Garis Wallace: Batas Alam yang Membelah Dunia Satwa Nusantara

  • 16 Mei 2026 07:36 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, Sorong - Kepulauan Nusantara dikenal luas di dunia internasional sebagai salah satu kawasan megabiodiversitas terbesar. Namun, tidak banyak masyarakat yang menyadari bahwa secara biogeografis, Indonesia sebenarnya terbelah oleh sebuah batas alam rahasia yang memisahkan dua dunia satwa yang sepenuhnya berbeda. Sekat imajiner yang sangat termasyhur dalam dunia sains ini dikenal dengan nama Garis Wallace.

Garis Wallace merupakan sebuah garis khayal yang membentang dari utara ke selatan, memisahkan wilayah geografi hewan (fauna) bercorak Asia di bagian barat dengan fauna bercorak Australasia (peralihan dan Australia) di bagian timur. Batas geografi purba ini dinamai sesuai dengan penemunya, Alfred Russel Wallace, seorang penjelajah, ahli biologi, dan naturalis legendaris asal Britania Raya.

Saat menjelajahi Kepulauan Nusantara antara tahun 1854 hingga 1862, Wallace menyadari adanya perbedaan jenis satwa yang sangat mencolok di pulau-pulau yang jaraknya saling berdekatan, khususnya saat ia menyeberangi selat sempit di wilayah selatan Indonesia.

Secara astronomis dan geografis, garis pembatas ini memotong jalur laut di Selat Makassar—yang menjadi sekat antara Pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi—kemudian menerus ke arah selatan membelah Selat Lombok, yang memisahkan Pulau Bali di sisi barat dan Pulau Lombok di sisi timur. Meski jarak antara Bali dan Lombok hanya berkisar 35 kilometer, karakteristik fauna di kedua pulau ini bagaikan dua benua yang berbeda jauh.

Dampak Garis Wallace: Pembagian Tiga Zona Fauna Indonesia

Adanya Garis Wallace ini menjadi dasar ilmiah mengapa karakter hidupan liar di tanah air terbagi secara kontras. Berkat studi mendalam tersebut, wilayah zoogeografi Indonesia kini dipetakan menjadi tiga zona utama:

Wilayah Barat (Asiatis / Oriental): Mencakup pulau-pulau besar seperti Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Bali. Di zona ini, ekosistem didominasi oleh mamalia plasental berukuran besar seperti Gajah Sumatra, Harimau, Badak, dan berbagai jenis kera besar seperti Orangutan. Burung-burung di kawasan ini umumnya memiliki kicauan yang merdu dengan warna bulu yang cenderung konservatif.

Wilayah Peralihan (Wallacea): Kawasan unik yang berada tepat di sebelah timur Garis Wallace, meliputi Pulau Sulawesi, Kepulauan Maluku, dan Nusa Tenggara. Karena pulau-pulau di zona ini terisolasi dari pengaruh benua Asia maupun Australia selama jutaan tahun, satwa di kawasan Wallacea bersifat endemik—hanya ada di wilayah tersebut dan tidak ditemukan di belahan bumi mana pun. Contoh ikoniknya adalah Komodo, Anoa, Babirusa, dan Burung Maleo.

Wilayah Timur (Australis): Terletak di sebelah timur kawasan peralihan (yang dibatasi oleh garis kelanjutan bernama Garis Weber), mencakup Pulau Papua dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Karakter satwa di sini berkerabat dekat dengan benua Australia, ditandai dengan keberadaan mamalia berkantung (marsupial) seperti Kanguru Pohon dan Walabi, serta dominasi burung-burung eksotis berbulu indah seperti Cenderawasih dan Kakatua.

Sejarah Geologi di Balik Terbentuknya Sekat Alam

Perbedaan fauna yang sangat radikal ini tidak terjadi secara kebetulan, melainkan dipicu oleh dinamika pergerakan lempeng bumi dan perubahan iklim global masa lampau. Pada Zaman Es (Pleistosen), ketika permukaan air laut bumi menyusut hingga ratusan meter, wilayah barat Indonesia menyatu dengan daratan utama benua Asia dalam satu benua landas kontinen yang disebut Paparan Sunda. Hal serupa terjadi di timur, di mana Pulau Papua menyatu erat dengan daratan Australia yang disebut Paparan Sahul.

Di antara kedua paparan raksasa tersebut, terdapat palung laut dalam yang sangat curam, tepatnya di lokasi Selat Makassar dan Selat Lombok saat ini. Palung laut dalam ini tetap terisi air laut dan tidak pernah mengering, bahkan ketika Zaman Es mencapai puncaknya. Kondisi inilah yang menjadi benteng hidrologis alami tidak tertembus, mencegah mamalia darat dari Asia untuk menyeberang ke timur, sekaligus mengisolasi wilayah tengah Indonesia hingga melahirkan keanekaragaman hayati yang tiada duanya di dunia.

Bagi masyarakat di wilayah Timur Indonesia, khususnya di wilayah Papua Barat Daya, pemahaman mengenai batas zoogeografi ini menjadi sangat penting sebagai fondasi utama dalam upaya konservasi alam, perlindungan satwa endemik, serta pengembangan ilmu pengetahuan berbasis kearifan lokal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....