Benarkah Sound Horeg Bisa Bikin Fungsi Otak Menurun? Ini Penjelasannya

  • 18 Sep 2026 06:22 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, Sorong Selatan – Sound horeg memang fenomenal, basnya bukan hanya terdengar jedag jedug, tapi kadang membuat dada ikut bergetar. Dalam sains masalahnya bukan saja iramanya tetapi berapa desibel suaranya, berapa lama dengarnya dan berapa sering terpaparnya.

Prof. Dr. rer. nat. Agustino Zulys, Msc (Guru Besar FMIPA UI) memberi penjelasan, artikel ilmiah mengungkapkan bahwa sound horeg dapat berada pada kisaran 120 – 140 desibel, padahal batas nyaman mendengar suara di bawah 85 desibel. Data WHO merekomendasikan pendengarana yang nyaman pada 80 desibel sekitar 40 jam per minggu.

Prof Zulys juga mengungkapkan, di dalam telinga ada struktur yang sangat halus bernama sel rambut bernama koklea. Paparan kebisingan berlebihan bisa merusak sel – sel koklea, akibatnya dapat terjadi kehilangan pendengaran. Masalahnya kerusakan berlangsung secara perlahan, telinga berdenging setelah acara bukan berarti itu hal yang normal, itu jutru warning dari tubuh kita.

Ia melanjutkan, literatur menunjukan gangguan pendengaran kronis bisa berpotensi penurunan fungsi otak, mengapa? Karena ketika pendengaran terganggu otak harus bekerja lebih keras memahami percakapan. Bayangkan guru menenrangkan pelajaran tetapi setiap tiga kata hanya terdengar satu kata.

Tetapi belum tentu sound horeg pasti bikin bodoh, belum ada penelitian primer di Indonesia yang secara spesifik membuktikan sound horeg menyebabkan penurunan fungsi otak.

Lalu apa solusinya, bukan mematikan kreatifitas masyarakat, yang diperlukan adalah sound engineering dan regulasi berbasis sains. Ukur tingkat desibel, batasi durasi, atur jarak speaker dari masyarakat, sediakan arena istirahat pendengaran dan lindungi terutama anak – anak serta kelompok rentan. Jadi tekhnologi audio boleh maju tetapi keselamatan manusia jangan mundur.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....