran cerna, hingga pencitraan seperti CT-scan atau MRI untuk melihat kemungkinan kelainan struktural.
Masyarakat Indonesia memiliki beragam cara “tradisional” untuk menyembuhkan cegukan—dari menelan gula pasir kering, ditepuk-tepuk punggung, hingga disuruh minum sambil membalik gelas. Beberapa metode seperti menahan napas atau menekan bola mata sebenarnya memiliki dasar fisiologis karena dapat mempengaruhi saraf vagus, namun tidak semua aman dilakukan tanpa pengawasan.
“Menekan bola mata bisa memicu refleks oculocardiac yang memperlambat denyut jantung. Pada pasien dengan kondisi tertentu, ini bisa berbahaya,” peringatan dr. Andreas.
Pengobatan medis untuk cegukan persisten biasanya dimulai dengan obat-obatan seperti klorpromazin, metoklopramid, atau baklofen, yang bekerja menekan refleks cegukan. Jika ada penyebab mendasar seperti GERD atau tumor, maka pengobatan difokuskan pada penyebab utama.
Cegukan adalah mekanisme alami tubuh yang biasanya jinak. Namun ketika ia terus-menerus muncul tanpa henti, ia bukan lagi sekadar lelucon di meja makan atau pertanda perut kenyang. Cegukan bisa menjadi ‘teriakan’ tubuh yang menuntut perhatian medis serius.
“Semakin cepat penyebab cegukan kronis ditemukan, semakin besar peluang untuk mencegah komplikasi yang lebih berat,” tutup dr. Taufan.
Maka, lain kali Anda atau keluarga merasakan cegukan yang tak kunjung reda setelah dua hari, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter. Bisa jadi, itu adalah langkah awal menyelamatkan nyawa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....