Benarkah AI Menghabiskan Banyak Air? Ini Penjelasannya

  • 14 Sep 2026 09:57 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, Sorong Selatan – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) tidak hanya menguras listrik, tapi juga air dalam jumlah besar. Laporan terbaru Perserikatan Bangsa – Bangsa memperingatkan bahwa ekspansi data center AI bisa berdampak serius pada ketersediaan air bersih global.

Menurut laporan United Nations University Institute for Water, Enviromental and Health (UNU – INWEH) yang dirilis 6 juni 2026, jejak air dari data center bertenaga AI pada 2030 bisa mencapai 9,3 triliun liter. Jumlah itu setara dengan kebutuhan air rumah tangga minimum 1 tahun untuk seluruh penduduk Afrika Sub Sahara. Dengan kata lain, kebutuhan air data center AI 2030 setara dengan kebutuhan domestic tahunan 1,3 milliar orang.

Menagap AI Boros Air?

Dilansir dari Reuters, Data center sistem perlu pendingin intesif agar server tidak panas, terutama di iklim tropis. Selain itu air juga dipakai untuk membangkitkan listrik dan memproduksi chip semikonduktor.

Konsultan energy Rystad Energy mencatat, pada 2025 data center di seluruh dunia sudah mengkonsumsi 222 miliar liter air untuk pendinginan. Tanpa langkah adaptasi, angka itu diproyeksi melonjak hampir 3 kali lipat menjadi 644 miliar liter pada 2030 mendatang.

Pada awal 2026, Nvidia dan Microsoft mengumumkan teknologi “ closed – loop cooling “. Sistem ini memompa cairan pendingin bersuhu 45 derajat Celcius langsung ke rak server, lalu didaur ulang terus tanpa perlu air baru.

Microsoft mengklaim sistem ini bisa memangkas konsumsi air hingga 90%. Nvidia bahkan menyebut tantangan konsumsi air di dalam data center pada dasarnya sudah terpecahkan.

Namun pakar keberlanjutan menilai solusi itu belum menyentuh akar masalah. Josh Parker, Chief Sustainabilitty Officer Nvidia, menyebut penghematan terjadi di dalam gedung. Sementara Techrunch menyoroti bahwa pengukuran Nvidia hanya menghitung air di dalam data center, dan mengabaikan air di luar.

Pakar lingkungan juga mengingatkan, jika data center terus mengandalkan bahan bakar fosil untuk listrik, maka penghematan air di gedung tidak akan berdampak besar terhadap jejak air keseluruhan.

Dampak Sosial

Masih dari laman Reuters, tekanan publik sudah terasa di AS. Beberapa komunitas menolak pembangunan data center baru karena bersaing dengan kebutuhan air warga. Di Coachella misalnya, satu data center AI diperkirakan butuh listrik setara 100.000 rumah dan volume air besar untuk pendingin.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....