Akademisi Soroti Darurat Literasi Digital di Indonesia Timur
- 29 Mei 2026 16:03 WIB
- Sorong
RRI.CO.ID, Sorong -Paparan konten negatif digital terhadap anak-anak dan remaja menjadi perhatian serius akademisi di wilayah Indonesia Timur.
Dosen Teknik Informatika UNAMIN Sorong, Teguh Hidayat menjelaskan seorang akademisi menyoroti tingginya angka paparan pornografi pada anak serta minimnya kesiapan literasi masyarakat menghadapi percepatan teknologi.
Menurut data yang disampaikan dalam wawancara tersebut, sekitar 3 juta konten negatif telah terdata dalam beberapa tahun terakhir.
Dari jumlah itu, sekitar 76,8 persen didominasi oleh konten judi online. Namun, persoalan yang dinilai lebih mengkhawatirkan adalah tingginya paparan pornografi terhadap anak-anak.
“Sebanyak 89 persen anak usia di atas lima tahun disebut sudah pernah terpapar konten pornografi. Konten-konten tersebut muncul melalui berbagai media digital, termasuk iklan dalam permainan daring yang dimainkan anak-anak,” ujarnya.
Taufik menjelaskan bahwa anak-anak di wilayah timur Indonesia kini memiliki akses internet yang sama cepatnya dengan wilayah Indonesia Barat.
Infrastruktur digital seperti internet berkecepatan tinggi hingga layanan satelit sudah menjangkau berbagai daerah, termasuk pulau-pulau terpencil.
“Teknologinya sudah cepat, bahkan di Papua dan wilayah kepulauan sudah menggunakan layanan internet satelit. Tetapi yang tertinggal adalah literasinya,” katanya.
Taufik Hidayat, menjelaskan bahwa ketimpangan literasi digital menjadi akar persoalan, dikarenakan masyarakat di Indonesia Timur mengalami keterlambatan literasi digital dibanding wilayah lain.
“Kalau teknologi berkembang sama cepatnya, literasinya justru tertinggal jauh. Banyak masyarakat mempraktikkan teknologi tanpa panduan,” jelasnya.
Ia mencontohkan bagaimana anak-anak lebih dulu mengenal konten hiburan dan pornografi sebelum memahami risiko serta dampaknya.
Paparan berulang terhadap konten tersebut dinilai dapat memicu perilaku adiktif hingga berujung pada tindak kriminal.
“Sekarang sumber masalah bukan hanya minuman keras. Konten pornografi yang diakses setiap hari melalui telepon genggam juga menjadi pemicu berbagai kasus kekerasan seksual,” ujarnya.
Selain itu, ia menyoroti maraknya modus penipuan berbasis teknologi seperti love scamming dan penyalahgunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Pelaku disebut menggunakan teknologi deepfake untuk memalsukan wajah maupun suara demi membangun kepercayaan korban.
“Pelaku bisa membuat identitas palsu, melakukan pendekatan melalui media sosial, lalu memanfaatkan korban untuk tujuan kejahatan,” katanya.
Ia menegaskan bahwa upaya penanganan tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah. Menurutnya, peningkatan literasi digital harus menjadi gerakan bersama, baik melalui sekolah, komunitas, maupun keluarga.
“Teknologi tidak bisa dihentikan. Yang harus dipercepat adalah kemampuan masyarakat memahami cara menggunakan teknologi dengan aman,” tutupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....